SpongeBob SquarePants
Showing posts with label Nilai Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Nilai Kehidupan. Show all posts

Saturday, 22 August 2015

Cinta Beda Agama

Cinta yang paling menyakitkan ialah cinta yang terdapat perbedaan di dalamnya. Perbedaan yang jelas terlihat, yang jelas dapat dirasakan. Perbedaan agama. Banyak orang-orang yang menjalin hubungan di tengah perbedaan agama. Termasuk saya, beberapa kali saya menjalani hubungan beda agama. Menurut saya, memang menyakitkan ketika mencintai seseorang yang kita tahu bahwa sulit untuk kita menjadi bersama. Perbedaan agama adalah perbedaan yang menurut saya paling sulit untuk disatukan. Keyakinan hidup mendasar yang berbeda tentunya menjadi pertimbangan khusus jika ingin membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius.

Mungkin ada orang-orang yang akhirnya mengalah soal agama demi dapat bersama dengan orang yang dicintainya. Ada juga yang terus bertanya-tanya “Kenapa harus dipertemukan dengan dia yang jelas-jelas berbeda?” atau “Kenapa kami dipertemukan padahal kami berbeda? Kenapa kami bisa menjalani hubungan ini? Pasti ada maksud lain yang diberikan oleh Tuhan YME”, jujur saja pertanyaan kedua ialah pertanyaan yang sering saya ucapkan ketika saya menjalani hubungan beda agama. Saya merasa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya adalah sesuatu yang memang sudah dituliskan oleh Yang Maha Kuasa, termasuk cinta beda agama yang harus saya jalani sekian tahun lamanya.

Banyak pihak yang merasa saya salah mengambil keputusan setiap kali memutuskan berhubungan dengan seseorang yang berbeda agama dengan saya. Banyak cercaan yang saya terima, banyak kritikan dan protes yang ditujukan kepada saya, banyak yang menyayangkan bagian cerita hidup say a saat itu. Tapi apalah yang dapat mereka perbuat kalau saya dan cinta yang saya miliki lebih kuat dari segala perkataan miring tentang hidup saya saat itu.

Satu yang paling saya ingat, ada seseorang yang mengatakan bahwa saya hanya membuang-buang waktu saya saja dengan menjalankan hubungan yang tidak akan berujung indah. Berujung indah? Berujung bersama saja belum tentu, bagaimana bisa indah? Namun saat itu saya terus menguatkan diri saya, saya yakin segala sesuatunya pasti memiliki sisi positif, termasuk hubungan beda agama saya saat itu. Selama saya menjalani hubungan beda agama, saya merasa banyak hal-hal baru yang saya temui dan saya dapat mengambil nilai-nilai tertentu dari semua pengalaman saya kala itu. Maka dari itu, saya tidak merasa waktu saya terbuang sia-sia selama menjalani hubungan beda agama, selain itu juga saya dapat melakukan kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat bersama pasangan saya.

Hal yang paling membuat saya sedih saat menjalani hubungan beda agama ialah saat kami ingin menuliskan mimpi-mimpi masa depan bersama, terasa ada sesuatu yang mengganjal dan menjadi penghalang besar sehingga mimpi-mimpi kami sangat terbatas. Belum lagi kalau ditanya orangtua, rasanya sedih ketika harus menjawab bahwa pasangan yang ingin kita bawa ke orangtua adalah seseorang yang memiliki keyakinan berbeda.

Dalam hubungan beda agama juga tidak ada yang bisa menjamin atau memastikan akan berujung kebahagiaan. Toh hubungan yang dijalankan dengan kesamaan saja belum tentu berakhir bahagia. Dulu, saya kira omongan seperti itu hanyalah omong kosong, tapi ternyata memang benar.. cinta beda agama tidak berakhir bahagia. Itu juga yang dikatakan oleh ibu saya saat dia tau saya menjalani hubungan percintaan dengan seseorang berkeyakinan lain. Katanya saat itu “Yang namanya beda agama ya tetap beda. Susah lah kalau sudah menyangkut keyakinan/agama”

Dan saya sadar kalau perkataan ibu saya saat itu sangat benar. Mungkin perbedaan itu dapat disatukan, tapi harus dengan mengalah. Mengalah bukan dalam hal kecil, tapi dalam hal yang sangat besar. Mengalah dalam hal yang sangat mendasar namun bersifat selamanya. Siapa yang bisa mengganti kepercayaan seseorang pada Tuhannya?

Saya juga merasa adanya keegoisan apabila hubungan beda agama harus berakhir dengan perpindahan agama dari salah satu pihak. Dan saya yakin banyak pengorbanan dan perjuangan untuk mencapai tahap itu.


Sebagai seseorang yang telah beberapa kali menjalani kisah cinta beda agama, saya menyarankan untuk teman-teman yang masih memperjuangkan hubungannya untuk berpikir berulang kali. Egois sekali rasanya kalau harus berganti Tuhan demi memenangkan cinta. Mengalah saja untuk hal lainnya, mengalah lah dengan rasa egois itu sendiri, mengalahlah untuk melepaskannya. Melepaskan dia yang jelas-jelas berbeda dan menunggu seseorang dengan dasaran yang sama, yang sama tanpa harus melewati proses perubahan terlebih dahulu. Saya rasa akan berjalan dan berakhir lebih indah. Maaf apabila bahasan saya kali ini menyinggung perasaan kalian yang mengalami kisah yang pernah saya alami dulu. Tetap tersenyum dan berbahagialah. 

Thursday, 20 August 2015

Ibu vs Pacar?

Pacaran bukan lagi menjadi hal yang langka di tahun 2015. Walaupun ada ajaran agama yang melarangnya, hal tersebut masih tetap dijalankan. Dengan berbagai macam alasan, muda-mudi Indonesia tetap berpacaran yang tak jarang mengumbar kemesraan di depan umum. Namun, bukan hal itu yang ingin saya bahas kali ini. Topik yang ingin saya bahas kali ini ialah fenomena Ibu vs Pacar. Bukan tentang perbedaan pendapat atau perbedaan pandangan antara keduanya, melainkan adanya perbedaan bentuk kasih sayang yang diberikan seseorang terhadap ibunya dan pacarnya. 

Jujur, ini juga merupakan pengalaman nyata yang saya alami pribadi. Namun saya menulis ini sesaat setelah mendengar pendapat teman saya yang menurut saya juga dialami oleh banyak anak muda di luar sana. 

Dari hal kecil dan sederhana saja sudah dapat terlihat adanya perbedaan perlakuan dan bentuk kasih sayang yang diberikan seseorang terhadap ibu dan pacarnya. Demi pacar, kita rela melakukan apa saja, hingga bolos sekolah, kuliah, ataupun kerja. Tapi ketika ibu kita sakit, apa kita rela meninggalkan segala kegiatan demi menemani atau merawatnya walau sebentar? Saya rasa belum tentu. 

Ingin pergi sama pacar tapi dilarang orangtua? Pasti akan berusaha sekuat tenaga mencari alasan yang membuat kita dapat keluar dari rumah dan dapat berjumpa dengan sang pacar. Ujung-ujungnya, tega membohongi orangtua sendiri. Demi apa? Demi menemui seseorang yang belum tentu menjadi teman abadi.

Hal yang paling mudah dan paling nyata saya rasakan adalah disaat hari ulangtahun. Mungkin hal ini juga banyak dialami oleh anak-anak muda sebaya saya. Ketika pacar ulangtahun, rasanya ingin memberi ini itu sehingga si pacar bisa bahagia, ingin memberi sesuatu spesial yang dia inginkan, tak jarang hingga bersusah payah menabung agar dapat membelikan hadiah, susah-susah merencanakan surprise yang indah. Pokoknya benar-benar diniatkan dari jauh jauh hari. Tapi coba lihat saat ibu kita ulangtahun, belum tentu kita mau menabung untuk beliau. Kalau ditanya kenapa nggak memberi hadiah, jawabannya "Nanti aja kalo udah kerja", nah kenapa kalau memberi hadiah ke ibu harus menunggu sudah kerja kalau memberi hadiah ke pacar saja bisa. Apa pacar jauh lebih penting dan berarti dari seorang ibu?

Jadi, kita lebih menghargai pacar yang sering membuat kita menangis daripada menghargai ibu yang berusaha sekuat tenaga agar tidak melihat kita menangis?

Lebih mau menabung untuk membelikan kado pacar daripada membelikan kado untuk ibu? Jujur, saya dulu juga begitu, hingga suatu waktu saya berpikir "Selama ini gue nabung, usaha ini itu buat ngasih kado ke pacar, sementara sekali pun belum pernah ngasih kado ke mama", sejak saat itu saya berusaha untuk nabung supaya bisa kasih kado ke ibu saya. Walaupun sebenarnya ibu saya juga nggak minta karena beliau tau saya belum kerja. Tapi saya berpikir, "seenggaknya gue kasih kado ke mama dulu, baru ke pacar. Masa iya sok-sok an ngasih kado ke pacar padahal ngasih kado ke mama aja enggak"

Sebenarnya tujuan saya menuliskan hal ini hanya ingin membantu menyadarkan teman-teman yang masih rela membelikan kado untuk pacar, tapi melupakan hal itu untuk ibu. Bukan ingin menggurui, hanya ingin mengajak sama-sama belajar mengharga ibu dari hal yang paling sederhana. Hanya ingin mengajak teman-teman untuk kembali berpikir 

"Ngasih kado ke orang yang suka bikin sedih, bikin galau, dan belum pasti nikah aja bisa.. masa ngasih kado ke orang yang selalu mau ngebahagiain kita gimana pun caranya, dan Inshaa Allah dipisahkan oleh maut nggak bisa? Bukan nggak bisa.. tapi nggak mau. Buktinya, nabung buat pacar aja kan bisa, berarti harusnya buat ibu juga bisa dong? Ini cuma hal kecil, bentuk perhatian dan kasih sayang yang paling nyata. Yuk sama sama renungkan dan merubah diri"


Monday, 10 August 2015

Selinting Rokok Dengan Sejuta Bahaya

   Rokok adalah sebuah silinder dari kertas, berukuran panjang dan berisi daun-daun tembakau yang sudah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya. Namun saat ini rokok memiliki pengertian yang berbeda. Saat ini rokok dinilai sebagai benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan pada penggunanya. Rokok tidak memiliki kelebihan yang berarti bahkan tidak memberikan keuntungan bagi konsumennya, rokok hanya memberi keuntungan pada produsennya saja. Di balik kegunaan rokok yang sangat sedikit itu, terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok (perokok aktif) maupun orang-orang di sekitar perokok yang bukan perokok (perokok pasif).
             Konsumen biasanya merokok dalam jangka waktu yang lama karena kecanduan, namun bukan hanya karena kandungan nikotin yang terdapat di dalamnya, tapi juga karena faktor lain, misalnya faktor sosial, ini adalah faktor terbesar yang mempengaruhi kebiasaan merokok seseorang yang bukan perokok, bila hidup atau bekerja bersama dengan seorang perokok secara otomatis salah satunya akan terpengaruh. Seseorang yang bukan perokok dapat mulai mencoba merokok. Kedua, kebutuhan menghisap dan mengunyah. Kebutuhan berkurang dan hilang, tapi pada beberapa orang masih ada sampai dewasa. Beberapa orang menggunakan rokok atau perangkat merokok dan asap sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ini. Ketiga respon mengulang otomatis ketika seseorang telah melakukan sesuatu berkali-kali dan cukup sering, maka akan tercipta pola pengulangan perilaku tertentu secara otomatis. Hal ini terutama berlaku jika tindakan tertentu dilakukan dalam situasi yang tidak menyenangkan, yang memberikan efek membuat seseorang merasa lebih aman dalam kehidupan sehari-hari dan rutinitas. Pola pengulangan otomatis inilah yang menjadi komponen utama dalam kebiasaan merokok.
            Pada zaman dahulu, rokok biasa dikonsumsi oleh laki-laki dewasa. Karena, rokok dianggap sebagai sesuatu yang bisa membuat seorang laki-laki merasa lebih jantan. Namun, di era modern saat ini, rokok tidak hanya dikonsumsi oleh laki-laki dewasa, melainkan juga para wanita dewasa serta para remaja. Karena rokok diperjualbelikan dengan bebas dan dapat diperoleh dengan mudah, maka para remaja yang berusia di bawah tujuh belas tahun pun dapat mengonsumsinya. Bahkan merokok di kalangan remaja saat ini sudah menjadi hal yang biasa dan trend yang tidak asing lagi.
              Tidak dapat dipungkiri bahwa rokok memiliki dampak negatif terhadap tubuh, terhadap orang lain bahkan terhadap ekonomi. Kerugian yang ditimbulkan rokok terhadap tubuh sendiri antara lain, pertama, asap rokok yang mengandung kurang lebih 4000 bahan kimia yang 200 di antaranya beracun dan 43 jenis lainnya dapat menyebabkan kanker bagi tubuh. Kedua, seseorang yang mencoba merokok biasanya akan ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit dilepaskan dalam kondisi apapun. Dengan demikian, semakin banyak pula racun yang masuk ke tubuh.
           Sementara bagi orang lain yang beradadi sekitar perokok juga akan terkena dampak negatifnya, yaitu asap rokok yang ikut terhirup olehnya. Asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan pengiritasi mata dan pernapasan. Berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa rokok juga memberi dampak negatif pada orang-orang yang hanya menghirup asap rokok dengan tidak sengaja. Sedangkan terhadap ekonomi, rokok juga mempunyai dampak negatif. Harga rokok yang mahal akan sangat memberatkan orang yang tergolong miskin, sehingga dana kesejahteraan dan kesehatan keluarganya sering dialihkan untuk membeli rokok.
          Namun, tetap ada jalan bagi yang berniat untuk meninggalkan kebiasaan merokok.pertama, niat dan kesempatan. Kedua, kurangi jumlah rokok yang dihisap. Ini adakag tahap awal bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin meninggalkan kebiasaan merokok. Ketiga, membaca artikel tentang bahaya merokok, sehingga dapat memahami bahaya merokok yang sesungguhnya. Keempat, mencari tempat bebas asap rokok. Kelima, menjadi orang super sibuk, dengan kesibukan yang ada kebiasaan merokok pun bisa menjadi terlupakan. Kelima, konsumsilah buah-buahan. Salah satunya buah pisang, karena buah itu dapat menghilangkan rasa pusing karena kecanduan. Keenam, nasihat untuk diri sendiri. Ketujuh, meminta dukungan keluarga dan orang lain. Ini juga menjadi poin terpenting yang akan sangat berguna membangkitkan semangat agar terlepas dari kebiasaan merokok.
       Berdasarkan fakta-fakta yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa merokok merupakan kegiatan yang kurang bermanfaat yang dilakukan manusia yang mengorbankan uang, kesehatan, kehidupan sosial, pahala dan sebagainya. Maka, sebisa mungkin jauhilah kebiasaan buruk ini, dan bagi yang sudah terlanjur mengonsumsinya, belum terlambat untuk meninggalkan kebiasaan buruk ini, asalkan ada niat dan kesungguhan pasti dapat terlepas dari jeratan rokok yang membahayakan.

Reason

Ketika ada pepatah mengatakan 
"Everything happens for a reason" 
namun di sisi lain ada yang menyuarakan 
"Tak perlu satu alasan pun untukmu mencintai seseorang"

Lalu???

Tak perlu bingung. :) Keduanya memang benar. Segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Termasuk dengan hadirnya cinta di antara dua insan. 

Kehadiran cinta terjadi untuk suatu alasan tanpa membutuhkan alasan untuk menghadirkannya

Sunday, 29 June 2014

Air Mata Wanita


Berhati-hatilah jika kau membuat seorang wanita menangis, karena Allah menghitung air matanya.
Wanita diciptakan dari tulang-tulang rusuk pria.
Bukan dari kakinya untuk diinjak, bukan dari kepalanya untuk ditinggikan.
Tapi dari sisinya untuk bersama dengannya, di bawah lengannya untuk dilindunginya
dan dekat dengan jantungnya untuk dicintai olehnya.


Kalimat di atas adalah salah satu kalimat terbaik yang dirasa benar oleh banyak wanita di muka bumi ini. Wanita memang ciptaan Allah yang paling mudah meneteskan air mata, mengapa? Sebabnya, perasaan seorang wanita sangatlah peka karena Allah menciptakannya dengan 9 perasaan dan 1 akal, maka mereka selalu mengutamakan perasaannya ketika ia mendapat sebuah masalah. Maka wajarlah bila seorang wanita mudah menangis dalam menghadapi permasalahan dalam hidup. Tak jarang juga mereka menangis karena rasa kecewa yang timbul karena perilaku seorang laki-laki. Dalam percintaan misalnya, beberapa wanita mudah meneteskan air mata demi menangisi orang yang dicintainya. Menyedihkan memang karena air mata itu dapat dikatakan terbuang sia-sia untuk seseorang yang belum tentu mau meneteskan air matanya untuk kami, para wanita. Namun, mungkin menangis itu memang sudah menjadi sifat yang melekat pada diri setiap wanita. Kami menangis bukan karena kami lemah, tapi memang begitulah cara terbaik bagi kami untuk mengeluarkan semua perasaan dan emosi yang ada. 

Namun, tahukah kalian para laki-laki, bahwa ketika kalian membuat seorang wanita menangis (siapapun itu) akan ada hukuman atau balasan tersendiri bagi kalian? Ternyata, air mata wanita dan isak tangis mereka bukanlah suatu hal yang sepele dan tak ada artinya. Wanita adalah ciptaan Allah yang sangat amat berarti, apalagi air mata mereka. Dapat dipahami melalui cerita sederhana di bawah ini. 

Suatu hari, ada seorang laki-laki berdoa di tengah perasaan marahnya. Dia merasa kesal sebab pasangannya seringkali menangis di setiap perdebatannya. Karena tak mau semakin emosi, dia pun sujud dan berdoa pada Allah SWT. Dia bertanya, "Ya Allah, mengapa wanita seringkali menangis? Aku bosan dan jenuh melihat dan mendengarnya," keluh pria itu. 

Jawab Tuhan kepadanya:“Karena wanita itu unik. AKU menciptakannya tidak sama seperti kamu. Ia adalah makhluk yang istimewa. KU kuatkan bahunya untuk menjaga anak-anakmu kelak. KU lembutkan hatinya untuk memberimu rasa aman. KU kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia. KU teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah. KU beri naluri untuk tetap menyayangi walau dikhianati dan disakiti oleh orang yang disayangi. KU hembuskan kasih sayang agar ia bisa mencurahimu dengan perhatian. KU buat matanya lentik karena ia akan menjadi jendela kedamaian. KU buat senyumnya merekah seperti mahkota bunga untuk membuatmu tetap mengingat indahnya dunia. KU buat tangannya terampil untuk menjagamu agar tak pernah kekurangan. Tapi jika suatu saat ia menangis…Itu karena AKU memberikannya air mata untuk membasuh luka batin dan memberikan kekuatan yang baru. Bukanlah sebuah tanda kelemahan dan kekalahan.”


