SpongeBob SquarePants
Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Thursday, 3 November 2016

SEMANGAT!

Terimakasih sudah banyak membantu. 
Terimakasih sudah menemani.
Esok hari adalah giliranmu.
SEMANGAT!

Good luck my morph.

Sunday, 14 August 2016

Untukmu

Untukmu, kasihku

Entah apa yang mengganggu pikiranmu saat ini
Entah apa yang berkecamuk dalam jiwamu saat ini
Semoga tak mengubah kasih dan sayang
Yang kau simpan dan kau jaga untukku

Untukmu, kasihku

Aku selalu berusaha untuk mengubah sendu menjadi tawa
Aku selalu bertekad untuk mengubah air mata menjadi bahagia
Aku tak mau kau terluka
Aku tak mau kau berduka
Sakit, sedih, kecewa
Karena keadaan yang ada
Karena kenyataan yang ada

Untukmu, kasihku

Aku ingin setia
Setia menemanimu, berada di sampingmu
Aku ingin setia
Menyertakan namamu dalam doa-doaku
Selalu

Untukmu, kasihku

Aku tau mungkin saat ini
Begitu banyak hal buruk yang mengganggu harimu
Namun aku yakin,
Kau kuat untuk melalui semua itu

Untukmu, kasihku

Kata-kata yang jauh dari puitis ini
Kutulis tulus dari dalam hati
Untuk menunjukkan rasa sayangku
Untuk menunjukkan kepedulianku
Untuk menunjukkan
Bahwa kau berarti bagiku

Untukmu, kasihku

Tersenyumlah (lagi)
Tertawalah (lagi)
Bahagialah (lagi)
Dan (tetaplah) bersamaku disini

Monday, 11 July 2016

Setahun Lalu #2

Setahun berlalu, ternyata bayangmu masih tersisa
Kisah ini sudah selesai, namun tidak dengan rasa ini
Rindu atau dendam
Keduanya hadir bergantian
Maafkan aku masih mengenangmu
Benci aku masih menangisi dirimu
Menangisi dirimu yang telah pergi setahun lalu
Pergi namun masih terlihat, pergi tapi tak menjauh
Hanya berpura saling tak mengenal
Pergi bukan sendiri tapi pergi mencari lagi
Aku tidak sendiri di sini, namun kenapa bayangmu masih samar terlihat?
Dia yang kini jelas di hadapanku pun kadang buram terhalang bayangmu
Maafkan aku
Malam ini aku menyadari bahwa rasa setahun lalu benar rasa yang tulus
Yang entah kau sia siakan atau aku yang mendapat jawaban
Air mata yang ku keluarkan dari dulu hingga sekarang tidak jauh berbeda
Seluruhnya mengandung ketulusan
Tak bisakah kau sungguh-sungguh enyah?
Agar aku tak memandangmu lagi,
Agar aku tak merindu lagi,
Agar aku tak mendendam lagi
Satu tahun aku memendam rasa ini, hanya diam
Karena alam sekitar tak mau lagi mendengar kisah kita
Sisi diriku yang tak mau menerimamu lagi seakan berbalik mengharapkanmu lagi
Padahal aku tau takkan lagi ada tempat untukku di hatimu
Begitu juga dengan diriku
Kau tidak ada di hatiku, tapi memenuhi pikiranku
Lebih baik membencimu daripada mencintaimu namun pilu
Lebih baik jenuh memandangmu daripada merindu
Setahun lalu