Dari cerita di atas, dapat terlihat bahwa air mata wanita bukanlah air mata kelemahan dan kekalahan, melainkan sebuah kekuatannya untuk membasuh luka batin dan menggantinya dengan kekuatan yang baru.
Itu artinya, wanita yang menangis bukanlah wanita yang lemah melainkan wanita yang kuat dan tegar, karena ia rela menangis demi mengganti itu semua dengan kekuatan yang baru. Namun bagi kalian para laki-laki, masih tegakah kalian membuat hati lembut kami terluka dan melihat kami meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Saya yakin, kalian laki-laki pasti pernah membuat seorang wanita menangis baik sengaja ataupun tidak, baik itu kepada Ibu, istri, kekasih ataupun saudara perempuan kalian. Ingatlah, mereka tetaplah seorang wanita yang memiliki air mata yang berharga dan harus dijaga setiap tetesnya. Semoga tulisan kali ini dapat membawa berkah. Aamiiin ya Rabb.

Source :
http://blognyafitri.wordpress.com
http://safamariah.blogspot.com

Wednesday, 30 January 2013

Tanda tanya

Banyak hal yang ingin kupertanyakan
Keadilan, kejelasan, kesungguhan
Hal-hal sederhana seperti itu
Melahirkan tanda tanya besar
Tak cukup nyaliku untuk mengutarakannya
Aku tak memiliki keberanian
Menyuarakan itu dengan lantang
Pengecutkah diriku?
Penakutkah jiwaku?
Lihatlah, lagi-lagi...
Tanda tanya yang tertera di akhirnya
Banyak hal yang kuragukan
Banyak hal yang tak kumengerti
Hingga malam ini, banyak terlahir tanda tanya baru
Menanti jawaban entah dari siapa
Teruslah berkembang biak "tanda tanya"ku
Hingga suatu saat semua kelak terjawabkan

Tuesday, 29 January 2013

Suara Sahabat


Hidup tanpa kasih sayang seorang ayah memang tak mudah. Kehilangan dalam suatu peristiwa disaat belum siap untuk menghadapinya hanya akan membuat luka. Seorang sahabat bercerita. "Aku sayaaaaaang sekali sama ayahku..", aku menatapnya lekat-lekat. "Dia pahlawan terhebatku", tatapannya penuh kasih sayang, menerawang jauh menembus langit biru. Kisah hidupnya yang tak mudah, membuatku memandangnya tegar. "Tetap tersenyum ya..", aku merangkul bahunya. "Apa dia juga menyayangiku?", pertanyaannya membuatku terbelalak. "Tentu saja, kenapa kau menanyakannya lagi?", "Karena aku ragu", "Kenapa kau ragu?", "Aku tak melihatnya disaat dia akan meninggalkan dunia ini, aku tak mendengar suaranya berbulan-bulan sebelum ia pergi selamanya, aku kehilangan kasih sayangnya selama bertahun-tahun. Bagaimana mungkin aku bisa tau bahwa ia menyayangiku?", ratapan pedih terpancar dari wajahnya. "Aku tak mendengar suaranya ketika ia bilang sayang padaku.", aku tak bisa berkata. "Aku rindu. Sangat rindu. Siapa yang bisa mempertemukanku dengannya? Siapa yang bisa menyampaikan kerinduanku padanya?", "Tuhan", jawabku tanpa ragu. "Berdoalah, memohonlah, sampaikan segala kerinduanmu untuk ayahmu", "Tak terbayarkan", jawabnya lagi. "Tapi akan mengurangi bebanmu. Percayalah".
 
Dari kisah nyata di atas, aku ingin teman-teman semua menghargai sosok ayah yang kita punya. Jangan pernah sekali kali membencinya, ingatlah masih banyak orang di luar sana yang memiliki jutaan rindu yang tak pernah terbayarkan. Masih banyak orang di luar sana yang haus akan kasih sayang ayah mereka. Selagi ada waktu untuk menyayangi yang masih kita punya, sayangilah. Terlebih beliau orangtua kita. Karena kita tak akan pernah tau, kapan mereka akan pergi meninggalkan dunia ini selama-lamanya.


Monday, 21 January 2013

Menguak Kerinduan


Sepi. Sendiri. Kosong. Kerinduan.

Seseorang berkata "Aku benci kesepian", yang lain menambahi "Aku benci kesendirian", suara lain berkata "Aku benci kekosongan", sesuatu yang berbeda terucap "Aku suka kerinduan".

"Bagaimana bisa kau menyukai sesuatu bernama kerinduan?", "Bukankah itu menyiksa?", "Bukankah itu hanya akan membuka lembar lama?", "Tapi itu indah", "Bagaimana mungkin sesuatu yang menyiksa kau katakan indah?", "Dengan kerinduan, kau bisa berangan-angan tentang masa lalumu itu yang telah membawa kehidupanmu sampai detik ini", "Kerinduan akan masa lalu? Benci aku mendengarnya", "Tapi aku suka merindu", "Merindu dipenuhi khayalan", "Walaupun tak selalu indah yang kukhayalkan", "Oke. Aku suka kerinduan", "Kau hanya mencoba untuk menyukainya, kawan..", "Lalu, bagaimana aku bisa merindu?", "Semua itu bisa dibuat", "Semudah itu?", "Tinggalkan hatimu sendiri, tinggalkan dirimu berdua dengan bayanganmu", "Kesendirian? Haruskah dengan itu?", "Namun itu yang kuyakini", "Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?", "Kau bisa memejamkan matamu, rasakan setiap udara yang membelai kulitmu", "Kesepian", "Aku tau kau merasakan itu", "Tujuanmu?", "Membawamu ke masa lalu", "Ya, masa laluku yang selalu kurindukan", "Anggap saja kau masuk lagi ke dunia itu", "Membawa kerinduan yang tak mungkin tersampaikan?", "Setidaknya semua akan terasa lebih tenang", "Lega?", "Itu yang kuharapkan", "Rindu tak membawa beban?", "Melepas beban", "Jika ada tetesan membasahi pipi?", "Sebuah bentuk kelegaan", "Berbesar hati", "Berlapang dada", "Membiarkan mereka tetap berlalu", "Mengihklaskan apa yang terlewatkan", "Kerinduan tak membuatmu tersiksa", "Memotivasi", "Lakukan yang terbaik untuk kedepannya", "Suatu saat akan kubuat sesuatu", "Yang akan jauh lebih indah untuk kau rindukan"

Saturday, 12 January 2013

Reason

Ketika ada pepatah mengatakan 
"Everything happens for a reason" 
namun di sisi lain ada yang menyuarakan 
"Tak perlu satu alasan pun untukmu mencintai seseorang"

Lalu???

Tak perlu bingung. :) Keduanya memang benar. Segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Termasuk dengan hadirnya cinta di antara dua insan. 

Kehadiran cinta terjadi untuk suatu alasan tanpa membutuhkan alasan untuk menghadirkannya

Sunday, 14 October 2012

Darimu


Darimu, aku belajar banyak hal. Darimu, aku belajar banyak hal. Darimu, aku belajar banyak hal.

Darimu, aku belajar banyak hal. Darimu, aku belajar tentang keyakinan. Darimu, aku belajar tentang kepercayaan. Darimu, aku belajar tentang arti kehidupan. Darimu, aku belajar tentang kedewasaan. Darimu, aku belajar tentang menentukan pilihan. Darimu, aku belajar untuk selalu siap menerima konsekuensi dari pilihanku sendiri. Darimu, aku belajar untuk mengerti bahwa setiap orang memiliki pilihan masing-masing. Darimu, aku belajar bahwa sesungguhnya setiap orang bebas memilih. Darimu, aku belajar untuk tidak melupakan masa lalu. Darimu, aku belajar untuk tidak melupakan orang-orang yang pernah memberi warna di kehidupan, sekalipun warna hitam yang diberikan. Darimu, aku belajar untuk yakin pada satu pilihan. Darimu, aku belajar untuk tidak mudah tergoda. Darimu, aku belajar untuk lebih tegar. Darimu, aku belajar untuk memaafkan orang lain. Darimu, aku belajar bagaimana caranya melepas. Darimu, aku belajar berbesar hati. Darimu, aku belajar untuk ikhlas. Mungkin engkau tidak pernah menyadari bahwa aku telah mencuri banyak ilmu darimu secara diam-diam. Sosok mu yang begitu istimewa memaksaku untuk terus belajar banyak hal dari dirimu, walau tak pernah kau ketahui.

Darimu juga, aku belajar untuk tidak memaksakan diri memendam sesuatu. Tapi.. sayang sekali, aku belum berhasil menerapkan ilmu yang satu ini. Masih terlalu sulit untukku saat ini. Oya, masih ada beberapa ilmu yang kucuri darimu. Namun, kurasa ini tidak terlalu membahagiakan. 

Darimu, aku belajar arti cinta yang sesungguhnya. Darimu, aku belajar memberi tanpa harus menerima. Darimu, aku belajar mengagumi tanpa harus mengatakan. Darimu, aku belajar untuk sabar menunggu. Darimu, aku belajar untuk tidak terlalu berharap. Darimu juga, aku belajar mencintai tanpa pernah menyatakan.

Saturday, 6 October 2012

Semuanya..... Sia-sia

"Ada saatnya dimana kamu mengasihani dirimu sendiri, di saat apa yang kamu perjuangkan, sia sia....."

Sepertinya pepatah di atas memang benar adanya. Terbukti dari beberapa kisah yang akan aku tuliskan di bawah ini. Sepenggal kisah yang membuktikan bahwa beberapa hal yang di perjuangkan bisa saja hanya menjadi sia-sia. 

Kisah 1:
Menjalin kasih di atas sebuah perbedaan memang tidak mudah, sangat tidak mudah. Tapi, bukan berarti tidak bisa dilalui. Banyak yang mampu melewatinya sampai batas akhir dan berakhir dengan indah serta kebahagiaan. Namun, takdir setiap insan memang berbeda. Seperti apa yang dialami oleh "mereka" berdua. Bertahun-tahun dilalui bersama. Sedih, senang, tangis, tawa, terluka, bahagia, mereka tetap bersama. Walau mereka sadar, mereka berdiri di atas sebuah perbedaan dan ketidakpastian. Mereka tidak peduli, mereka tetap menjalani hari-hari mereka dengan cinta. Berjuang bersama. Mencoba melawan dunia, mencari kemenangan bersama. Membangun mimpi indah bersama dengan harapan semua akan terwujud atas seizin yang Maha Kuasa. Namun, apa boleh buat. Salah satu pihak terlihat mulai goyah. Mulai melemah lantas menyerah. Perjuangan yang mulai rapuh. Kenangan akan tahun-tahun yang pernah dilalui bersama terpaksa dihapuskan. Mimpi-mimpi besar nan indah terpaksa di lupakan. Berpisah. Sungguh, perjuangan yang sia-sia. 

Kisah 2:
Kehadiran seseorang di tengah tengah perjalanan sepasang kekasih memang berakibat fatal. Apalagi bila salah satu di antara sepasang kekasih ini mudah tergoda. Seperti kisah yang satu ini. 
Berawal dari perkenalan biasa antara tokoh A dan C. B yang tidak mengetahui apa-apa, sama sekali tidak merasa curiga. Tokoh A dan C berteman seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang menimbulkan kejanggalan ataupun kecurigaan. Namun seiring berjalannya waktu, ada sebuah masalah besar yang dialami oleh tokoh A dan B. Tokoh A merasa jenuh. Jenuh dengan keadaan yang ada dan jenuh akan kehadiran tokoh B. Tanpa disadari, tokoh A dan C menjalin komunikasi yang rutin. Komunikasi yang bisa dibilang mulai lebih dari sekadar teman biasa. Tokoh A pun kini mulai terlihat ceria dan melupakan masalah besarnya bersama tokoh B. Semua itu karena kehadiran tokoh C. Kehadirannya membuat tokoh A merasa semuanya menjadi lebih baik. Muncullah sebuah perasaan yang dinamakan 'cinta'. Mungkin bisa dibilang 'cinta terlarang', karena kondisi saat itu tokoh A masih memiliki hubungan dengan tokoh C. Segala pertimbangan pun dilakukan oleh tokoh A. Dia ingin memilih, antara tokoh B atau tokoh C. Dengan keyakinan penuh, dia memilih tokoh C dan memperjuangkan 'cinta terlarang'nya itu. Hari-hari berikutnya pun dilewati tokoh A bersama tokoh C. Tokoh A merasa dia memilih dengan tepat, mengambil keputusan yang tepat. Namun ternyata, suatu hari dia menyadari bahwa pilihannya salah besar. Tokoh C kini meninggalkannya. Meninggalkan tokoh A dan memilih orang lain. Tokoh A merasa benar-benar kecewa dan sedih. Dia memperjuangkan seseorang yang sesungguhnya tak pernah ingin diperjuangkan apalagi memperjuangkan dirinya. Sungguh, perjuangan yang teramat sia-sia.

Kisah 3:
Dihadapkan dengan dua pilihan itu memang sulit. Terlalu sulit untuk seseorang di dalam kisah ini. Seseorang yang harus memilih salah satu di antara dua yang ada. Memilih satu orang untuk diperjuangkan. Memilih antara A dan B. Keduanya memiliki peluang yang sama. Keduanya memberikan perhatian yang sama. Membuat dirinya semakin sulit untuk memilih. Namun, ada satu kelebihan yang dimiliki dari tokoh B. Kelebihan yang membuat seseorang ini merasa lebih tertarik pada tokoh B. Walaupun sesungguhnya ia memiliki perasaan yang sama terhadap keduanya. Dia merasa dia tetap harus memilih. Dengan keyakinan penuh, dia memilih tokoh B. Memperjuangkan tokoh B dan melupakan tokoh A. Tetapi, amat sangat terkejut dirinya ketika dia merasa tokoh B mulai mkenghindarinya. Mengurangi komunikasi di antara mereka. Terlebih mengejutkan lagi ketika seseorang ini mulai menyadari kedekatan tokoh B dengan sahabatnya sendiri. Dia merasa sedih dan memutuskan untuk mengalah. Dia mengalah demi sahabatnya, dan ia merasa perjuangannya sia-sia.

Thursday, 4 October 2012

Dalam Diam :')


Dalam diam, aku tersenyum
Dalam diam, aku menangis
Dalam diam, aku tertawa
Dalam diam, aku terluka

Dalam diam, ku cari dirimu
Dalam diam, ku telusuri tentangmu 
Dalam diam, ku kagumi dirimu
Dalam diam, ku berharap padamu

Kutulis puisi itu pada selembar kertas. Sepenggal puisi yang memiliki arti mendalam bagiku. Semenjak pertemuanku dengannya, aku merasa ada yang berbeda. Sempat kutahan perasaan ini, berusaha menghindarinya. Namun aku salah, semakin aku berusaha menghindar, semakin aku berusaha untuk lari dari perasaan ini, semakin kencang pula aku diburu olehnya. Dikejar oleh perasaan yang sesungguhnya tak ingin aku akui. Perasaan yang seakan-akan ingin tinggal di dalam hatiku. Menjadikan hatiku sebagai tempat peristirahatannya.

Kini, aku mengalah dengan perasaan ini. Aku membiarkannya masuk. Aku membiarkannya tinggal sementara di hatiku. Tanpa sadar, kalau ini bisa saja untuk selamanya. Namun, kenapa disaat semua ini baru saja terjadi, aku menerima sebuah kenyataan yang sedikit memilukan. Agak pahit terasa. Sahabatku memiliki perasaan yang sama kepada orang yang sama pula. Bahkan ternyata, dia telah lama memendam perasaan itu. Aku merasa terkejut, merasa bersalah, merasa serba salah. Keraguan dan kebimbangan mulai muncul. Terlebih lagi setiap aku mendengarkan cerita tentang mereka. Sahabatku merasa begitu senang ketika bercerita tentang kedekatan mereka. Tergambar jelas raut kebahagiaan di wajahnya. Sebagai sahabat yang baik, aku tak mau melukai perasaannya. Aku berpura pura turut senang dalam ceritanya. Tertawa sambil menatap binar matanya yang memancarkan kebahagiaan, semburat senyumnya pun memaksaku untuk ikut tersenyum, walau sesungguhnya jauh di dalam hatiku telah tercipta sebuah luka. Kali ini, aku tidak lagi mengalah pada perasaanku. Tapi aku mengalah pada sahabatku. Aku mendekatkan sahabatku dengan pujaan hatinya yang sesungguhnya pujaan hatiku juga. Aku berusaha menghapus perasaanku, memendam perasaanku dalam dalam dan menguburnya. Aku tak ingin ada seorang pun yang tahu tentang perasaanku ini. Hingga akhirnya, mereka berdua bisa benar-benar bersama. Aku yang lemah hanya bisa memandang kebahagiaan mereka dari kejauhan, tersenyum getir sambil bergumam “Akulah seseorang yang mencintaimu dalam diam”

Sunday, 11 March 2012

Surat untuk Ayah

Aku lelah. Lelah dengan semua ini. Sekelilingku ramai, penuh gelak tawa, namun tak demikian pada hatiku. Gelap, sepi, tak berarti. Kerinduan mendalam kini terkuak kembali. Ayah. Ingin rasanya berlari ke dalam dekapanmu, bermanja seolah aku masih seorang balita. Ya, aku merindukanmu. Ingin rasanya aku mencuri sayap-sayap malaikat dari surga dan menggunakannya untuk diriku. Kugunakan untuk terbang, menjemputmu dan membawamu kembali ke dunia ini. Tak akan kubiarkan kau pergi meninggalkanku lagi. Aku kesepian tanpamu Ayah. Setiap malam aku menantimu, hadir menemaniku di atas ranjang pemberianmu. Bertahun-tahun ku menanti, kau tak kunjung kembali. Aku lelah. Dicaci maki oleh banyak orang, dimusuhi oleh keadaan, diburu oleh waktu, diterjang kesepian. Aku ingin hidup bersamamu lebih lama lagi. Aku ingin memandang wajahmu lebih lama. Aku ingin merasakan hangat dekapanmu, manis dan lembut ciumanmu, indah setiap kata-kata sayangmu. Dimana? Dimana dapat aku temukan kasih sayang seindah itu. Andai saja...

Andaikan detik itu kan bergulir kembali, kurindukan suasana basuh jiwaku. 
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu... 

Itu sepenggal lirik lagu yang aku pikir sangat cocok untuk keadaan ini. Ayah, disini aku kesepian. Aku sering berdoa pada Tuhan untuk mengembalikanmu padaku. Namun sepertinya aku terlalu banyak dosa sehingga Tuhan tidak pernah mengabulkan doaku :) Sampai saat ini Tuhan tidak pernah mengembalikanmu padaku. Sedih memang, namun aku tak putus asa. Aku mengulang doaku, namun merubah isinya. Aku berkata "Tuhan, jika Engkau enggan untuk mengembalikan ayahku, tidak apa-apa. Tapi jika memang begitu, tolong bawa aku ke surga. Biarkan aku hidup disana selamanya bersama ayahku :)"  Aku sangat berharap Tuhan mengabulkan doaku. Namun, sampai saat ini juga, aku masih belum bisa sampai ke surga.  Maka dari itu aku menulis surat ini dengan harapan agar salah satu malaikat dari surga mau mengambilnya dan memberikannya pada ayah. Semoga saja :) 
Sekian dulu surat dariku Ayah, tenanglah di sana,dan percaya bahwa tak lama lagi aku kan menjemputmu atau hidup bersamamu di surga.

Peluk cium,


Gwen A. P.

Friday, 9 December 2011

Mengapa Kita Perlu Menangis :")

Hai guys! Kali ini gue akan menyajikan sebuah artikel yang bertemakan 'MENANGIS'.. di tahun 2011 ini, kalian semua pasti tau kan yang namanya galau? Gue juga yakin kalian semua pasti pernah ngerasain kegalauan walau cuma sekali. Karena banyak anak muda zaman sekarang yang bilang "Gak galau berarti gak gaul". Setujukah kalian dengan pendapat itu? (coba dijawab dalam hati..) Sebenarnya, artikel yang ngebahas tentang nangis, air mata dan semacam ini udah nggak sulit buat ditemuin. Udah ada beberapa artikel lain yang ngebahas tentang hal ini. Gue nggak bermaksud buat meng-copy ide mereka, gue hanya mau menyajikannya lagi dengan bahasa gue sendiri dan tentunya ada banyak tambahan yang berupa pendapat pribadi gue. Oke.. mari kita mulai. Selamat membaca kawan-kawan ;)

Gue sengaja ngasih judul artikel ini "Mengapa Kita Perlu Menangis", karena menurut gue, masih ada orang-orang di luar sana (khususnya cewek) yang masih belum ngerti apa arti menangis sesungguhnya. Selain itu gue juga mau menginformasikan bahwa menangis itu nggak selamanya buruk, nggak selamanya kelihatan lemah. Menangis itu juga nggak selamanya malu-maluin, menangis itu sebenarnya indah, kalau aja kita ngerti apa arti mengangis sebenarnya.

Sebagai orang beriman, kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT pasti ada manfaatnya. Sekecil apapun itu. Begitu juga dengan menangis, dan air mata. Ternyata keduanya memiliki arti penting dalam kehidupan kita.

Menangis itu adalah suatu kegiatan yang merupakan pelampiasan perasaan. Ketika kita merasa sedih, merasa terpukul, merasa kecewa, marah, kehilangan, kesepian, atau bahkan kebahagiaan, kita dapat menangis. Menangis yang dapat melegakan hati dan perasaan, menghilangkan beban pikiran maupun batin. Membuat segalanya seakan lebih baik, lebih tenang, dan lebih lega. Coba bayangkan jika kita tidak bisa menangis, apa yang akan kita lakukan supaya kita dapat merasa lega? Menangis itu jauh lebih baik daripada mencaci maki, berteriak, bicara kasar ataupun yang lain yang dapat membuat kita merasa lega. 

Dengan setetes air mata saja, beban kita dapat berkurang walau hanya sedikit. Ketika kita merasa sedih, merasa kesal atau kecewa, kita tidak seharusnya mencaci diri sendiri, berteriak, menjadi pemarah, sensitif dan penuh emosi. Kita cukup duduk diam, pejamkan kedua mata, tarik nafas panjang, pikirkan apa yang menjadi beban kita, dan dengan sendirinya tetes demi tetes air mata akan keluar mewakili setiap perasaan kita. Biarkan saja air mata itu terus mengalir, dengan begitu berarti beban kita juga akan terus keluar. Menangis itu tidak buruk, menangis itu baik, karena dengan menangis, berarti kita telah berusaha membuang beban yang ada. Daripada hanya sekedar dipendam dan berpura-pura tersenyum di luarnya. 

Selain itu, air mata sendiri memiliki manfaat yang mungkin kalian semua belum tahu.
Secara psikologis, menangis mampu membuat perasaan menjadi lebih baik, nyaman, dan tenang karena tangisan dapat membantu menyingkirkan kimiawi stres dalam tubuh. Berkaitan dengan ini, ada 4 manfaat menangis.
   1. Meningkatkan mood
       Menangis bisa menurunkan tingkat depresi seseorang. Dengan menangis, mood akan  terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena luapan perasaan atau emosi mengandung 24% protein albumin yang bermanfaat dalam mengatur kembali sistem metabolisme tubuh. Air mata tipe ini jelas lebih baik dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata.
   2. Mengurangi stress
       Penelitian menyatakan bahwa air mata ternyata juga mengeluarkan hormon stres yang terdapat dalam tubuh yaitu endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin.
   3. Melegakan perasaan
       Sepertinya, setiap orang merasakan hal ini setelah menangis. Setelah menangis, berbagai masalah dan cobaan yang mendera, kekesalan dan amarah yang menyesak,  serta goresan sakit hati biasanya berkurang dan muncullah perasaan lega. Perasaan lega yang dialami seseorang setelah menangis muncul karena sistem limbik, otak dan jantung menjadi lancar. Karena itu, keluarkanlah masalah di pikiran dengan menangis, jangan dipendam karena bisa menjadi tangisan yang meledak-ledak. Malu menagis sesak di dada, tertahan menjadi ganjalan perasaan yang sewaktu-waktu bisa memporakporandakan pertahanan jiwa, rasa bahkan raga.
   4. Menjadi penghalang agresivitas
       Orang yang sedang memuncak tingkat emosinya, meletup amarahnya biasanya akan berlaku dan bersikap lebih agresif bahkan bisa berdampak destruktif. Emosi yang diluapkan dengan menangis mampu menjadi penghalang agresivitas. Seperti yang diungkapkan Oren Hasson, seorang ilmuwan dari Univesitas Tel Aviv, Israel, bahwa dengan air mata, seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan memberikan simbol dirinya tengah menyerah.

Dari segi medis, kegiatan mengundang dan mencurahkan air mata ini memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan, khususnya mata. Manfaat tersebut sebagaimana dikutif dari Beliefnet di antaranya :
  1. Membantu penglihatan. Cairan yang keluar dari mata dapat mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur.
  2. Membunuh bakteri. Air mata berfungsi sebagai antibakteri alami. Tanpa obat tetes mata, sebenarnya mata sudah mempunyai proteksi sendiri. Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan lisozom yang dapat membunuh sekitar 90-95 % bakteri yang tertinggal hanya dalam 5 menit. Misalnya, bakteri yang terserap dari keyboard komputer, pegangan tangga, bersin, serta tempat-tempat yang mengandung bakteri.
  3. Mengeluarkan racun. William Frey, seorang ahli biokimia yang telah melakukan beberapa studi tentang air mata menyatakan bahwa air mata yang keluar saat menangis karena faktor emosional ternyata mengandung racun. Jadi, keluarnya air mata yang beracun itu menandakan bahwa racun dari dalam tubuh terbawa dan dikeluarkan melalui mata.
  4. Membantu melawan penyakit. Selain menurunkan level stres, air mata juga membantu melawan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh stres seperti tekanan darah tinggi. Bagaimanapun, perasaan tertekan dan tersakiti bisa membuat seseorang stres. Endapan stres yang terpendam dengan menahan tangisan inilah yang sering menimbulkan gejala tekanan darah tinggi dan penyakit lainnya yang dipicu oleh stres.
Nah.. sudah jelas kan kalau sebenarnya menangis dan air mata itu juga mempunyai manfaat secara psikologis maupun medis. Jadi memang tidak selamanya menangis itu buruk. Hanya saja, kita tetap harus memilah mana hal-hal yang memang perlu ditangisi atau tidak. Kalian boleh menangis ketika kalian benar-benar merasa terbebani, menangislah dan buanglah beban itu jauh-jauh. Lampiaskan perasaan kalian dengan menangis maka kalian akan lega. Tidak perlu takut untuk menangis, tidak perlu malu untuk menangis, karena itu memang sangat manusiawi. :)