Monday, 2 May 2016

Satu Tahun

Beberapa hari yang lalu
Merupakan hari dimana satu tahun lalu
Aku mengenal dirimu
Bukan bertemu, bukan menjalin kasih
Melainkan hanya perkenalan
Perkenalan yang berawal dari media sosial
"Secret"
Yap, dari situlah kita saling mengenal
Dengan status sederhana yang kutulis tengah malam
"Pengen punya temen anak Jakarta"
Dan kau pun menyambut dengan komen di bawahnya
Lalu pindah ke kolom chat
Dan pindah ke media lainnya
Menjadi temanmu mengobrol setiap malam
Walau hanya melalui chat
Cukup membuatku senang
Setidaknya, aku tidak merasa sendiri
Memberimu semangat sebagai seorang teman
Kala dirimu jenuh dan lelah menghadapi tugas akhir
Membuatku merasa memiliki seorang teman
Teman yang berharga
Berlanjut pada Line call yang diawali dari ketidaksengajaan
Sungguh, aku tidak sengaja menekan tombol call malam itu
Hingga tak lebih dari 3 detik kemudian
Kau menelepon ku kembali
Dari situlah pembicaraan kita
Tidak lagi berupa kata-kata
Namun berubah menjadi suara
Suara yang pada akhirnya
Rutin menemaniku beberapa hari
Di dalam seminggu
Dari hitungan detik, berubah menjadi menit
Dari hitungan menit, berubah menjadi jam
Ya, detik menit dan jam itu lah
Yang menjadi saksi bisu
Pada setiap perbincangan kita
Terimakasih
Sudah mau hadir di dalam hidupku
Terimakasih
Sudah mau memberiku kesempatan untuk merasa bahagia lagi
Terimakasih
Atas satu tahun yang berharga ini
Satu tahun yang dihiasi banyak warna
Satu tahun yang dihiasi banyak cerita
Semoga tahun ini berubah menjadi belasan
Belasan menjadi puluhan
Puluhan menjadi selamanya
Ini hanya lah harapan dan doa kita berdua
Yang senantiasa kita haturkan pada setiap sujud kita
Terimakasih
Senantiasa mendoakan segala kebaikan untukku
Dan kebaikan untuk kita
Semoga malaikat di sekeliling kita
Ikut mengamini segala doa dan harapan baik kita
Dan semoga Allah mendengar serta mengabulkannya
Aamiin ya Rabb

Saturday, 30 April 2016

Untukmu

Teruntuk dirimu,
Kuucapkan terima kasih atas kehadiranmu 
Di dalam kehidupanku
Yang dulu sempat kelabu
Terimakasih untukmu
Yang telah memberi warna baru
Dalam hari-hariku
Terimakasih untukmu
Yang telah memberi pengalaman baru
Pelajaran baru
Ilmu baru
Dan segala hal yang baru

Teruntuk dirimu,
Kuucapkan semangat menjalani hidupmu
Hidupmu yang akan memasuki babak baru
Memulai langkah untuk cita-citamu
Untuk menggapai semua harapanmu
Dan untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingmu

Semoga Allah selalu menjagamu
Sayangku.

Saturday, 22 August 2015

Syukur dan Bahagia

Apa yang kau ketahui tentang cinta?
Mungkin tidak ada
Apa yang kau pahami tentang wanita?
Mungkin tidak seberapa

Kau bilang itu menjadi alasan
Ketakutanmu untuk menjalin hubungan denganku
“Aku tak tau apa-apa tentang cinta, apalagi wanita”
Itu katamu dulu

Prinsip yang kau miliki
Membuatmu selalu menjaga jarak dengan kaum hawa
Membuatmu hanya terfokus pada karirmu saja
Membuatmu mampu berbicara soal masa depan saja

Kau bilang kau sangat bersyukur
Menemukanku di saat yang tepat
Mendapatkanku di tengah pencarian

Apa kau tidak tahu?
Aku jauh lebih bersyukur darimu
Menemukanmu di tengah rasa sakit
Mendapatkanmu di tengah rasa lelah
Lelah karena sakit
Sakit karena cinta

Aku berharap...
Rasa syukur kita tidak akan sia-sia
Doa dan impian yang kita gantungkan
Semoga didengar oleh Yang Maha Kuasa
Hingga bahagia menjadi ujungnya



Wednesday, 12 August 2015

Belajar Darimu

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana caranya menabung?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana supaya tidak boros?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana bisa jago bahasa inggris?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana bisa berani bermimpi?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana bisa produktif sepanjang waktu?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana bangkit setelah tepuruk?