Tak Selamanya Indah

Berawal dari tugas cerpen di sekolah,

   Di suatu pagi yang cerah, ada sebuah keluarga sedang bermain di halaman belakang rumah mereka. Rumah yang megah, halaman yang luas dan sebuah kolam renang membuat rumah itu bak istana dalam dongeng. Seorang laki-laki berbadan tinggi, tegap, kekar, berkulit gelap dan berkacamata sedang asik bermain air bersama seorang anak perempuannya di pinggir kolam renang. Sementara seorang wanita berwajah oriental duduk tidak jauh dari mereka sambil membaca sebuah majalah. Sekali-kali dia melihat ke arah suami dan anaknya yang sedang akrab bermain. Begitu indah pemandangan itu, menggambarkan sebuah kebahagiaan dalam keluarga yang tak ada tandingannya. Semua terasa sempurna, tidak ada yang kurang.
   “Kirana, bagaimana kalau kita berenang saja?”,tanya sang ayah pada anaknya. “Ayo Yah ayo..”,jawab Kirana semangat seraya menarik lengan baju sang ayah. Ayahnya hanya tertawa melihat tingkah Kirana yang begitu semangat. Mereka pun segera berganti baju dan tanpa menunggu lama, mereka pun menyeburkan diri ke dalam kolam renang. “Brr.. dingin ya, Yah..”, kata Kirana sambil terus menggenggam tangan sang ayah. Karena Kirana berenang di kolam yang dalam, maka sang Ayah harus terus menggenggam tangan Kirana agar dia tidak tenggelam. “Hati-hati ya Nak berenangnya..”,kata sang Ibu dari tempat duduknya. Keadaan itu terus berlangsung tanpa ada yang mengganggu mereka. Sampai matahari mulai naik dan meninggi, barulah mereka menyudahi kegiatan mereka itu. Mereka semua bergegas masuk ke dalam rumah dan melanjutkan aktivitas mereka.
   Kirana adalah seorang anak perempuan yang berumur 8 tahun. Badannya kecil, berkulit sawo matang, berambut keriting dan berwajah manis. Mirip sekali dengan sang Ayah. Kirana adalah anak semata wayang dari seorang pengusaha ternama di Ibukota, dan Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kehidupan Kirana sangat tercukupi, semua kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Dari urusan sekolah, hiburan dan yang lainnya. Karena dia adalah anak tunggal, kedua orangtuanya biasa memanjakannya. Apapun yang Kirana inginkan selalu dipenuhi oleh kedua orangtuanya, terutama sang Ayah. Ayahnya begitu menyayangi dia. Apapun keinginan Kirana segera diturutinya, bahkan terkadang tanpa Kirana meminta, sang Ayah sudah memberikannya terlebih dahulu. Semua itu membuat Kirana bahagia. Kasih sayang yang melimpah dan kebutuhan yang selalu terpenuhi membuat Kirana berpikir bahwa hidup itu indah. Selamanya indah.
   “Kirana, ayo makan siang dulu..”, ajak sang Ibu. Kirana menurutinya, dia duduk di samping Ayahnya. Mereka pun makan siang bersama. Tiba-tiba sang Ayah berkata, “Bu, besok aku akan berangkat ke Vietnam, tolong disiapkan ya baju-bajuku.”, “Ayah besok mau ke Vietnam?”, sambar Kirana. “Iya sayang, ada urusan bisnis yang harus diselesaikan. Kirana mau oleh-oleh apa?”, tanya sang Ayah seraya membelai rambut Kirana. “Aku mau mata uang Vietnam dong Yah, oh ya, aku juga mau perangko dari Vietnam, supaya koleksi perangko ku makin lengkap. Hehe..”, jawab Kirana sambil tersenyum lebar. “Baiklah.. nanti Ayah belikan ya..”, kata sang Ayah sambil tersenyum.
   Sang Ayah memang sering pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya sendiri. Dia tidak mau terlalu mengandalkan orang lain atau anak buahnya. Dia lebih suka mengurus bisnisnya sendiri, kecuali di saat dia memang benar-benar tidak bisa mengurusnya, barulah dia meminta tolong anak buahnya. Kalau sang Ayah sedang ke luar negeri, terkadang Kirana merasa kesepian. Wajar saja, Kirana memang sangat dekat dengan Ayahnya. Kemana-mana selalu bersama Ayahnya. Walau merasa kesepian, tapi Kirana mengerti bahwa Ayahnya pergi untuk mengurus pekerjaan. Kirana selalu mendoakan Ayahnya agar Ayahnya  tetap selamat dimanapun dia berada.
   Keesokan harinya Ayahnya pun bersiap untuk berangkat ke Vietnam. Kirana menemani Ayahnya bersiap-siap. “Ayah berapa lama di Vietnam?”,tanya Kirana dengan wajah polosnya. “Hm.. sekitar 2 minggu..”, jawab sang Ayah. “Jangan lupa titipan aku ya,Yah.. hehe”, kata Kirana seraya memeluk erat tubuh sang Ayah. “Iya sayang, Ayah pasti ingat. Ayah pasti belikan titipan kamu.”, Ayahnya mencium kening Kirana. Mereka berpelukan erat seakan akan berpisah lama. “Loh.. Ibu kira Ayah sudah siap, ternyata masih disini sama Kirana..”, tiba-tiba Ibu masuk ke dalam kamar. “Eh.. ada Ibu, mau ikut pelukan juga nggak bu?”, goda Kirana sambil tersenyum lebar. “Hahaha.. kamu ini suka menggoda Ibu kamu ya..”, kata sang Ayah sambil mengacak-acak rambut Kirana perlahan. “Sudah sudah, Ayah harus segera berangkat, nanti terlambat sampai bandara, gawat kalau sampai ketinggalan pesawat.”, sang Ibu menggandeng tangan Kirana dan mengajak Kirana ikut keluar. “Kita nggak mengantar Ayah ke airport,Bu?”, tanya Kirana. “Tidak usah sayang. Nanti setelah mengantar Ayah ke airport, Pak Umang tidak langsung pulang ke rumah, dia mau mampir dulu ke kantor Ayah. Kirana di rumah saja ya sama Ibu.”, “Oh, oke deh Yah. Ayah hati-hati ya di jalan. Jangan lupa kabarin kita ya Yah kalau sudah sampai Vietnam”, kata Kirana berlagak seperti orang tua sedang menasihati anaknya. Sang Ayah hanya tertawa mendengar ucapan Kirana.Tanpa menunggu lama, sang Ayah pun segera masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju bandara. Dia melambaikan tangannya ke arah Istrinya dan Kirana.
   Dua minggu kemudian, Ayahnya pun pulang. “Ayaaah..”, sambut Kirana seraya berlari ke dalam pelukan Ayahnya. “Akhirnya Ayah pulang juga.. Kirana kangen banget sama Ayah..”, “Ayah juga kangen sama Kirana..”, Ayahnya mencium keningnya. “Lihat, Ayah bawa apa untuk Kirana”, Ayahnya mengeluarkan sebuah bingkisan. Bingkisan itu berisi banyak perangko dari Vietnam. “Waahhh.. banyak sekali, terima kasih Ayah..”, Kirana mencium dan memeluk Ayahnya. Ayahnya sangat senang melihat Kirana suka akan oleh-oleh yang diberikannya. Sang Ayah senang bila melihat Kirana bahagia. Kebahagiaan seperti itu pun terus tercipta di hari-hari berikutnya. Hidup Kirana seakan sempurna, tidak pernah merasa sedih. Kirana sangat bersyukur pada Tuhan atas kebahagiaan yang selama ini dia rasakan. Sekali lagi Kirana berpikir bahwa hidup akan selamanya indah.
   Hingga suatu ketika, semua kebahagiaan itu berubah menjadi keadaan yang sangat tidak diinginkan oleh Kirana. Semua kebahagiaan itu hilang entah kemana, entah direnggut oleh siapa. Keadaan di rumah Kirana menjadi tidak hangat lagi. Kini, tidak jarang kedua orang tuanya bertengkar, saling berteriak, saling membentak satu sama lain. Kirana tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi, Kirana masih terlalu kecil untuk mengetahui keadaan seperti ini. Kirana hanya bisa sembunyi ke kamarnya kalau dia sudah mendengar kedua orang tuanya mulai bertengkar. Kirana merasa takut, merasa sedih, merasa sendiri dan tidak mengerti apa yang seharusnya dia lakukan. Semenjak keadaan di rumahnya berubah, Kirana menjadi lebih tertutup dan menjadi anak yang pendiam. Keceriaan dan gelak tawanya kini tidak terdengar lagi. Ayahnya pun seakan sudah melupakannya. Ayahnya jarang pulang ke rumah, dan sudah tidak pernah mengajak Kirana bercanda lagi. Kirana benar-benar bingung, dia tidak tahu harus bercerita pada siapa. Setiap dia bertanya pada sang Ibu tentang Ayahnya, sang Ibu hanya memberi jawaban yang tak pernah berubah. Katanya, Ayah sedang ke luar negeri mengurus bisnisnya. Tapi Kirana tahu jawaban Ibunya itu hanya alasan. Kirana tahu Ayahnya tidak sedang mengurus bisnis.
   Kirana mencoba mencari tahu kemana Ayahnya pergi. Namun hasilnya nihil. Kirana memohon pada Ibunya pun, Ibunya tidak mau memberi tahu kemana Ayahnya pergi. Ibunya pun kini berubah, menjadi sensitif dan pemarah. Kirana merasa sangat kesepian, tidak ada lagi kasih sayang seperti dulu. Tidak ada lagi perhatian dan kebahagiaan seperti dulu. Kirana sangat sedih. Hingga akhirnya Kirana benar-benar ditinggal oleh Ayahnya. Dulu, Ayahnya masih sempat pulang ke rumah, walaupun sangat jarang. Namun sekarang, Ayahnya tidak pernah pulang sama sekali. Kirana bingung kemana sang Ayah pergi. Akhirnya dia memberanikan diri untuk menghubungi Ayahnya.
   “Halo.. Ayah..”, Kirana mencoba memulai pembicaraan melalu telepon genggamnya. “Kirana?”, tanya Ayahnya dengan nada seperti tidak percaya. Sesaat, Kirana terdiam. Tidak melanjutkan bicara, melainkan menangis. “Kirana.. kamu kenapa sayang? Jangan menangis ya,Nak..”, terdengar suara dari seberang. Suara itu membuat Kirana merasa tenang dan mengurangi rasa kesepiaannya. “Ayah kemana? Kenapa Ayah pergi? Kenapa Kirana ditinggal?”,Kirana mulai mengeluarkan sejumlah pertanyaan. “Kirana, maafkan Ayah ya. Ayah terpaksa pergi, ada urusan penting yang tidak bisa Ayah tinggalkan”, “Ayah bohong! Ayah pasti nggak ada urusan apa-apa, Ayah pura pura kan?”, tangisan Kirana pun pecah. Tidak ada jawaban dari Ayahnya. Kirana terus terisak. “Kirana.. Ayah mohon, maafkan Ayah. Ayah telah bercerai dengan Ibumu..”, jawab sang Ayah. Kirana menghentikan tangisannya. Sebetulnya, dia tidak mengerti benar apa arti dari kata perceraian yang baru saja diucapkan oleh Ayahnya. Usia nya terlalu dini untuk mengerti permasalahan seperti itu, yang dia tau hanyalah dadanya yang terasa sesak. Dia merasa jauh dengan Ayahnya. Dia rindu kasih sayang dari Ayahnya. “Ayah.. Kirana kangen Ayah.. Kirana mau main sama Ayah..”, Kirana mulai terisak. “Kirana tenang ya, Ayah janji, kita akan tetap bertemu walaupun bukan di rumah.”, “Ayah serius? Kita bisa bertemu?”, “Iya sayang. Kita akan bertemu setiap bulan. Tapi tidak di rumah dan tidak sama Ibu ya..”, “Loh? Kenapa? Ayah nggak kangen sama Ibu?”, “Hm.. Kirana, kamu masih kecil, belum mengerti tentang semua ini. Kirana sabar ya, yang jelas Ayah tetap sayang sama Kirana.. Sudah dulu ya Kirana, Ayah masih banyak pekerjaan..”, pembicaraan itu segera diakhiri oleh Ayahnya. Kirana terduduk di pojok kamar, terdiam dan menangis.
   Ternyata sang Ayah tidak bermain-main dengan janjinya. Semenjak Ayahnya keluar dari rumah, Kirana tetap dapat bertemu dengan sang Ayah, mereka berdua rutin bertemu walaupun hanya satu kali dalam sebulan. Biasanya mereka bertemu di mall, restoran, atau terkadang sang Ayah menjemput Kirana sepulang sekolah. Walaupun hanya sekali dalam sebulan, tapi Kirana tetap bersyukur karena masih dapat bertemu dengan Ayahnya. Mereka hanya bertemu berdua, tanpa sang Ibu. Di pertemuan yang singkat itu, Kirana selalu menceritakan apa saja yang dialaminya. Kerinduannya akan suasana rumah yang menyenangkan, juga masalah perekonomian di rumahnya yang berubah semenjak Ayahnya keluar dari rumah. “Sekarang, nggak ada lagi yang bisa beliin aku mainan kayak Ayah..”, kata Kirana. “Loh, kamu kan masih bisa minta sama Ayah. Ayah akan tetap kasih kamu mainan kalau kamu mau.”, Kirana hanya tersenyum.
   Walaupun Ayahnya sudah berpisah dengan sang Ibu, namun Ayahnya tidak melepaskan tanggung jawab begitu saja. Setiap bulannya, sang Ayah rutin memberi biaya untuk Kirana sekolah, memberi biaya untuk Kirana jalan-jalan ketika liburan sekolah, memberi biaya untuk segala kebutuhan Kirana. Walaupun tidak seperti dulu lagi, Kirana tetap mensyukuri keadaan ini. Dia masih dapat hidup dengan layak walaupun tidak dengan harta berlimpah seperti dulu lagi. Namun, karena dulu dia terlalu sering dimanja, terkadang dia menjadi anak yang keras kepala, memaksakan kehendak dan ingin dituruti keinginannya. Hanya terkadang saja dia terlihat dewasa dan terlihat mengerti keadaan yang telah berubah ini.
   Bertahun-tahun pun dia lewati dengan kehidupan apa adanya, Kirana semakin terbiasa dengan keadaan hidupnya yang baru. Hingga sampailah dia ke umur yang memasuki masa remaja, kini Kirana berumur tiga belas tahun. Ayahnya pun mengajak Kirana untuk merayakan ulangtahunnya itu, tentu saja Kirana merasa sangat senang. Ayahnya mengajak Kirana berjalan-jalan seharian dan mengajak Kirana makan malam di sebuah restoran Jepang. Kirana sangat senang, dia dan Ayahnya duduk di sebuah meja makan yang di depannya ada seorang juru masak yang ternyata langsung memasak pesanan yang dipesan mereka. Kirana baru pertama kali masuk ke restoran Jepang dan dia merasa senang. Satu hal lagi yang membuat harinya semakin sempurna, ternyata Ayahnya menyiapkan kejutan kecil untuknya. Tiba-tiba beberapa pelayan datang mendekati meja mereka, Kirana bingung, namun tiba-tiba keluarlah seorang pelayan lain yang membawakan kue tart beserta lilin di atasnya. Para pelayan di sekelilingnya menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ khusus untuknya. Kirana menatap ke arah Ayahnya dan memeluknya. Kirana merasa tersanjung dan sangat bahagia. Hari itu semua terasa sempurna di mata Kirana.
   Waktu terus berjalan, hari-hari Kirana pun terus berlalu. Setelah hari paling sempurna terjadi di saat Kirana berulang tahun, tidak ada lagi hari bahagia lainnya. Hari-hari Kirana semakin sepi, semakin kelam. Kini, sang Ayah tidak pernah lagi mengajak Kirana untuk bertemu. Entah apa alasannya, Kirana tidak mengerti. Komunikasi mereka pun tidak berjalan lancar seperti dulu. Kirana semakin rindu dengan Ayahnya. Semakin merasa kehilangan, Kirana benar-benar sedih dengan semua keadaan ini. Kirana rindu kehidupannya yang dulu, Kirana rindu akan masa lalunya yang benar-benar indah. Kini Kirana mengerti, hidup tidak selamanya indah. “Ah.. andai waktu bisa kuulang..”, gumam Kirana. Kirana mencoba menghubungi Ayahnya, namun tidak ada hasil. Ayahnya tidak pernah menerima telepon  dari Kirana. Komunikasi mereka pun semakin berkurang hingga akhirnya benar-benar tidak berkomunikasi sama sekali.
   Kirana tidak bisa menerima semua itu begitu saja, dia mencoba bertanya pada Ibunya, tapi Ibunya tidak pernah memberi penjelasan yang sebenarnya pada Kirana. Kirana terus berdoa, berjuang mencari Ayahnya. Namun, dia tidak pernah berhasil. Akhirnya Kirana pun merasa lelah, dia patah semangat dan mulai mencoba menerima semuanya. Kini, dia tidak lagi berusaha mencari Ayahnya, dia merelakan sang Ayah meninggalkan dirinya, walaupun sebenarnya dia merasa kecewa. Kirana menjalani hari-harinya yang baru, tanpa Ayah, tanpa kasih sayang dari Ayah, bahkan tanpa mendengar suara dan kabarnya. Terkadang Kirana berpikir, dimana Ayahnya berada, sedang apa, apakah Ayahnya merindukannya juga. Tidak jarang Kirana menangis di dalam doanya, teringat masa kecil bersama Ayahnya yang begitu menakjubkan.
   Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, Kirana tetap tidak punya kabar tentang keadaan Ayahnya. Sampai-sampai Kirana sudah terbiasa hidup tanpa Ayah. Selama tiga tahun itu pun Kirana menjalani hidupnya dengan tidak mudah. Hidup pas-pas an, hidup seadanya, dan kebutuhan di rumahnya pun tidak lagi terpenuhi dengan baik. Bukan itu saja, tumbuh dewasa tanpa kehadiran seorang Ayah membuat Kirana kekurangan kasih sayang, kurang perhatian, dan pertumbuhan psikologisnya pun tidak berlangsung dengan baik. Terkadang teman-teman Kirana suka bertanya tentang Ayahnya, namun Kirana tak pernah bisa menjawabnya. Kirana merasa iri bila mendengar teman-temannya bercerita tentang Ayah mereka, apalagi jika Kirana melihat teman-temannya dijemput oleh Ayah mereka masing-masing ketika pulang sekolah. Kirana teringat betul bagaimana dulu dia juga pernah dijemput oleh sang Ayah. Untuk kesekian kalinya Kirana merasa sangat rindu dengan kehadiran sang Ayah.
   Kini, Kirana telah berusia tujuh belas tahun, empat tahun telah berlalu semenjak Ayahnya pergi dari rumah. Di hari spesialnya, Kirana sangat berharap Ayahnya datang menemuinya dan mengucapkan selamat ulangtahun padanya, tapi sayang semua itu hanyalah sebuah harapan, yang tidak terwujud dengan sempurna. Ayahnya tidak datang, tidak menemuinya, bahkan tidak menghubunginya. Kirana tidak mendapat ucapan ulangtahun dari sang Ayah. “Ayah.. aku rindu Ayah, aku mau Ayah ucapin selamat ulangtahun buat aku,Yah..”, kata Kirana sambil terisak. Kirana memandang wajah Ayahnya dalam sebuah foto, didekatkannya foto itu ke dadanya, dipeluknya erat. Air matanya menetes, dia menatap foto itu dan air matanya pun jatuh membasahi foto yang sedang digenggamnya. “Ayah, Kirana sedih waktu Kirana nggak bisa bilang selamat ulangtahun ke Ayah di hari ulangtahun Ayah. Sudah empat tahun kita nggak ketemu Yah, sudah empat tahun itu pula aku nggak bisa ucapin selamat ulangtahun ke Ayah, begitu juga sebaliknya. Sekarang aku udah tujuh belas tahun Yah, Ayah bisa bayangin kan gimana aku udah mulai tumbuh dewasa? Aku kangen Ayah..”, Kirana berbicara sendiri pada foto itu. Dia terus menangis. Dia benar-benar merasa rindu, dia teringat bagaimana sedihnya dia disaat hari ulangtahun Ayahnya,  dia tidak bisa bertemu dan mengucapkan selamat ulangtahun pada Ayahnya.
   Setelah cukup lama dia menangis, akhirnya dia pun tersadar bahwa hidupnya harus tetap berjalan. Dia berhenti menangis, dia mengambil laptop dan menyalakannya. Kemudian dia mencoba mengetik nama ayahnya di google, “Ah.. mungkin saja ada info yang bisa aku dapat tentang Ayah”, gumamnya. Akhirnya, beberapa artikel yang memuat nama Ayahnya pun tampil di layar. Dia membuka beberapa di antaranya, hingga dia menemukan biodata tentang Ayahnya. Namun disana, terpampang sebuah nama yang membuatnya bertanya-tanya. Ada nama seorang laki-laki yang tertulis sebagai anak Ayahnya. Langsung saja Kirana mencoba menghubunginya. Laki-laki itu bernama Hans. “Halo..”, kata Kirana memulai pembicaraan. “Halo.. ini siapa ya?”, sahut orang itu. “Hm.. betulkah ini Hans Sutaryo?”, “Oh iya.. betul. Anda siapa ya? Ada keperluan apa?”, “Saya Kirana, apa betul Anda ini anak dari Bapak Heru Sutaryo?”, “Betul, darimana Anda tahu?”, jawabnya lagi. Akhirnya Kirana pun menceritakan siapa dia sebenarnya. “Baiklah kalau begitu..”, kata Hans. “Kamu panggil saja aku Bang Hans, aku mengerti siapa kamu sebenarnya.”, sambungnya lagi. “Terimakasih banyak Bang, terimakasih mau mendengarkan aku.”, jawab Kirana.
   Akhirnya, Kirana pun rutin berkomunikasi dengan Bang Hans. Kirana pun beberapa kali mendapat kabar tentang Ayahnya dari Bang Hans. Kirana pun akhirnya mengerti kenapa Ayahnya pergi dari rumah. Ternyata, sang Ayah telah mempunyai istri lain sebelum bertemu dengan Ibu Kirana. Bang Hans adalah anak Ayahnya dari istri pertamanya. Kirana tidak terlalu memikirkan masalah itu. Kini, Kirana mendapat banyak bantuan dari Bang Hans, kebutuhannya mulai terpenuhi. Kirana sangat berterima kasih kepada Bang Hans. Beberapa kali Kirana meminta izin untuk dipertemukan dengan sang Ayah, namun Bang Hans tak pernah mengabulkan permohonannya itu, dan Kirana tidak berani untuk memaksakan kehendaknya.
   Beberapa bulan setelah Kirana bertemu dengan Bang Hans, Kirana mendapat kabar bahwa Ayahnya terkena struk ringan dan terpaksa dirawat di rumah sakit. Kirana mengetahuinya dari Bang Hans. “Adikku, saat ini Ayah dirawat di rumah sakit karena terkena struk ringan..”, jelasnya. “Astaga, Ayah terkena struk?”, tanya Kirana dengan nada yang agak tinggi. “Lalu, bagaimana keadaannya?”, tanya Kirana lagi. “Kamu tenang saja ya, terus saja berdoa, dokter sedang berusaha merawatnya, yang sabar ya Kirana”, jawab Bang Hans lagi. Kirana terus mendoakan sang Ayah, Kirana tidak mau terjadi sesuatu yang berbahaya pada Ayahnya. Semenjak saat itu, Ayahnya terus-menerus keluar masuk rumah sakit, penyakitnya semakin kompleks, namun Kirana tidak mengerti benar tentang penyakit Ayahnya.
   Suatu sore Bang Hans menghubungi Kirana. “Kirana..”, katanya “Bagaimana kabarmu?”, “Baik Bang..”, jawab Kirana. “Ada apa ya, Bang? Tumben telepon sore-sore begini..”,sambungnya. “Kirana, Abang mempunyai sebuah kabar tentang Ayah”, Bang Hans terdiam sejenak. “Kabar apa Bang?”, Tanya Kirana. “Maafkan Abang baru memberi tahu saat ini, 1 bulan yang lalu Ayah kembali masuk rumah sakit..”, “Loh? Kenapa Abang nggak kasih tau aku?”, “Maaf Kirana, waktu itu Abang lagi sibuk mengurus Ayah. Kirana.. saat ini keadaan Ayah sudah berat.”, “Maksud Abang apa?”, Tanya Kirana. “Keadaannya semakin menurun, tidak ada kemajuan dalam kesehatannya, para dokter yang merawatnya pun sudah angkat tangan..”, sesaat keduanya terdiam. Kirana merasa sangat sedih dan takut. “Besok, Ayah akan dibawa pulang saja, karena di rumah sakit pun percuma, keadaannya tidak juga membaik. Biar saja dia beristirahat di rumah.”, jelasnya. “Titipkan salamku untuknya ya Bang, aku sangat merindukannya.”, jawab Kirana. “Pasti Abang sampaikan, tolong doakan Ayah ya Kirana.”
   Dua hari kemudian, Bang Hans kembali menghubungi Kirana. “Adikku sayang..”, kata Bang Hans. Suaranya agak berbeda dari biasanya. “Kamu yang sabar ya..”,sambungnya. “Ada apa Bang?”, Kirana mulai khawatir. “Apa ini tentang keadaan Ayah?”, tanya Kirana. Tak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis yang tertahan. “Bang, Abang nangis ya?”, “Kirana.. Ayah sudah tiada..”, jawab Bang Hans. Bagai disambar petir Kirana mendengar kabar itu, Kirana sangat terkejut. Tangisannya pun pecah, air matanya membanjiri kedua pipinya. Kirana tak sanggup berbicara apa-apa. “Terimakasih Bang atas kabarnya. Aku akan selalu doain Ayah.”, Kirana segera memutuskan pembicaraan itu. Kirana merasa sangat terpukul, dia benar-benar tidak percaya. Kirana berlari mencari Ibunya dan memberi tahu tentang kabar itu. Kirana terus menangis dalam pelukan Ibunya. Kirana merasa benar-benar kehilangan. Kirana merasa tidak sanggup, dia segera berlari ke kamarnya. Dia mengurung diri disana. Dia mengunci pintu kamarnya dan tak mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam.
   Kirana mencari foto Ayahnya, sambil menangis dia berusaha berbicara dengan sang Ayah melalui foto itu. “Ayah..  Kenapa Ayah pergi? Kenapa Ayah tinggalin aku untuk selamanya, Yah?”, Kirana terus menangis. “Ayah.. Kirana kangen Ayah, kangen banget Yah. Kirana mau ketemu Ayah, mau lihat wajah Ayah lagi, Kirana mau lihat wajah Ayah untuk terakhir kalinya Yah..”, Kirana terus terisak. “Kirana mau peluk Ayah.. Kirana mau bertemu Ayah...”, tangisannya semakin kencang. Air matanya semakin deras. Kirana semakin merasa kesepian, dia tidak percaya Ayahnya pergi untuk selama-lamanya. “Ayah.. Ayah adalah Ayah terbaik yang pernah Kirana punya. Nggak ada orang lain yang bisa kasih Kirana kasih sayang seindah kasih sayang dari Ayah. Seburuk apapun kata orang tentang Ayah, Ayah tetap yang terbaik. Walaupun Kirana pernah kecewa, marah sama Ayah, tapi Kirana sayang banget sama Ayah. Kirana nggak pernah benci sama Ayah, walaupun Kirana nggak pernah mengerti kenapa Ayah pergi, tapi Kirana rela kalau itu memang pilihan terbaik untuk Ayah. Kirana rela sedih asal Ayah bahagia. Ayah, Kirana mau peluk Ayah..”,Kirana mencium foto Ayahnya. Mendekap foto itu dengan erat. “Ayah tenang disana ya.. Kirana janji nanti kita akan bertemu lagi, tunggu Kirana ya Yah. Nanti kalau waktunya tiba, kita akan bersama lagi Yah..”, Kirana mencoba menguatkan dirinya sendiri. Kirana terus menangis, dia memaksakan dirinya untuk kuat, memaksakan wajahnya untuk tersenyum walau itu sangat sulit. Kirana terdiam, terdiam dalam kesedihannya. Kirana mencoba mendewasakan diri, mencoba menerima semua kenyataan yang ada. “Ayah, Kirana sayang banget sama Ayah, terimakasih banyak untuk semua yang pernah Ayah kasih untuk Kirana, terimakasih atas kasih sayang yang pernah Ayah kasih untuk Kirana, Kirana akan selalu sayang dan mendoakan Ayah. Love you Yah..”, kata Kirana seraya terus menciumi foto sang Ayah. Air matanya pun turut membasahi foto itu. Sejak saat itu Kirana benar-benar mengerti bahwa hidup memang tak selamanya indah.