Tapi.. 
Ada hal lain yang lebih ingin kupelajari dari dirimu

Bagaimana bisa kau selalu ingin banyak memberi dan sedikit menerima?

Lima dari keenam mimpimu adalah keinginanmu untuk memberi

Bagaimana bisa?

Begitu mulia nya niat mu memberi

Tanpa mengharapkan banyak menerima

Sedangkan aku? Hanya berusaha menerima 

Dan mengenyampingkan memberi

Aku ingin belajar darimu

Yang seperti itu

Kekasihku

Mimpi

Dulu, kupikir bermimpi itu mudah.
Dan memang benar, mudah..
Mudah bagi mereka yang tidak menyelipkan niat pada mimpi-mimpi itu
Mudah bagi mereka yang menuliskan mimpi tanpa harapan

Aku
Yang menginginkan mimpiku penuh harapan
Tak berani
Tak berani menggantung mimpiku tinggi-tinggi
Mungkin aku
Tak berani bermimpi

Hingga kutemukan dirimu
Yang melahirkan keberanian dalam diriku
Untuk menggantung tinggi setiap mimpiku

Bukan mimpi sekadar mimpi
Bukan harapan sebatas harapan
Ketika keduanya bertemu
Lahirlah yang ketiga dan keempat
Usaha dan keinginan

Aku menggantung mimpiku
Bukan tanpa usaha
Aku mencapai mimpiku
Tentu lebih berusaha

Tak pernah aku mempunyai mimpi-mimpi
Se-indah ini
Se-berani ini
Se-seru ini

Aku bermimpi beriringan dengan usaha
Aku bermimpi bertemankan perjuangan
Begitu ingin aku mewujudkan
Satu persatu mimpi yang kutuliskan
Bersamamu..
Aku yakin dapat mewujudkannya

Terimakasih untukmu
Pembuat keberanian dalam diriku

Tuesday, 11 August 2015

Rindu

Bukan pertama kali aku merindu
Terlebih lagi untuk dirimu
Sebelum kita bertemu
Kita pernah terpisah jauh

Kali ini pun,
Kita sedang terpisah jauh
Ya Allah..
Apakah dia tau bahwa aku tengah merindu?

Aku tau ini memang jalannya
Aku tau ini memang kewajibannya
Sehingga aku harus sabar menantinya

Ya Allah..
Sebelumnya, aku tak pernah menangis karenanya
Sampai saat ini pun, tidak
Namun ternyata..
Kerinduanku padanya lah,
Yang membuatku meneteskan air mata

Membaca pesannya
Merasakan kehadirannya
Menambah perihnya hati ini
Menambah besarnya kerinduan ini

Perihal jarak tak sederhana
Perihal rindu pun sama
Kutitipkan sajalah ke dalam doa
Agar kau mampu merasa
Yang tengah berkecamuk dalam dada
Rindu untukmu, sang belahan jiwa

Monday, 10 August 2015

Tunggu Aku Disana

Pagi ini, kau pergi
Pergi meninggalkanku lebih dulu
Bukan, bukan untuk selamanya
Melainkan hanya untuk sementara

Pergimu untuk sesuatu di masa depan
Pergimu untuk meraih sebuah harapan
Pergimu untuk sebuah perjuangan
Pergimu untuk mendapat kebahagiaan

Kelak, aku akan menyusulmu
Aku tau ini hanya perihal waktu
Namun maafkan aku
Yang tak bisa menahan rindu

Doaku selalu besertamu, sayang
Tunggu aku disana
Menemani mu berjuang
Untuk meraih satu persatu
Mimpi mimpi indah kita

Tunggu aku disana
Sayang..

Reason

Ketika ada pepatah mengatakan 
"Everything happens for a reason" 
namun di sisi lain ada yang menyuarakan 
"Tak perlu satu alasan pun untukmu mencintai seseorang"

Lalu???

Tak perlu bingung. :) Keduanya memang benar. Segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Termasuk dengan hadirnya cinta di antara dua insan. 

Kehadiran cinta terjadi untuk suatu alasan tanpa membutuhkan alasan untuk menghadirkannya

22th



Usia 22 mungkin bukanlah usia yang dewasa. Labil masih senantiasa meliputi usia muda itu. Namun, ada beberapa hal yang harus mulai diperhatikan sejak usia itu datang menyapa. Soal karir, soal arah hidup selanjutnya, dan satu lagi yang tak boleh dilupakan, soal cinta. 

Cinta yang terjadi di usia 22 bukan lagi cinta remaja yang hanya berisi hal-hal manis tanpa berpikir ke mana arah selanjutnya. Namun, cinta pada usia itu juga masih terlalu dini jika ingin dilabuhkan pada sebuah bahtera rumah tangga. 

Jadi, apa yang harus dilakukan pribadi berusia 22 tahun ketika cinta mulai datang kepadanya?

Haruskah ia menanggapinya dengan bercanda? Dengan santai? Dengan gurauan? Atau justru, dengan sebuah keseriusan?

Ini merupakan pandangan pribadiku tentang cinta yang menyapa di usia 20 tahun.

1. Serius atau main-main?
    
    Menurut pandangan saya, cinta di usia 22 tahun bukan lagi cinta main-main yang hanya berisikan kegiatan yang sifatnya untuk membunuh waktu. Bukan lagi suatu hubungan yang hanya berisikan pembicaraan berbau rayuan sesaat. Cinta usia 22 sudah mulai mengenyampingkan itu semua dan menggantikannya dengan pembicaraan yang lebih serius, dengan pembicaraan yang berisi perkenalan mendalam satu sama lain, dengan pembicaraan yang erat kaitannya dengan masa depan. Memang, soal jodoh tak ada yang tau dan tak ada yang bisa memastikan. Cinta usia 22 memang belum tentu cinta yang terakhir, belum tentu berakhir bahagia di pelaminan. Namun, usaha untuk yang lebih baik dapat dimulai sejak saat itu. Pembicaraan terencana yang penuh akan harapan dan doa dapat mulai dilambungkan bersama. Jika memang sudah memiliki kenyamanan dan keyakinan satu sama lain, lalu apa lagi yang ingin dicari? Hanya kesenangan yang tanpa disadari menghabiskan masa mudamu? Hanya kesenangan berupa pendekatan yang tak kunjung usai? Mengapa tak segera dihalalkan saja hubungannya? Tapi tetap, halalkan lah kalau memang sudah sama-sama siap lahir dan batin dari kedua belah pihak ya hehehe

2. Masih lihat fisik?
    
      Memang, soal fisik tidak bisa munafik. Semua pasti ingin mendapatkan pasangan dengan fisik yang sempurna serta wajah yang menarik. Supaya apa? Supaya bisa dibanggakan di hadapan orang-orang, terlebih lagi bagi mereka yang merasa dirinya cantik atau tampan, pasti ingin pasangan yang secara fisik dan penampilan bisa turut mengimbangi. Namun, tidak mudah mencari pasangan yang baik dalam fisik dan mampu membahagiakan kita sekaligus. Beberapa kejadian di dunia nyata mengatakan bahwa yang memiliki kebanggaan secara fisik kadang malah menyakiti hati hehehe mungkin karena mereka terus mencari yang lebih dan lebih lagi sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki saat ini. Kemudian saya berpikir, apa betul yang baik dalam fisik itu bisa membuat bahagia jika sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mungkin bisa membahagiakan karena memberikan pemandangan yang indah di setiap harinya, namun jika tidak diimbangi sifat dan sikap yang baik juga, apakah masih mampu membahagiakan di setiap harinya? Misalnya saja, tampan tapi tidak bisa mencari nafkah, atau tampan tapi memiliki watak yang keras dan kasar, lalu apakah istri yang hidup bersama sosok seperti itu dapat merasakan kebahagiaan? Atau hanya merasa bahagia saat mampu membanggakannya di depan teman-temannya? Dari situ saya sadar, bahwa fisik bukanlah lagi merupakan hal penting yang harus dicari dalam hubungan di usia 22. Karena memang, masih banyak hal lain yang lebih penting dari sekadar kesempurnaan fisik.