Karya : Shella Anastasia
Showing posts with label Nilai Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Nilai Kehidupan. Show all posts

Saturday, 22 August 2015

Cinta Beda Agama

Cinta yang paling menyakitkan ialah cinta yang terdapat perbedaan di dalamnya. Perbedaan yang jelas terlihat, yang jelas dapat dirasakan. Perbedaan agama. Banyak orang-orang yang menjalin hubungan di tengah perbedaan agama. Termasuk saya, beberapa kali saya menjalani hubungan beda agama. Menurut saya, memang menyakitkan ketika mencintai seseorang yang kita tahu bahwa sulit untuk kita menjadi bersama. Perbedaan agama adalah perbedaan yang menurut saya paling sulit untuk disatukan. Keyakinan hidup mendasar yang berbeda tentunya menjadi pertimbangan khusus jika ingin membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius.

Mungkin ada orang-orang yang akhirnya mengalah soal agama demi dapat bersama dengan orang yang dicintainya. Ada juga yang terus bertanya-tanya “Kenapa harus dipertemukan dengan dia yang jelas-jelas berbeda?” atau “Kenapa kami dipertemukan padahal kami berbeda? Kenapa kami bisa menjalani hubungan ini? Pasti ada maksud lain yang diberikan oleh Tuhan YME”, jujur saja pertanyaan kedua ialah pertanyaan yang sering saya ucapkan ketika saya menjalani hubungan beda agama. Saya merasa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya adalah sesuatu yang memang sudah dituliskan oleh Yang Maha Kuasa, termasuk cinta beda agama yang harus saya jalani sekian tahun lamanya.

Banyak pihak yang merasa saya salah mengambil keputusan setiap kali memutuskan berhubungan dengan seseorang yang berbeda agama dengan saya. Banyak cercaan yang saya terima, banyak kritikan dan protes yang ditujukan kepada saya, banyak yang menyayangkan bagian cerita hidup say a saat itu. Tapi apalah yang dapat mereka perbuat kalau saya dan cinta yang saya miliki lebih kuat dari segala perkataan miring tentang hidup saya saat itu.

Satu yang paling saya ingat, ada seseorang yang mengatakan bahwa saya hanya membuang-buang waktu saya saja dengan menjalankan hubungan yang tidak akan berujung indah. Berujung indah? Berujung bersama saja belum tentu, bagaimana bisa indah? Namun saat itu saya terus menguatkan diri saya, saya yakin segala sesuatunya pasti memiliki sisi positif, termasuk hubungan beda agama saya saat itu. Selama saya menjalani hubungan beda agama, saya merasa banyak hal-hal baru yang saya temui dan saya dapat mengambil nilai-nilai tertentu dari semua pengalaman saya kala itu. Maka dari itu, saya tidak merasa waktu saya terbuang sia-sia selama menjalani hubungan beda agama, selain itu juga saya dapat melakukan kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat bersama pasangan saya.

Hal yang paling membuat saya sedih saat menjalani hubungan beda agama ialah saat kami ingin menuliskan mimpi-mimpi masa depan bersama, terasa ada sesuatu yang mengganjal dan menjadi penghalang besar sehingga mimpi-mimpi kami sangat terbatas. Belum lagi kalau ditanya orangtua, rasanya sedih ketika harus menjawab bahwa pasangan yang ingin kita bawa ke orangtua adalah seseorang yang memiliki keyakinan berbeda.

Dalam hubungan beda agama juga tidak ada yang bisa menjamin atau memastikan akan berujung kebahagiaan. Toh hubungan yang dijalankan dengan kesamaan saja belum tentu berakhir bahagia. Dulu, saya kira omongan seperti itu hanyalah omong kosong, tapi ternyata memang benar.. cinta beda agama tidak berakhir bahagia. Itu juga yang dikatakan oleh ibu saya saat dia tau saya menjalani hubungan percintaan dengan seseorang berkeyakinan lain. Katanya saat itu “Yang namanya beda agama ya tetap beda. Susah lah kalau sudah menyangkut keyakinan/agama”

Dan saya sadar kalau perkataan ibu saya saat itu sangat benar. Mungkin perbedaan itu dapat disatukan, tapi harus dengan mengalah. Mengalah bukan dalam hal kecil, tapi dalam hal yang sangat besar. Mengalah dalam hal yang sangat mendasar namun bersifat selamanya. Siapa yang bisa mengganti kepercayaan seseorang pada Tuhannya?

Saya juga merasa adanya keegoisan apabila hubungan beda agama harus berakhir dengan perpindahan agama dari salah satu pihak. Dan saya yakin banyak pengorbanan dan perjuangan untuk mencapai tahap itu.


Sebagai seseorang yang telah beberapa kali menjalani kisah cinta beda agama, saya menyarankan untuk teman-teman yang masih memperjuangkan hubungannya untuk berpikir berulang kali. Egois sekali rasanya kalau harus berganti Tuhan demi memenangkan cinta. Mengalah saja untuk hal lainnya, mengalah lah dengan rasa egois itu sendiri, mengalahlah untuk melepaskannya. Melepaskan dia yang jelas-jelas berbeda dan menunggu seseorang dengan dasaran yang sama, yang sama tanpa harus melewati proses perubahan terlebih dahulu. Saya rasa akan berjalan dan berakhir lebih indah. Maaf apabila bahasan saya kali ini menyinggung perasaan kalian yang mengalami kisah yang pernah saya alami dulu. Tetap tersenyum dan berbahagialah. 

Thursday, 20 August 2015

Ibu vs Pacar?

Pacaran bukan lagi menjadi hal yang langka di tahun 2015. Walaupun ada ajaran agama yang melarangnya, hal tersebut masih tetap dijalankan. Dengan berbagai macam alasan, muda-mudi Indonesia tetap berpacaran yang tak jarang mengumbar kemesraan di depan umum. Namun, bukan hal itu yang ingin saya bahas kali ini. Topik yang ingin saya bahas kali ini ialah fenomena Ibu vs Pacar. Bukan tentang perbedaan pendapat atau perbedaan pandangan antara keduanya, melainkan adanya perbedaan bentuk kasih sayang yang diberikan seseorang terhadap ibunya dan pacarnya. 

Jujur, ini juga merupakan pengalaman nyata yang saya alami pribadi. Namun saya menulis ini sesaat setelah mendengar pendapat teman saya yang menurut saya juga dialami oleh banyak anak muda di luar sana. 

Dari hal kecil dan sederhana saja sudah dapat terlihat adanya perbedaan perlakuan dan bentuk kasih sayang yang diberikan seseorang terhadap ibu dan pacarnya. Demi pacar, kita rela melakukan apa saja, hingga bolos sekolah, kuliah, ataupun kerja. Tapi ketika ibu kita sakit, apa kita rela meninggalkan segala kegiatan demi menemani atau merawatnya walau sebentar? Saya rasa belum tentu. 

Ingin pergi sama pacar tapi dilarang orangtua? Pasti akan berusaha sekuat tenaga mencari alasan yang membuat kita dapat keluar dari rumah dan dapat berjumpa dengan sang pacar. Ujung-ujungnya, tega membohongi orangtua sendiri. Demi apa? Demi menemui seseorang yang belum tentu menjadi teman abadi.

Hal yang paling mudah dan paling nyata saya rasakan adalah disaat hari ulangtahun. Mungkin hal ini juga banyak dialami oleh anak-anak muda sebaya saya. Ketika pacar ulangtahun, rasanya ingin memberi ini itu sehingga si pacar bisa bahagia, ingin memberi sesuatu spesial yang dia inginkan, tak jarang hingga bersusah payah menabung agar dapat membelikan hadiah, susah-susah merencanakan surprise yang indah. Pokoknya benar-benar diniatkan dari jauh jauh hari. Tapi coba lihat saat ibu kita ulangtahun, belum tentu kita mau menabung untuk beliau. Kalau ditanya kenapa nggak memberi hadiah, jawabannya "Nanti aja kalo udah kerja", nah kenapa kalau memberi hadiah ke ibu harus menunggu sudah kerja kalau memberi hadiah ke pacar saja bisa. Apa pacar jauh lebih penting dan berarti dari seorang ibu?

Jadi, kita lebih menghargai pacar yang sering membuat kita menangis daripada menghargai ibu yang berusaha sekuat tenaga agar tidak melihat kita menangis?

Lebih mau menabung untuk membelikan kado pacar daripada membelikan kado untuk ibu? Jujur, saya dulu juga begitu, hingga suatu waktu saya berpikir "Selama ini gue nabung, usaha ini itu buat ngasih kado ke pacar, sementara sekali pun belum pernah ngasih kado ke mama", sejak saat itu saya berusaha untuk nabung supaya bisa kasih kado ke ibu saya. Walaupun sebenarnya ibu saya juga nggak minta karena beliau tau saya belum kerja. Tapi saya berpikir, "seenggaknya gue kasih kado ke mama dulu, baru ke pacar. Masa iya sok-sok an ngasih kado ke pacar padahal ngasih kado ke mama aja enggak"

Sebenarnya tujuan saya menuliskan hal ini hanya ingin membantu menyadarkan teman-teman yang masih rela membelikan kado untuk pacar, tapi melupakan hal itu untuk ibu. Bukan ingin menggurui, hanya ingin mengajak sama-sama belajar mengharga ibu dari hal yang paling sederhana. Hanya ingin mengajak teman-teman untuk kembali berpikir 

"Ngasih kado ke orang yang suka bikin sedih, bikin galau, dan belum pasti nikah aja bisa.. masa ngasih kado ke orang yang selalu mau ngebahagiain kita gimana pun caranya, dan Inshaa Allah dipisahkan oleh maut nggak bisa? Bukan nggak bisa.. tapi nggak mau. Buktinya, nabung buat pacar aja kan bisa, berarti harusnya buat ibu juga bisa dong? Ini cuma hal kecil, bentuk perhatian dan kasih sayang yang paling nyata. Yuk sama sama renungkan dan merubah diri"


Monday, 10 August 2015

Selinting Rokok Dengan Sejuta Bahaya

   Rokok adalah sebuah silinder dari kertas, berukuran panjang dan berisi daun-daun tembakau yang sudah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya. Namun saat ini rokok memiliki pengertian yang berbeda. Saat ini rokok dinilai sebagai benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan pada penggunanya. Rokok tidak memiliki kelebihan yang berarti bahkan tidak memberikan keuntungan bagi konsumennya, rokok hanya memberi keuntungan pada produsennya saja. Di balik kegunaan rokok yang sangat sedikit itu, terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok (perokok aktif) maupun orang-orang di sekitar perokok yang bukan perokok (perokok pasif).
             Konsumen biasanya merokok dalam jangka waktu yang lama karena kecanduan, namun bukan hanya karena kandungan nikotin yang terdapat di dalamnya, tapi juga karena faktor lain, misalnya faktor sosial, ini adalah faktor terbesar yang mempengaruhi kebiasaan merokok seseorang yang bukan perokok, bila hidup atau bekerja bersama dengan seorang perokok secara otomatis salah satunya akan terpengaruh. Seseorang yang bukan perokok dapat mulai mencoba merokok. Kedua, kebutuhan menghisap dan mengunyah. Kebutuhan berkurang dan hilang, tapi pada beberapa orang masih ada sampai dewasa. Beberapa orang menggunakan rokok atau perangkat merokok dan asap sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ini. Ketiga respon mengulang otomatis ketika seseorang telah melakukan sesuatu berkali-kali dan cukup sering, maka akan tercipta pola pengulangan perilaku tertentu secara otomatis. Hal ini terutama berlaku jika tindakan tertentu dilakukan dalam situasi yang tidak menyenangkan, yang memberikan efek membuat seseorang merasa lebih aman dalam kehidupan sehari-hari dan rutinitas. Pola pengulangan otomatis inilah yang menjadi komponen utama dalam kebiasaan merokok.
            Pada zaman dahulu, rokok biasa dikonsumsi oleh laki-laki dewasa. Karena, rokok dianggap sebagai sesuatu yang bisa membuat seorang laki-laki merasa lebih jantan. Namun, di era modern saat ini, rokok tidak hanya dikonsumsi oleh laki-laki dewasa, melainkan juga para wanita dewasa serta para remaja. Karena rokok diperjualbelikan dengan bebas dan dapat diperoleh dengan mudah, maka para remaja yang berusia di bawah tujuh belas tahun pun dapat mengonsumsinya. Bahkan merokok di kalangan remaja saat ini sudah menjadi hal yang biasa dan trend yang tidak asing lagi.
              Tidak dapat dipungkiri bahwa rokok memiliki dampak negatif terhadap tubuh, terhadap orang lain bahkan terhadap ekonomi. Kerugian yang ditimbulkan rokok terhadap tubuh sendiri antara lain, pertama, asap rokok yang mengandung kurang lebih 4000 bahan kimia yang 200 di antaranya beracun dan 43 jenis lainnya dapat menyebabkan kanker bagi tubuh. Kedua, seseorang yang mencoba merokok biasanya akan ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit dilepaskan dalam kondisi apapun. Dengan demikian, semakin banyak pula racun yang masuk ke tubuh.
           Sementara bagi orang lain yang beradadi sekitar perokok juga akan terkena dampak negatifnya, yaitu asap rokok yang ikut terhirup olehnya. Asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan pengiritasi mata dan pernapasan. Berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa rokok juga memberi dampak negatif pada orang-orang yang hanya menghirup asap rokok dengan tidak sengaja. Sedangkan terhadap ekonomi, rokok juga mempunyai dampak negatif. Harga rokok yang mahal akan sangat memberatkan orang yang tergolong miskin, sehingga dana kesejahteraan dan kesehatan keluarganya sering dialihkan untuk membeli rokok.
          Namun, tetap ada jalan bagi yang berniat untuk meninggalkan kebiasaan merokok.pertama, niat dan kesempatan. Kedua, kurangi jumlah rokok yang dihisap. Ini adakag tahap awal bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin meninggalkan kebiasaan merokok. Ketiga, membaca artikel tentang bahaya merokok, sehingga dapat memahami bahaya merokok yang sesungguhnya. Keempat, mencari tempat bebas asap rokok. Kelima, menjadi orang super sibuk, dengan kesibukan yang ada kebiasaan merokok pun bisa menjadi terlupakan. Kelima, konsumsilah buah-buahan. Salah satunya buah pisang, karena buah itu dapat menghilangkan rasa pusing karena kecanduan. Keenam, nasihat untuk diri sendiri. Ketujuh, meminta dukungan keluarga dan orang lain. Ini juga menjadi poin terpenting yang akan sangat berguna membangkitkan semangat agar terlepas dari kebiasaan merokok.
       Berdasarkan fakta-fakta yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa merokok merupakan kegiatan yang kurang bermanfaat yang dilakukan manusia yang mengorbankan uang, kesehatan, kehidupan sosial, pahala dan sebagainya. Maka, sebisa mungkin jauhilah kebiasaan buruk ini, dan bagi yang sudah terlanjur mengonsumsinya, belum terlambat untuk meninggalkan kebiasaan buruk ini, asalkan ada niat dan kesungguhan pasti dapat terlepas dari jeratan rokok yang membahayakan.

Reason

Ketika ada pepatah mengatakan 
"Everything happens for a reason" 
namun di sisi lain ada yang menyuarakan 
"Tak perlu satu alasan pun untukmu mencintai seseorang"

Lalu???

Tak perlu bingung. :) Keduanya memang benar. Segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Termasuk dengan hadirnya cinta di antara dua insan. 

Kehadiran cinta terjadi untuk suatu alasan tanpa membutuhkan alasan untuk menghadirkannya

Sunday, 29 June 2014

Air Mata Wanita


Berhati-hatilah jika kau membuat seorang wanita menangis, karena Allah menghitung air matanya.
Wanita diciptakan dari tulang-tulang rusuk pria.
Bukan dari kakinya untuk diinjak, bukan dari kepalanya untuk ditinggikan.
Tapi dari sisinya untuk bersama dengannya, di bawah lengannya untuk dilindunginya
dan dekat dengan jantungnya untuk dicintai olehnya.


Kalimat di atas adalah salah satu kalimat terbaik yang dirasa benar oleh banyak wanita di muka bumi ini. Wanita memang ciptaan Allah yang paling mudah meneteskan air mata, mengapa? Sebabnya, perasaan seorang wanita sangatlah peka karena Allah menciptakannya dengan 9 perasaan dan 1 akal, maka mereka selalu mengutamakan perasaannya ketika ia mendapat sebuah masalah. Maka wajarlah bila seorang wanita mudah menangis dalam menghadapi permasalahan dalam hidup. Tak jarang juga mereka menangis karena rasa kecewa yang timbul karena perilaku seorang laki-laki. Dalam percintaan misalnya, beberapa wanita mudah meneteskan air mata demi menangisi orang yang dicintainya. Menyedihkan memang karena air mata itu dapat dikatakan terbuang sia-sia untuk seseorang yang belum tentu mau meneteskan air matanya untuk kami, para wanita. Namun, mungkin menangis itu memang sudah menjadi sifat yang melekat pada diri setiap wanita. Kami menangis bukan karena kami lemah, tapi memang begitulah cara terbaik bagi kami untuk mengeluarkan semua perasaan dan emosi yang ada. 

Namun, tahukah kalian para laki-laki, bahwa ketika kalian membuat seorang wanita menangis (siapapun itu) akan ada hukuman atau balasan tersendiri bagi kalian? Ternyata, air mata wanita dan isak tangis mereka bukanlah suatu hal yang sepele dan tak ada artinya. Wanita adalah ciptaan Allah yang sangat amat berarti, apalagi air mata mereka. Dapat dipahami melalui cerita sederhana di bawah ini. 

Suatu hari, ada seorang laki-laki berdoa di tengah perasaan marahnya. Dia merasa kesal sebab pasangannya seringkali menangis di setiap perdebatannya. Karena tak mau semakin emosi, dia pun sujud dan berdoa pada Allah SWT. Dia bertanya, "Ya Allah, mengapa wanita seringkali menangis? Aku bosan dan jenuh melihat dan mendengarnya," keluh pria itu. 

Jawab Tuhan kepadanya:“Karena wanita itu unik. AKU menciptakannya tidak sama seperti kamu. Ia adalah makhluk yang istimewa. KU kuatkan bahunya untuk menjaga anak-anakmu kelak. KU lembutkan hatinya untuk memberimu rasa aman. KU kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia. KU teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah. KU beri naluri untuk tetap menyayangi walau dikhianati dan disakiti oleh orang yang disayangi. KU hembuskan kasih sayang agar ia bisa mencurahimu dengan perhatian. KU buat matanya lentik karena ia akan menjadi jendela kedamaian. KU buat senyumnya merekah seperti mahkota bunga untuk membuatmu tetap mengingat indahnya dunia. KU buat tangannya terampil untuk menjagamu agar tak pernah kekurangan. Tapi jika suatu saat ia menangis…Itu karena AKU memberikannya air mata untuk membasuh luka batin dan memberikan kekuatan yang baru. Bukanlah sebuah tanda kelemahan dan kekalahan.”


Dari cerita di atas, dapat terlihat bahwa air mata wanita bukanlah air mata kelemahan dan kekalahan, melainkan sebuah kekuatannya untuk membasuh luka batin dan menggantinya dengan kekuatan yang baru.
Itu artinya, wanita yang menangis bukanlah wanita yang lemah melainkan wanita yang kuat dan tegar, karena ia rela menangis demi mengganti itu semua dengan kekuatan yang baru. Namun bagi kalian para laki-laki, masih tegakah kalian membuat hati lembut kami terluka dan melihat kami meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Saya yakin, kalian laki-laki pasti pernah membuat seorang wanita menangis baik sengaja ataupun tidak, baik itu kepada Ibu, istri, kekasih ataupun saudara perempuan kalian. Ingatlah, mereka tetaplah seorang wanita yang memiliki air mata yang berharga dan harus dijaga setiap tetesnya. Semoga tulisan kali ini dapat membawa berkah. Aamiiin ya Rabb.

Source :
http://blognyafitri.wordpress.com
http://safamariah.blogspot.com

Wednesday, 30 January 2013

Tanda tanya

Banyak hal yang ingin kupertanyakan
Keadilan, kejelasan, kesungguhan
Hal-hal sederhana seperti itu
Melahirkan tanda tanya besar
Tak cukup nyaliku untuk mengutarakannya
Aku tak memiliki keberanian
Menyuarakan itu dengan lantang
Pengecutkah diriku?
Penakutkah jiwaku?
Lihatlah, lagi-lagi...
Tanda tanya yang tertera di akhirnya
Banyak hal yang kuragukan
Banyak hal yang tak kumengerti
Hingga malam ini, banyak terlahir tanda tanya baru
Menanti jawaban entah dari siapa
Teruslah berkembang biak "tanda tanya"ku
Hingga suatu saat semua kelak terjawabkan

Tuesday, 29 January 2013

Suara Sahabat


Hidup tanpa kasih sayang seorang ayah memang tak mudah. Kehilangan dalam suatu peristiwa disaat belum siap untuk menghadapinya hanya akan membuat luka. Seorang sahabat bercerita. "Aku sayaaaaaang sekali sama ayahku..", aku menatapnya lekat-lekat. "Dia pahlawan terhebatku", tatapannya penuh kasih sayang, menerawang jauh menembus langit biru. Kisah hidupnya yang tak mudah, membuatku memandangnya tegar. "Tetap tersenyum ya..", aku merangkul bahunya. "Apa dia juga menyayangiku?", pertanyaannya membuatku terbelalak. "Tentu saja, kenapa kau menanyakannya lagi?", "Karena aku ragu", "Kenapa kau ragu?", "Aku tak melihatnya disaat dia akan meninggalkan dunia ini, aku tak mendengar suaranya berbulan-bulan sebelum ia pergi selamanya, aku kehilangan kasih sayangnya selama bertahun-tahun. Bagaimana mungkin aku bisa tau bahwa ia menyayangiku?", ratapan pedih terpancar dari wajahnya. "Aku tak mendengar suaranya ketika ia bilang sayang padaku.", aku tak bisa berkata. "Aku rindu. Sangat rindu. Siapa yang bisa mempertemukanku dengannya? Siapa yang bisa menyampaikan kerinduanku padanya?", "Tuhan", jawabku tanpa ragu. "Berdoalah, memohonlah, sampaikan segala kerinduanmu untuk ayahmu", "Tak terbayarkan", jawabnya lagi. "Tapi akan mengurangi bebanmu. Percayalah".
 
Dari kisah nyata di atas, aku ingin teman-teman semua menghargai sosok ayah yang kita punya. Jangan pernah sekali kali membencinya, ingatlah masih banyak orang di luar sana yang memiliki jutaan rindu yang tak pernah terbayarkan. Masih banyak orang di luar sana yang haus akan kasih sayang ayah mereka. Selagi ada waktu untuk menyayangi yang masih kita punya, sayangilah. Terlebih beliau orangtua kita. Karena kita tak akan pernah tau, kapan mereka akan pergi meninggalkan dunia ini selama-lamanya.


Monday, 21 January 2013

Menguak Kerinduan


Sepi. Sendiri. Kosong. Kerinduan.

Seseorang berkata "Aku benci kesepian", yang lain menambahi "Aku benci kesendirian", suara lain berkata "Aku benci kekosongan", sesuatu yang berbeda terucap "Aku suka kerinduan".

"Bagaimana bisa kau menyukai sesuatu bernama kerinduan?", "Bukankah itu menyiksa?", "Bukankah itu hanya akan membuka lembar lama?", "Tapi itu indah", "Bagaimana mungkin sesuatu yang menyiksa kau katakan indah?", "Dengan kerinduan, kau bisa berangan-angan tentang masa lalumu itu yang telah membawa kehidupanmu sampai detik ini", "Kerinduan akan masa lalu? Benci aku mendengarnya", "Tapi aku suka merindu", "Merindu dipenuhi khayalan", "Walaupun tak selalu indah yang kukhayalkan", "Oke. Aku suka kerinduan", "Kau hanya mencoba untuk menyukainya, kawan..", "Lalu, bagaimana aku bisa merindu?", "Semua itu bisa dibuat", "Semudah itu?", "Tinggalkan hatimu sendiri, tinggalkan dirimu berdua dengan bayanganmu", "Kesendirian? Haruskah dengan itu?", "Namun itu yang kuyakini", "Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?", "Kau bisa memejamkan matamu, rasakan setiap udara yang membelai kulitmu", "Kesepian", "Aku tau kau merasakan itu", "Tujuanmu?", "Membawamu ke masa lalu", "Ya, masa laluku yang selalu kurindukan", "Anggap saja kau masuk lagi ke dunia itu", "Membawa kerinduan yang tak mungkin tersampaikan?", "Setidaknya semua akan terasa lebih tenang", "Lega?", "Itu yang kuharapkan", "Rindu tak membawa beban?", "Melepas beban", "Jika ada tetesan membasahi pipi?", "Sebuah bentuk kelegaan", "Berbesar hati", "Berlapang dada", "Membiarkan mereka tetap berlalu", "Mengihklaskan apa yang terlewatkan", "Kerinduan tak membuatmu tersiksa", "Memotivasi", "Lakukan yang terbaik untuk kedepannya", "Suatu saat akan kubuat sesuatu", "Yang akan jauh lebih indah untuk kau rindukan"

Saturday, 12 January 2013

Reason

Ketika ada pepatah mengatakan 
"Everything happens for a reason" 
namun di sisi lain ada yang menyuarakan 
"Tak perlu satu alasan pun untukmu mencintai seseorang"

Lalu???

Tak perlu bingung. :) Keduanya memang benar. Segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Termasuk dengan hadirnya cinta di antara dua insan. 

Kehadiran cinta terjadi untuk suatu alasan tanpa membutuhkan alasan untuk menghadirkannya

Sunday, 14 October 2012

Darimu


Darimu, aku belajar banyak hal. Darimu, aku belajar banyak hal. Darimu, aku belajar banyak hal.

Darimu, aku belajar banyak hal. Darimu, aku belajar tentang keyakinan. Darimu, aku belajar tentang kepercayaan. Darimu, aku belajar tentang arti kehidupan. Darimu, aku belajar tentang kedewasaan. Darimu, aku belajar tentang menentukan pilihan. Darimu, aku belajar untuk selalu siap menerima konsekuensi dari pilihanku sendiri. Darimu, aku belajar untuk mengerti bahwa setiap orang memiliki pilihan masing-masing. Darimu, aku belajar bahwa sesungguhnya setiap orang bebas memilih. Darimu, aku belajar untuk tidak melupakan masa lalu. Darimu, aku belajar untuk tidak melupakan orang-orang yang pernah memberi warna di kehidupan, sekalipun warna hitam yang diberikan. Darimu, aku belajar untuk yakin pada satu pilihan. Darimu, aku belajar untuk tidak mudah tergoda. Darimu, aku belajar untuk lebih tegar. Darimu, aku belajar untuk memaafkan orang lain. Darimu, aku belajar bagaimana caranya melepas. Darimu, aku belajar berbesar hati. Darimu, aku belajar untuk ikhlas. Mungkin engkau tidak pernah menyadari bahwa aku telah mencuri banyak ilmu darimu secara diam-diam. Sosok mu yang begitu istimewa memaksaku untuk terus belajar banyak hal dari dirimu, walau tak pernah kau ketahui.

Darimu juga, aku belajar untuk tidak memaksakan diri memendam sesuatu. Tapi.. sayang sekali, aku belum berhasil menerapkan ilmu yang satu ini. Masih terlalu sulit untukku saat ini. Oya, masih ada beberapa ilmu yang kucuri darimu. Namun, kurasa ini tidak terlalu membahagiakan. 

Darimu, aku belajar arti cinta yang sesungguhnya. Darimu, aku belajar memberi tanpa harus menerima. Darimu, aku belajar mengagumi tanpa harus mengatakan. Darimu, aku belajar untuk sabar menunggu. Darimu, aku belajar untuk tidak terlalu berharap. Darimu juga, aku belajar mencintai tanpa pernah menyatakan.

Saturday, 6 October 2012

Semuanya..... Sia-sia

"Ada saatnya dimana kamu mengasihani dirimu sendiri, di saat apa yang kamu perjuangkan, sia sia....."

Sepertinya pepatah di atas memang benar adanya. Terbukti dari beberapa kisah yang akan aku tuliskan di bawah ini. Sepenggal kisah yang membuktikan bahwa beberapa hal yang di perjuangkan bisa saja hanya menjadi sia-sia. 

Kisah 1:
Menjalin kasih di atas sebuah perbedaan memang tidak mudah, sangat tidak mudah. Tapi, bukan berarti tidak bisa dilalui. Banyak yang mampu melewatinya sampai batas akhir dan berakhir dengan indah serta kebahagiaan. Namun, takdir setiap insan memang berbeda. Seperti apa yang dialami oleh "mereka" berdua. Bertahun-tahun dilalui bersama. Sedih, senang, tangis, tawa, terluka, bahagia, mereka tetap bersama. Walau mereka sadar, mereka berdiri di atas sebuah perbedaan dan ketidakpastian. Mereka tidak peduli, mereka tetap menjalani hari-hari mereka dengan cinta. Berjuang bersama. Mencoba melawan dunia, mencari kemenangan bersama. Membangun mimpi indah bersama dengan harapan semua akan terwujud atas seizin yang Maha Kuasa. Namun, apa boleh buat. Salah satu pihak terlihat mulai goyah. Mulai melemah lantas menyerah. Perjuangan yang mulai rapuh. Kenangan akan tahun-tahun yang pernah dilalui bersama terpaksa dihapuskan. Mimpi-mimpi besar nan indah terpaksa di lupakan. Berpisah. Sungguh, perjuangan yang sia-sia. 

Kisah 2:
Kehadiran seseorang di tengah tengah perjalanan sepasang kekasih memang berakibat fatal. Apalagi bila salah satu di antara sepasang kekasih ini mudah tergoda. Seperti kisah yang satu ini. 
Berawal dari perkenalan biasa antara tokoh A dan C. B yang tidak mengetahui apa-apa, sama sekali tidak merasa curiga. Tokoh A dan C berteman seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang menimbulkan kejanggalan ataupun kecurigaan. Namun seiring berjalannya waktu, ada sebuah masalah besar yang dialami oleh tokoh A dan B. Tokoh A merasa jenuh. Jenuh dengan keadaan yang ada dan jenuh akan kehadiran tokoh B. Tanpa disadari, tokoh A dan C menjalin komunikasi yang rutin. Komunikasi yang bisa dibilang mulai lebih dari sekadar teman biasa. Tokoh A pun kini mulai terlihat ceria dan melupakan masalah besarnya bersama tokoh B. Semua itu karena kehadiran tokoh C. Kehadirannya membuat tokoh A merasa semuanya menjadi lebih baik. Muncullah sebuah perasaan yang dinamakan 'cinta'. Mungkin bisa dibilang 'cinta terlarang', karena kondisi saat itu tokoh A masih memiliki hubungan dengan tokoh C. Segala pertimbangan pun dilakukan oleh tokoh A. Dia ingin memilih, antara tokoh B atau tokoh C. Dengan keyakinan penuh, dia memilih tokoh C dan memperjuangkan 'cinta terlarang'nya itu. Hari-hari berikutnya pun dilewati tokoh A bersama tokoh C. Tokoh A merasa dia memilih dengan tepat, mengambil keputusan yang tepat. Namun ternyata, suatu hari dia menyadari bahwa pilihannya salah besar. Tokoh C kini meninggalkannya. Meninggalkan tokoh A dan memilih orang lain. Tokoh A merasa benar-benar kecewa dan sedih. Dia memperjuangkan seseorang yang sesungguhnya tak pernah ingin diperjuangkan apalagi memperjuangkan dirinya. Sungguh, perjuangan yang teramat sia-sia.

Kisah 3:
Dihadapkan dengan dua pilihan itu memang sulit. Terlalu sulit untuk seseorang di dalam kisah ini. Seseorang yang harus memilih salah satu di antara dua yang ada. Memilih satu orang untuk diperjuangkan. Memilih antara A dan B. Keduanya memiliki peluang yang sama. Keduanya memberikan perhatian yang sama. Membuat dirinya semakin sulit untuk memilih. Namun, ada satu kelebihan yang dimiliki dari tokoh B. Kelebihan yang membuat seseorang ini merasa lebih tertarik pada tokoh B. Walaupun sesungguhnya ia memiliki perasaan yang sama terhadap keduanya. Dia merasa dia tetap harus memilih. Dengan keyakinan penuh, dia memilih tokoh B. Memperjuangkan tokoh B dan melupakan tokoh A. Tetapi, amat sangat terkejut dirinya ketika dia merasa tokoh B mulai mkenghindarinya. Mengurangi komunikasi di antara mereka. Terlebih mengejutkan lagi ketika seseorang ini mulai menyadari kedekatan tokoh B dengan sahabatnya sendiri. Dia merasa sedih dan memutuskan untuk mengalah. Dia mengalah demi sahabatnya, dan ia merasa perjuangannya sia-sia.

Thursday, 4 October 2012

Dalam Diam :')


Dalam diam, aku tersenyum
Dalam diam, aku menangis
Dalam diam, aku tertawa
Dalam diam, aku terluka

Dalam diam, ku cari dirimu
Dalam diam, ku telusuri tentangmu 
Dalam diam, ku kagumi dirimu
Dalam diam, ku berharap padamu

Kutulis puisi itu pada selembar kertas. Sepenggal puisi yang memiliki arti mendalam bagiku. Semenjak pertemuanku dengannya, aku merasa ada yang berbeda. Sempat kutahan perasaan ini, berusaha menghindarinya. Namun aku salah, semakin aku berusaha menghindar, semakin aku berusaha untuk lari dari perasaan ini, semakin kencang pula aku diburu olehnya. Dikejar oleh perasaan yang sesungguhnya tak ingin aku akui. Perasaan yang seakan-akan ingin tinggal di dalam hatiku. Menjadikan hatiku sebagai tempat peristirahatannya.

Kini, aku mengalah dengan perasaan ini. Aku membiarkannya masuk. Aku membiarkannya tinggal sementara di hatiku. Tanpa sadar, kalau ini bisa saja untuk selamanya. Namun, kenapa disaat semua ini baru saja terjadi, aku menerima sebuah kenyataan yang sedikit memilukan. Agak pahit terasa. Sahabatku memiliki perasaan yang sama kepada orang yang sama pula. Bahkan ternyata, dia telah lama memendam perasaan itu. Aku merasa terkejut, merasa bersalah, merasa serba salah. Keraguan dan kebimbangan mulai muncul. Terlebih lagi setiap aku mendengarkan cerita tentang mereka. Sahabatku merasa begitu senang ketika bercerita tentang kedekatan mereka. Tergambar jelas raut kebahagiaan di wajahnya. Sebagai sahabat yang baik, aku tak mau melukai perasaannya. Aku berpura pura turut senang dalam ceritanya. Tertawa sambil menatap binar matanya yang memancarkan kebahagiaan, semburat senyumnya pun memaksaku untuk ikut tersenyum, walau sesungguhnya jauh di dalam hatiku telah tercipta sebuah luka. Kali ini, aku tidak lagi mengalah pada perasaanku. Tapi aku mengalah pada sahabatku. Aku mendekatkan sahabatku dengan pujaan hatinya yang sesungguhnya pujaan hatiku juga. Aku berusaha menghapus perasaanku, memendam perasaanku dalam dalam dan menguburnya. Aku tak ingin ada seorang pun yang tahu tentang perasaanku ini. Hingga akhirnya, mereka berdua bisa benar-benar bersama. Aku yang lemah hanya bisa memandang kebahagiaan mereka dari kejauhan, tersenyum getir sambil bergumam “Akulah seseorang yang mencintaimu dalam diam”

Sunday, 11 March 2012

Surat untuk Ayah

Aku lelah. Lelah dengan semua ini. Sekelilingku ramai, penuh gelak tawa, namun tak demikian pada hatiku. Gelap, sepi, tak berarti. Kerinduan mendalam kini terkuak kembali. Ayah. Ingin rasanya berlari ke dalam dekapanmu, bermanja seolah aku masih seorang balita. Ya, aku merindukanmu. Ingin rasanya aku mencuri sayap-sayap malaikat dari surga dan menggunakannya untuk diriku. Kugunakan untuk terbang, menjemputmu dan membawamu kembali ke dunia ini. Tak akan kubiarkan kau pergi meninggalkanku lagi. Aku kesepian tanpamu Ayah. Setiap malam aku menantimu, hadir menemaniku di atas ranjang pemberianmu. Bertahun-tahun ku menanti, kau tak kunjung kembali. Aku lelah. Dicaci maki oleh banyak orang, dimusuhi oleh keadaan, diburu oleh waktu, diterjang kesepian. Aku ingin hidup bersamamu lebih lama lagi. Aku ingin memandang wajahmu lebih lama. Aku ingin merasakan hangat dekapanmu, manis dan lembut ciumanmu, indah setiap kata-kata sayangmu. Dimana? Dimana dapat aku temukan kasih sayang seindah itu. Andai saja...

Andaikan detik itu kan bergulir kembali, kurindukan suasana basuh jiwaku. 
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu... 

Itu sepenggal lirik lagu yang aku pikir sangat cocok untuk keadaan ini. Ayah, disini aku kesepian. Aku sering berdoa pada Tuhan untuk mengembalikanmu padaku. Namun sepertinya aku terlalu banyak dosa sehingga Tuhan tidak pernah mengabulkan doaku :) Sampai saat ini Tuhan tidak pernah mengembalikanmu padaku. Sedih memang, namun aku tak putus asa. Aku mengulang doaku, namun merubah isinya. Aku berkata "Tuhan, jika Engkau enggan untuk mengembalikan ayahku, tidak apa-apa. Tapi jika memang begitu, tolong bawa aku ke surga. Biarkan aku hidup disana selamanya bersama ayahku :)"  Aku sangat berharap Tuhan mengabulkan doaku. Namun, sampai saat ini juga, aku masih belum bisa sampai ke surga.  Maka dari itu aku menulis surat ini dengan harapan agar salah satu malaikat dari surga mau mengambilnya dan memberikannya pada ayah. Semoga saja :) 
Sekian dulu surat dariku Ayah, tenanglah di sana,dan percaya bahwa tak lama lagi aku kan menjemputmu atau hidup bersamamu di surga.

Peluk cium,


Gwen A. P.

Friday, 9 December 2011

Mengapa Kita Perlu Menangis :")

Hai guys! Kali ini gue akan menyajikan sebuah artikel yang bertemakan 'MENANGIS'.. di tahun 2011 ini, kalian semua pasti tau kan yang namanya galau? Gue juga yakin kalian semua pasti pernah ngerasain kegalauan walau cuma sekali. Karena banyak anak muda zaman sekarang yang bilang "Gak galau berarti gak gaul". Setujukah kalian dengan pendapat itu? (coba dijawab dalam hati..) Sebenarnya, artikel yang ngebahas tentang nangis, air mata dan semacam ini udah nggak sulit buat ditemuin. Udah ada beberapa artikel lain yang ngebahas tentang hal ini. Gue nggak bermaksud buat meng-copy ide mereka, gue hanya mau menyajikannya lagi dengan bahasa gue sendiri dan tentunya ada banyak tambahan yang berupa pendapat pribadi gue. Oke.. mari kita mulai. Selamat membaca kawan-kawan ;)

Gue sengaja ngasih judul artikel ini "Mengapa Kita Perlu Menangis", karena menurut gue, masih ada orang-orang di luar sana (khususnya cewek) yang masih belum ngerti apa arti menangis sesungguhnya. Selain itu gue juga mau menginformasikan bahwa menangis itu nggak selamanya buruk, nggak selamanya kelihatan lemah. Menangis itu juga nggak selamanya malu-maluin, menangis itu sebenarnya indah, kalau aja kita ngerti apa arti mengangis sebenarnya.

Sebagai orang beriman, kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT pasti ada manfaatnya. Sekecil apapun itu. Begitu juga dengan menangis, dan air mata. Ternyata keduanya memiliki arti penting dalam kehidupan kita.

Menangis itu adalah suatu kegiatan yang merupakan pelampiasan perasaan. Ketika kita merasa sedih, merasa terpukul, merasa kecewa, marah, kehilangan, kesepian, atau bahkan kebahagiaan, kita dapat menangis. Menangis yang dapat melegakan hati dan perasaan, menghilangkan beban pikiran maupun batin. Membuat segalanya seakan lebih baik, lebih tenang, dan lebih lega. Coba bayangkan jika kita tidak bisa menangis, apa yang akan kita lakukan supaya kita dapat merasa lega? Menangis itu jauh lebih baik daripada mencaci maki, berteriak, bicara kasar ataupun yang lain yang dapat membuat kita merasa lega. 

Dengan setetes air mata saja, beban kita dapat berkurang walau hanya sedikit. Ketika kita merasa sedih, merasa kesal atau kecewa, kita tidak seharusnya mencaci diri sendiri, berteriak, menjadi pemarah, sensitif dan penuh emosi. Kita cukup duduk diam, pejamkan kedua mata, tarik nafas panjang, pikirkan apa yang menjadi beban kita, dan dengan sendirinya tetes demi tetes air mata akan keluar mewakili setiap perasaan kita. Biarkan saja air mata itu terus mengalir, dengan begitu berarti beban kita juga akan terus keluar. Menangis itu tidak buruk, menangis itu baik, karena dengan menangis, berarti kita telah berusaha membuang beban yang ada. Daripada hanya sekedar dipendam dan berpura-pura tersenyum di luarnya. 

Selain itu, air mata sendiri memiliki manfaat yang mungkin kalian semua belum tahu.
Secara psikologis, menangis mampu membuat perasaan menjadi lebih baik, nyaman, dan tenang karena tangisan dapat membantu menyingkirkan kimiawi stres dalam tubuh. Berkaitan dengan ini, ada 4 manfaat menangis.
   1. Meningkatkan mood
       Menangis bisa menurunkan tingkat depresi seseorang. Dengan menangis, mood akan  terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena luapan perasaan atau emosi mengandung 24% protein albumin yang bermanfaat dalam mengatur kembali sistem metabolisme tubuh. Air mata tipe ini jelas lebih baik dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata.
   2. Mengurangi stress
       Penelitian menyatakan bahwa air mata ternyata juga mengeluarkan hormon stres yang terdapat dalam tubuh yaitu endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin.
   3. Melegakan perasaan
       Sepertinya, setiap orang merasakan hal ini setelah menangis. Setelah menangis, berbagai masalah dan cobaan yang mendera, kekesalan dan amarah yang menyesak,  serta goresan sakit hati biasanya berkurang dan muncullah perasaan lega. Perasaan lega yang dialami seseorang setelah menangis muncul karena sistem limbik, otak dan jantung menjadi lancar. Karena itu, keluarkanlah masalah di pikiran dengan menangis, jangan dipendam karena bisa menjadi tangisan yang meledak-ledak. Malu menagis sesak di dada, tertahan menjadi ganjalan perasaan yang sewaktu-waktu bisa memporakporandakan pertahanan jiwa, rasa bahkan raga.
   4. Menjadi penghalang agresivitas
       Orang yang sedang memuncak tingkat emosinya, meletup amarahnya biasanya akan berlaku dan bersikap lebih agresif bahkan bisa berdampak destruktif. Emosi yang diluapkan dengan menangis mampu menjadi penghalang agresivitas. Seperti yang diungkapkan Oren Hasson, seorang ilmuwan dari Univesitas Tel Aviv, Israel, bahwa dengan air mata, seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan memberikan simbol dirinya tengah menyerah.

Dari segi medis, kegiatan mengundang dan mencurahkan air mata ini memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan, khususnya mata. Manfaat tersebut sebagaimana dikutif dari Beliefnet di antaranya :
  1. Membantu penglihatan. Cairan yang keluar dari mata dapat mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur.
  2. Membunuh bakteri. Air mata berfungsi sebagai antibakteri alami. Tanpa obat tetes mata, sebenarnya mata sudah mempunyai proteksi sendiri. Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan lisozom yang dapat membunuh sekitar 90-95 % bakteri yang tertinggal hanya dalam 5 menit. Misalnya, bakteri yang terserap dari keyboard komputer, pegangan tangga, bersin, serta tempat-tempat yang mengandung bakteri.
  3. Mengeluarkan racun. William Frey, seorang ahli biokimia yang telah melakukan beberapa studi tentang air mata menyatakan bahwa air mata yang keluar saat menangis karena faktor emosional ternyata mengandung racun. Jadi, keluarnya air mata yang beracun itu menandakan bahwa racun dari dalam tubuh terbawa dan dikeluarkan melalui mata.
  4. Membantu melawan penyakit. Selain menurunkan level stres, air mata juga membantu melawan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh stres seperti tekanan darah tinggi. Bagaimanapun, perasaan tertekan dan tersakiti bisa membuat seseorang stres. Endapan stres yang terpendam dengan menahan tangisan inilah yang sering menimbulkan gejala tekanan darah tinggi dan penyakit lainnya yang dipicu oleh stres.
Nah.. sudah jelas kan kalau sebenarnya menangis dan air mata itu juga mempunyai manfaat secara psikologis maupun medis. Jadi memang tidak selamanya menangis itu buruk. Hanya saja, kita tetap harus memilah mana hal-hal yang memang perlu ditangisi atau tidak. Kalian boleh menangis ketika kalian benar-benar merasa terbebani, menangislah dan buanglah beban itu jauh-jauh. Lampiaskan perasaan kalian dengan menangis maka kalian akan lega. Tidak perlu takut untuk menangis, tidak perlu malu untuk menangis, karena itu memang sangat manusiawi. :)

Tak Selamanya Indah

Berawal dari tugas cerpen di sekolah,

   Di suatu pagi yang cerah, ada sebuah keluarga sedang bermain di halaman belakang rumah mereka. Rumah yang megah, halaman yang luas dan sebuah kolam renang membuat rumah itu bak istana dalam dongeng. Seorang laki-laki berbadan tinggi, tegap, kekar, berkulit gelap dan berkacamata sedang asik bermain air bersama seorang anak perempuannya di pinggir kolam renang. Sementara seorang wanita berwajah oriental duduk tidak jauh dari mereka sambil membaca sebuah majalah. Sekali-kali dia melihat ke arah suami dan anaknya yang sedang akrab bermain. Begitu indah pemandangan itu, menggambarkan sebuah kebahagiaan dalam keluarga yang tak ada tandingannya. Semua terasa sempurna, tidak ada yang kurang.
   “Kirana, bagaimana kalau kita berenang saja?”,tanya sang ayah pada anaknya. “Ayo Yah ayo..”,jawab Kirana semangat seraya menarik lengan baju sang ayah. Ayahnya hanya tertawa melihat tingkah Kirana yang begitu semangat. Mereka pun segera berganti baju dan tanpa menunggu lama, mereka pun menyeburkan diri ke dalam kolam renang. “Brr.. dingin ya, Yah..”, kata Kirana sambil terus menggenggam tangan sang ayah. Karena Kirana berenang di kolam yang dalam, maka sang Ayah harus terus menggenggam tangan Kirana agar dia tidak tenggelam. “Hati-hati ya Nak berenangnya..”,kata sang Ibu dari tempat duduknya. Keadaan itu terus berlangsung tanpa ada yang mengganggu mereka. Sampai matahari mulai naik dan meninggi, barulah mereka menyudahi kegiatan mereka itu. Mereka semua bergegas masuk ke dalam rumah dan melanjutkan aktivitas mereka.
   Kirana adalah seorang anak perempuan yang berumur 8 tahun. Badannya kecil, berkulit sawo matang, berambut keriting dan berwajah manis. Mirip sekali dengan sang Ayah. Kirana adalah anak semata wayang dari seorang pengusaha ternama di Ibukota, dan Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kehidupan Kirana sangat tercukupi, semua kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Dari urusan sekolah, hiburan dan yang lainnya. Karena dia adalah anak tunggal, kedua orangtuanya biasa memanjakannya. Apapun yang Kirana inginkan selalu dipenuhi oleh kedua orangtuanya, terutama sang Ayah. Ayahnya begitu menyayangi dia. Apapun keinginan Kirana segera diturutinya, bahkan terkadang tanpa Kirana meminta, sang Ayah sudah memberikannya terlebih dahulu. Semua itu membuat Kirana bahagia. Kasih sayang yang melimpah dan kebutuhan yang selalu terpenuhi membuat Kirana berpikir bahwa hidup itu indah. Selamanya indah.
   “Kirana, ayo makan siang dulu..”, ajak sang Ibu. Kirana menurutinya, dia duduk di samping Ayahnya. Mereka pun makan siang bersama. Tiba-tiba sang Ayah berkata, “Bu, besok aku akan berangkat ke Vietnam, tolong disiapkan ya baju-bajuku.”, “Ayah besok mau ke Vietnam?”, sambar Kirana. “Iya sayang, ada urusan bisnis yang harus diselesaikan. Kirana mau oleh-oleh apa?”, tanya sang Ayah seraya membelai rambut Kirana. “Aku mau mata uang Vietnam dong Yah, oh ya, aku juga mau perangko dari Vietnam, supaya koleksi perangko ku makin lengkap. Hehe..”, jawab Kirana sambil tersenyum lebar. “Baiklah.. nanti Ayah belikan ya..”, kata sang Ayah sambil tersenyum.
   Sang Ayah memang sering pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya sendiri. Dia tidak mau terlalu mengandalkan orang lain atau anak buahnya. Dia lebih suka mengurus bisnisnya sendiri, kecuali di saat dia memang benar-benar tidak bisa mengurusnya, barulah dia meminta tolong anak buahnya. Kalau sang Ayah sedang ke luar negeri, terkadang Kirana merasa kesepian. Wajar saja, Kirana memang sangat dekat dengan Ayahnya. Kemana-mana selalu bersama Ayahnya. Walau merasa kesepian, tapi Kirana mengerti bahwa Ayahnya pergi untuk mengurus pekerjaan. Kirana selalu mendoakan Ayahnya agar Ayahnya  tetap selamat dimanapun dia berada.
   Keesokan harinya Ayahnya pun bersiap untuk berangkat ke Vietnam. Kirana menemani Ayahnya bersiap-siap. “Ayah berapa lama di Vietnam?”,tanya Kirana dengan wajah polosnya. “Hm.. sekitar 2 minggu..”, jawab sang Ayah. “Jangan lupa titipan aku ya,Yah.. hehe”, kata Kirana seraya memeluk erat tubuh sang Ayah. “Iya sayang, Ayah pasti ingat. Ayah pasti belikan titipan kamu.”, Ayahnya mencium kening Kirana. Mereka berpelukan erat seakan akan berpisah lama. “Loh.. Ibu kira Ayah sudah siap, ternyata masih disini sama Kirana..”, tiba-tiba Ibu masuk ke dalam kamar. “Eh.. ada Ibu, mau ikut pelukan juga nggak bu?”, goda Kirana sambil tersenyum lebar. “Hahaha.. kamu ini suka menggoda Ibu kamu ya..”, kata sang Ayah sambil mengacak-acak rambut Kirana perlahan. “Sudah sudah, Ayah harus segera berangkat, nanti terlambat sampai bandara, gawat kalau sampai ketinggalan pesawat.”, sang Ibu menggandeng tangan Kirana dan mengajak Kirana ikut keluar. “Kita nggak mengantar Ayah ke airport,Bu?”, tanya Kirana. “Tidak usah sayang. Nanti setelah mengantar Ayah ke airport, Pak Umang tidak langsung pulang ke rumah, dia mau mampir dulu ke kantor Ayah. Kirana di rumah saja ya sama Ibu.”, “Oh, oke deh Yah. Ayah hati-hati ya di jalan. Jangan lupa kabarin kita ya Yah kalau sudah sampai Vietnam”, kata Kirana berlagak seperti orang tua sedang menasihati anaknya. Sang Ayah hanya tertawa mendengar ucapan Kirana.Tanpa menunggu lama, sang Ayah pun segera masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju bandara. Dia melambaikan tangannya ke arah Istrinya dan Kirana.
   Dua minggu kemudian, Ayahnya pun pulang. “Ayaaah..”, sambut Kirana seraya berlari ke dalam pelukan Ayahnya. “Akhirnya Ayah pulang juga.. Kirana kangen banget sama Ayah..”, “Ayah juga kangen sama Kirana..”, Ayahnya mencium keningnya. “Lihat, Ayah bawa apa untuk Kirana”, Ayahnya mengeluarkan sebuah bingkisan. Bingkisan itu berisi banyak perangko dari Vietnam. “Waahhh.. banyak sekali, terima kasih Ayah..”, Kirana mencium dan memeluk Ayahnya. Ayahnya sangat senang melihat Kirana suka akan oleh-oleh yang diberikannya. Sang Ayah senang bila melihat Kirana bahagia. Kebahagiaan seperti itu pun terus tercipta di hari-hari berikutnya. Hidup Kirana seakan sempurna, tidak pernah merasa sedih. Kirana sangat bersyukur pada Tuhan atas kebahagiaan yang selama ini dia rasakan. Sekali lagi Kirana berpikir bahwa hidup akan selamanya indah.
   Hingga suatu ketika, semua kebahagiaan itu berubah menjadi keadaan yang sangat tidak diinginkan oleh Kirana. Semua kebahagiaan itu hilang entah kemana, entah direnggut oleh siapa. Keadaan di rumah Kirana menjadi tidak hangat lagi. Kini, tidak jarang kedua orang tuanya bertengkar, saling berteriak, saling membentak satu sama lain. Kirana tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi, Kirana masih terlalu kecil untuk mengetahui keadaan seperti ini. Kirana hanya bisa sembunyi ke kamarnya kalau dia sudah mendengar kedua orang tuanya mulai bertengkar. Kirana merasa takut, merasa sedih, merasa sendiri dan tidak mengerti apa yang seharusnya dia lakukan. Semenjak keadaan di rumahnya berubah, Kirana menjadi lebih tertutup dan menjadi anak yang pendiam. Keceriaan dan gelak tawanya kini tidak terdengar lagi. Ayahnya pun seakan sudah melupakannya. Ayahnya jarang pulang ke rumah, dan sudah tidak pernah mengajak Kirana bercanda lagi. Kirana benar-benar bingung, dia tidak tahu harus bercerita pada siapa. Setiap dia bertanya pada sang Ibu tentang Ayahnya, sang Ibu hanya memberi jawaban yang tak pernah berubah. Katanya, Ayah sedang ke luar negeri mengurus bisnisnya. Tapi Kirana tahu jawaban Ibunya itu hanya alasan. Kirana tahu Ayahnya tidak sedang mengurus bisnis.
   Kirana mencoba mencari tahu kemana Ayahnya pergi. Namun hasilnya nihil. Kirana memohon pada Ibunya pun, Ibunya tidak mau memberi tahu kemana Ayahnya pergi. Ibunya pun kini berubah, menjadi sensitif dan pemarah. Kirana merasa sangat kesepian, tidak ada lagi kasih sayang seperti dulu. Tidak ada lagi perhatian dan kebahagiaan seperti dulu. Kirana sangat sedih. Hingga akhirnya Kirana benar-benar ditinggal oleh Ayahnya. Dulu, Ayahnya masih sempat pulang ke rumah, walaupun sangat jarang. Namun sekarang, Ayahnya tidak pernah pulang sama sekali. Kirana bingung kemana sang Ayah pergi. Akhirnya dia memberanikan diri untuk menghubungi Ayahnya.
   “Halo.. Ayah..”, Kirana mencoba memulai pembicaraan melalu telepon genggamnya. “Kirana?”, tanya Ayahnya dengan nada seperti tidak percaya. Sesaat, Kirana terdiam. Tidak melanjutkan bicara, melainkan menangis. “Kirana.. kamu kenapa sayang? Jangan menangis ya,Nak..”, terdengar suara dari seberang. Suara itu membuat Kirana merasa tenang dan mengurangi rasa kesepiaannya. “Ayah kemana? Kenapa Ayah pergi? Kenapa Kirana ditinggal?”,Kirana mulai mengeluarkan sejumlah pertanyaan. “Kirana, maafkan Ayah ya. Ayah terpaksa pergi, ada urusan penting yang tidak bisa Ayah tinggalkan”, “Ayah bohong! Ayah pasti nggak ada urusan apa-apa, Ayah pura pura kan?”, tangisan Kirana pun pecah. Tidak ada jawaban dari Ayahnya. Kirana terus terisak. “Kirana.. Ayah mohon, maafkan Ayah. Ayah telah bercerai dengan Ibumu..”, jawab sang Ayah. Kirana menghentikan tangisannya. Sebetulnya, dia tidak mengerti benar apa arti dari kata perceraian yang baru saja diucapkan oleh Ayahnya. Usia nya terlalu dini untuk mengerti permasalahan seperti itu, yang dia tau hanyalah dadanya yang terasa sesak. Dia merasa jauh dengan Ayahnya. Dia rindu kasih sayang dari Ayahnya. “Ayah.. Kirana kangen Ayah.. Kirana mau main sama Ayah..”, Kirana mulai terisak. “Kirana tenang ya, Ayah janji, kita akan tetap bertemu walaupun bukan di rumah.”, “Ayah serius? Kita bisa bertemu?”, “Iya sayang. Kita akan bertemu setiap bulan. Tapi tidak di rumah dan tidak sama Ibu ya..”, “Loh? Kenapa? Ayah nggak kangen sama Ibu?”, “Hm.. Kirana, kamu masih kecil, belum mengerti tentang semua ini. Kirana sabar ya, yang jelas Ayah tetap sayang sama Kirana.. Sudah dulu ya Kirana, Ayah masih banyak pekerjaan..”, pembicaraan itu segera diakhiri oleh Ayahnya. Kirana terduduk di pojok kamar, terdiam dan menangis.
   Ternyata sang Ayah tidak bermain-main dengan janjinya. Semenjak Ayahnya keluar dari rumah, Kirana tetap dapat bertemu dengan sang Ayah, mereka berdua rutin bertemu walaupun hanya satu kali dalam sebulan. Biasanya mereka bertemu di mall, restoran, atau terkadang sang Ayah menjemput Kirana sepulang sekolah. Walaupun hanya sekali dalam sebulan, tapi Kirana tetap bersyukur karena masih dapat bertemu dengan Ayahnya. Mereka hanya bertemu berdua, tanpa sang Ibu. Di pertemuan yang singkat itu, Kirana selalu menceritakan apa saja yang dialaminya. Kerinduannya akan suasana rumah yang menyenangkan, juga masalah perekonomian di rumahnya yang berubah semenjak Ayahnya keluar dari rumah. “Sekarang, nggak ada lagi yang bisa beliin aku mainan kayak Ayah..”, kata Kirana. “Loh, kamu kan masih bisa minta sama Ayah. Ayah akan tetap kasih kamu mainan kalau kamu mau.”, Kirana hanya tersenyum.
   Walaupun Ayahnya sudah berpisah dengan sang Ibu, namun Ayahnya tidak melepaskan tanggung jawab begitu saja. Setiap bulannya, sang Ayah rutin memberi biaya untuk Kirana sekolah, memberi biaya untuk Kirana jalan-jalan ketika liburan sekolah, memberi biaya untuk segala kebutuhan Kirana. Walaupun tidak seperti dulu lagi, Kirana tetap mensyukuri keadaan ini. Dia masih dapat hidup dengan layak walaupun tidak dengan harta berlimpah seperti dulu lagi. Namun, karena dulu dia terlalu sering dimanja, terkadang dia menjadi anak yang keras kepala, memaksakan kehendak dan ingin dituruti keinginannya. Hanya terkadang saja dia terlihat dewasa dan terlihat mengerti keadaan yang telah berubah ini.
   Bertahun-tahun pun dia lewati dengan kehidupan apa adanya, Kirana semakin terbiasa dengan keadaan hidupnya yang baru. Hingga sampailah dia ke umur yang memasuki masa remaja, kini Kirana berumur tiga belas tahun. Ayahnya pun mengajak Kirana untuk merayakan ulangtahunnya itu, tentu saja Kirana merasa sangat senang. Ayahnya mengajak Kirana berjalan-jalan seharian dan mengajak Kirana makan malam di sebuah restoran Jepang. Kirana sangat senang, dia dan Ayahnya duduk di sebuah meja makan yang di depannya ada seorang juru masak yang ternyata langsung memasak pesanan yang dipesan mereka. Kirana baru pertama kali masuk ke restoran Jepang dan dia merasa senang. Satu hal lagi yang membuat harinya semakin sempurna, ternyata Ayahnya menyiapkan kejutan kecil untuknya. Tiba-tiba beberapa pelayan datang mendekati meja mereka, Kirana bingung, namun tiba-tiba keluarlah seorang pelayan lain yang membawakan kue tart beserta lilin di atasnya. Para pelayan di sekelilingnya menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ khusus untuknya. Kirana menatap ke arah Ayahnya dan memeluknya. Kirana merasa tersanjung dan sangat bahagia. Hari itu semua terasa sempurna di mata Kirana.
   Waktu terus berjalan, hari-hari Kirana pun terus berlalu. Setelah hari paling sempurna terjadi di saat Kirana berulang tahun, tidak ada lagi hari bahagia lainnya. Hari-hari Kirana semakin sepi, semakin kelam. Kini, sang Ayah tidak pernah lagi mengajak Kirana untuk bertemu. Entah apa alasannya, Kirana tidak mengerti. Komunikasi mereka pun tidak berjalan lancar seperti dulu. Kirana semakin rindu dengan Ayahnya. Semakin merasa kehilangan, Kirana benar-benar sedih dengan semua keadaan ini. Kirana rindu kehidupannya yang dulu, Kirana rindu akan masa lalunya yang benar-benar indah. Kini Kirana mengerti, hidup tidak selamanya indah. “Ah.. andai waktu bisa kuulang..”, gumam Kirana. Kirana mencoba menghubungi Ayahnya, namun tidak ada hasil. Ayahnya tidak pernah menerima telepon  dari Kirana. Komunikasi mereka pun semakin berkurang hingga akhirnya benar-benar tidak berkomunikasi sama sekali.
   Kirana tidak bisa menerima semua itu begitu saja, dia mencoba bertanya pada Ibunya, tapi Ibunya tidak pernah memberi penjelasan yang sebenarnya pada Kirana. Kirana terus berdoa, berjuang mencari Ayahnya. Namun, dia tidak pernah berhasil. Akhirnya Kirana pun merasa lelah, dia patah semangat dan mulai mencoba menerima semuanya. Kini, dia tidak lagi berusaha mencari Ayahnya, dia merelakan sang Ayah meninggalkan dirinya, walaupun sebenarnya dia merasa kecewa. Kirana menjalani hari-harinya yang baru, tanpa Ayah, tanpa kasih sayang dari Ayah, bahkan tanpa mendengar suara dan kabarnya. Terkadang Kirana berpikir, dimana Ayahnya berada, sedang apa, apakah Ayahnya merindukannya juga. Tidak jarang Kirana menangis di dalam doanya, teringat masa kecil bersama Ayahnya yang begitu menakjubkan.
   Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, Kirana tetap tidak punya kabar tentang keadaan Ayahnya. Sampai-sampai Kirana sudah terbiasa hidup tanpa Ayah. Selama tiga tahun itu pun Kirana menjalani hidupnya dengan tidak mudah. Hidup pas-pas an, hidup seadanya, dan kebutuhan di rumahnya pun tidak lagi terpenuhi dengan baik. Bukan itu saja, tumbuh dewasa tanpa kehadiran seorang Ayah membuat Kirana kekurangan kasih sayang, kurang perhatian, dan pertumbuhan psikologisnya pun tidak berlangsung dengan baik. Terkadang teman-teman Kirana suka bertanya tentang Ayahnya, namun Kirana tak pernah bisa menjawabnya. Kirana merasa iri bila mendengar teman-temannya bercerita tentang Ayah mereka, apalagi jika Kirana melihat teman-temannya dijemput oleh Ayah mereka masing-masing ketika pulang sekolah. Kirana teringat betul bagaimana dulu dia juga pernah dijemput oleh sang Ayah. Untuk kesekian kalinya Kirana merasa sangat rindu dengan kehadiran sang Ayah.
   Kini, Kirana telah berusia tujuh belas tahun, empat tahun telah berlalu semenjak Ayahnya pergi dari rumah. Di hari spesialnya, Kirana sangat berharap Ayahnya datang menemuinya dan mengucapkan selamat ulangtahun padanya, tapi sayang semua itu hanyalah sebuah harapan, yang tidak terwujud dengan sempurna. Ayahnya tidak datang, tidak menemuinya, bahkan tidak menghubunginya. Kirana tidak mendapat ucapan ulangtahun dari sang Ayah. “Ayah.. aku rindu Ayah, aku mau Ayah ucapin selamat ulangtahun buat aku,Yah..”, kata Kirana sambil terisak. Kirana memandang wajah Ayahnya dalam sebuah foto, didekatkannya foto itu ke dadanya, dipeluknya erat. Air matanya menetes, dia menatap foto itu dan air matanya pun jatuh membasahi foto yang sedang digenggamnya. “Ayah, Kirana sedih waktu Kirana nggak bisa bilang selamat ulangtahun ke Ayah di hari ulangtahun Ayah. Sudah empat tahun kita nggak ketemu Yah, sudah empat tahun itu pula aku nggak bisa ucapin selamat ulangtahun ke Ayah, begitu juga sebaliknya. Sekarang aku udah tujuh belas tahun Yah, Ayah bisa bayangin kan gimana aku udah mulai tumbuh dewasa? Aku kangen Ayah..”, Kirana berbicara sendiri pada foto itu. Dia terus menangis. Dia benar-benar merasa rindu, dia teringat bagaimana sedihnya dia disaat hari ulangtahun Ayahnya,  dia tidak bisa bertemu dan mengucapkan selamat ulangtahun pada Ayahnya.
   Setelah cukup lama dia menangis, akhirnya dia pun tersadar bahwa hidupnya harus tetap berjalan. Dia berhenti menangis, dia mengambil laptop dan menyalakannya. Kemudian dia mencoba mengetik nama ayahnya di google, “Ah.. mungkin saja ada info yang bisa aku dapat tentang Ayah”, gumamnya. Akhirnya, beberapa artikel yang memuat nama Ayahnya pun tampil di layar. Dia membuka beberapa di antaranya, hingga dia menemukan biodata tentang Ayahnya. Namun disana, terpampang sebuah nama yang membuatnya bertanya-tanya. Ada nama seorang laki-laki yang tertulis sebagai anak Ayahnya. Langsung saja Kirana mencoba menghubunginya. Laki-laki itu bernama Hans. “Halo..”, kata Kirana memulai pembicaraan. “Halo.. ini siapa ya?”, sahut orang itu. “Hm.. betulkah ini Hans Sutaryo?”, “Oh iya.. betul. Anda siapa ya? Ada keperluan apa?”, “Saya Kirana, apa betul Anda ini anak dari Bapak Heru Sutaryo?”, “Betul, darimana Anda tahu?”, jawabnya lagi. Akhirnya Kirana pun menceritakan siapa dia sebenarnya. “Baiklah kalau begitu..”, kata Hans. “Kamu panggil saja aku Bang Hans, aku mengerti siapa kamu sebenarnya.”, sambungnya lagi. “Terimakasih banyak Bang, terimakasih mau mendengarkan aku.”, jawab Kirana.
   Akhirnya, Kirana pun rutin berkomunikasi dengan Bang Hans. Kirana pun beberapa kali mendapat kabar tentang Ayahnya dari Bang Hans. Kirana pun akhirnya mengerti kenapa Ayahnya pergi dari rumah. Ternyata, sang Ayah telah mempunyai istri lain sebelum bertemu dengan Ibu Kirana. Bang Hans adalah anak Ayahnya dari istri pertamanya. Kirana tidak terlalu memikirkan masalah itu. Kini, Kirana mendapat banyak bantuan dari Bang Hans, kebutuhannya mulai terpenuhi. Kirana sangat berterima kasih kepada Bang Hans. Beberapa kali Kirana meminta izin untuk dipertemukan dengan sang Ayah, namun Bang Hans tak pernah mengabulkan permohonannya itu, dan Kirana tidak berani untuk memaksakan kehendaknya.
   Beberapa bulan setelah Kirana bertemu dengan Bang Hans, Kirana mendapat kabar bahwa Ayahnya terkena struk ringan dan terpaksa dirawat di rumah sakit. Kirana mengetahuinya dari Bang Hans. “Adikku, saat ini Ayah dirawat di rumah sakit karena terkena struk ringan..”, jelasnya. “Astaga, Ayah terkena struk?”, tanya Kirana dengan nada yang agak tinggi. “Lalu, bagaimana keadaannya?”, tanya Kirana lagi. “Kamu tenang saja ya, terus saja berdoa, dokter sedang berusaha merawatnya, yang sabar ya Kirana”, jawab Bang Hans lagi. Kirana terus mendoakan sang Ayah, Kirana tidak mau terjadi sesuatu yang berbahaya pada Ayahnya. Semenjak saat itu, Ayahnya terus-menerus keluar masuk rumah sakit, penyakitnya semakin kompleks, namun Kirana tidak mengerti benar tentang penyakit Ayahnya.
   Suatu sore Bang Hans menghubungi Kirana. “Kirana..”, katanya “Bagaimana kabarmu?”, “Baik Bang..”, jawab Kirana. “Ada apa ya, Bang? Tumben telepon sore-sore begini..”,sambungnya. “Kirana, Abang mempunyai sebuah kabar tentang Ayah”, Bang Hans terdiam sejenak. “Kabar apa Bang?”, Tanya Kirana. “Maafkan Abang baru memberi tahu saat ini, 1 bulan yang lalu Ayah kembali masuk rumah sakit..”, “Loh? Kenapa Abang nggak kasih tau aku?”, “Maaf Kirana, waktu itu Abang lagi sibuk mengurus Ayah. Kirana.. saat ini keadaan Ayah sudah berat.”, “Maksud Abang apa?”, Tanya Kirana. “Keadaannya semakin menurun, tidak ada kemajuan dalam kesehatannya, para dokter yang merawatnya pun sudah angkat tangan..”, sesaat keduanya terdiam. Kirana merasa sangat sedih dan takut. “Besok, Ayah akan dibawa pulang saja, karena di rumah sakit pun percuma, keadaannya tidak juga membaik. Biar saja dia beristirahat di rumah.”, jelasnya. “Titipkan salamku untuknya ya Bang, aku sangat merindukannya.”, jawab Kirana. “Pasti Abang sampaikan, tolong doakan Ayah ya Kirana.”
   Dua hari kemudian, Bang Hans kembali menghubungi Kirana. “Adikku sayang..”, kata Bang Hans. Suaranya agak berbeda dari biasanya. “Kamu yang sabar ya..”,sambungnya. “Ada apa Bang?”, Kirana mulai khawatir. “Apa ini tentang keadaan Ayah?”, tanya Kirana. Tak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis yang tertahan. “Bang, Abang nangis ya?”, “Kirana.. Ayah sudah tiada..”, jawab Bang Hans. Bagai disambar petir Kirana mendengar kabar itu, Kirana sangat terkejut. Tangisannya pun pecah, air matanya membanjiri kedua pipinya. Kirana tak sanggup berbicara apa-apa. “Terimakasih Bang atas kabarnya. Aku akan selalu doain Ayah.”, Kirana segera memutuskan pembicaraan itu. Kirana merasa sangat terpukul, dia benar-benar tidak percaya. Kirana berlari mencari Ibunya dan memberi tahu tentang kabar itu. Kirana terus menangis dalam pelukan Ibunya. Kirana merasa benar-benar kehilangan. Kirana merasa tidak sanggup, dia segera berlari ke kamarnya. Dia mengurung diri disana. Dia mengunci pintu kamarnya dan tak mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam.
   Kirana mencari foto Ayahnya, sambil menangis dia berusaha berbicara dengan sang Ayah melalui foto itu. “Ayah..  Kenapa Ayah pergi? Kenapa Ayah tinggalin aku untuk selamanya, Yah?”, Kirana terus menangis. “Ayah.. Kirana kangen Ayah, kangen banget Yah. Kirana mau ketemu Ayah, mau lihat wajah Ayah lagi, Kirana mau lihat wajah Ayah untuk terakhir kalinya Yah..”, Kirana terus terisak. “Kirana mau peluk Ayah.. Kirana mau bertemu Ayah...”, tangisannya semakin kencang. Air matanya semakin deras. Kirana semakin merasa kesepian, dia tidak percaya Ayahnya pergi untuk selama-lamanya. “Ayah.. Ayah adalah Ayah terbaik yang pernah Kirana punya. Nggak ada orang lain yang bisa kasih Kirana kasih sayang seindah kasih sayang dari Ayah. Seburuk apapun kata orang tentang Ayah, Ayah tetap yang terbaik. Walaupun Kirana pernah kecewa, marah sama Ayah, tapi Kirana sayang banget sama Ayah. Kirana nggak pernah benci sama Ayah, walaupun Kirana nggak pernah mengerti kenapa Ayah pergi, tapi Kirana rela kalau itu memang pilihan terbaik untuk Ayah. Kirana rela sedih asal Ayah bahagia. Ayah, Kirana mau peluk Ayah..”,Kirana mencium foto Ayahnya. Mendekap foto itu dengan erat. “Ayah tenang disana ya.. Kirana janji nanti kita akan bertemu lagi, tunggu Kirana ya Yah. Nanti kalau waktunya tiba, kita akan bersama lagi Yah..”, Kirana mencoba menguatkan dirinya sendiri. Kirana terus menangis, dia memaksakan dirinya untuk kuat, memaksakan wajahnya untuk tersenyum walau itu sangat sulit. Kirana terdiam, terdiam dalam kesedihannya. Kirana mencoba mendewasakan diri, mencoba menerima semua kenyataan yang ada. “Ayah, Kirana sayang banget sama Ayah, terimakasih banyak untuk semua yang pernah Ayah kasih untuk Kirana, terimakasih atas kasih sayang yang pernah Ayah kasih untuk Kirana, Kirana akan selalu sayang dan mendoakan Ayah. Love you Yah..”, kata Kirana seraya terus menciumi foto sang Ayah. Air matanya pun turut membasahi foto itu. Sejak saat itu Kirana benar-benar mengerti bahwa hidup memang tak selamanya indah.

Karya : Shella Anastasia