3. Mapan

       Kalau mendengar kata "mapan" dalam suatu hubungan, mungkin identik dengan yang namanya "finansial" atau kemampuan ekonomi. lagi-lagi, tidak bisa munafik. Kemapanan seseorang dalam menjalani hubungan memang perlu diperhatikan, terutama bagi seorang pria. Apalagi di masa modern seperti saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatunya membutuhkan yang namanya uang. Tidak ada yang gratis hidup di dunia saat ini, kecuali cinta dan rindu, mungkin. Hehehe. Karena itu, bagi seorang wanita, menjalani hubungan di usia 22 juga harus sudah mulai memikirkan masalah kemapanan pasangannya, atau minimal melihat peluang kemapanan dari pasangannya. Tidak munafik, setiap wanita pasti ingin mendapatkan pasangan yang mapan agar kehidupan keluarga mereka kelak tidak kesusahan. Namun, bukan berarti wanita dapat bersantai dan tidak mempersiapkan diri. Mungkin kemapanan dari pihak wanita bukanlah dari segi finansial, namun lebih kepada segi kesiapan atau kemapanan mental. Kemapanan dalam kemampuan mengurus suami dan rumah tangga, kemapanan dalam kemampuan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga kelak, misalnya memasak atau menjahit. Dengan kata lain, baik pria maupun wanita harus memiliki kemapanan agar siap untuk melangkah ke tahap yang lebih serius dari sekadar pacaran remaja yang kebanyakan isinya hanya menghabiskan waktu saja.

4. Restu Orangtua

      Hal terakhir yang menurut saya penting untuk diperhatikan dalam hubungan di usia 22 tahun adalah restu orangtua. Sudah bukan waktunya lagi pacaran hanya memikirkan diri sendiri. Coba pikirkan juga pandangan dan pendapat kedua orangtua, karena restu orangtua lah yang turut memiliki andil besar dalam menentukan akhir perjalanan cinta. Jika memang tidak mendapat restu, usahakan. Terus berusaha hingga mendapat restu, tapi.. sebelum berusaha, yakini dulu diri masing-masing kalau pilihan saat ini adalah pilihan yang terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga restu yang diberikan tidak menjadi restu yang sia-sia. Jika memang tetap tidak mendapat restu, ya sudah, jangan melawan dan nekat, apalagi sampai kawin lari jangan yaaa. Mungkin mereka memiliki rencana yang lebih baik, Turuti saja kemauan mereka, toh sebelumnya sudah berusaha namun tidak berhasil. Jangan menentang orangtua, apalagi soal restu. Ingatlah, restu Tuhan diturunkan melalui restu orangtua. Jadi, di usia 22 tahun, mulailah menjalani hubungan yang memang telah mendapat restu dari kedua orangtua, agar tidak menjadi kendala yang menghalangi di akhir hubungan nanti.



Ya.. keempat poin di atas hanyalah pandangan saya sebagai penulis dan pribadi yang memang belum berumur 22 tahun, namun telah mendengar banyak kisah percintaan usia 20 tahun ke atas hehe
Kalau ada yang punya pandangan lain, boleh di share yaaaa ;) hehe comment aja nanti dilihat. Terimakasih

Monday, 3 August 2015

Berlatih Melupakanmu

Rasa sakit masih sedikit membekas di hatiku, rasa kecewa masih cukup menemani bayangmu dalam pikiranku, sampai kapan aku harus mengingatmu?

Kulihat dari kejauhan, kau telah menemukan kebahagiaanmu. Entah kebahagiaan yang tulus, atau kebahagiaan sandiwara. Entah kebahagiaan yang mampu bertahan lama, atau kandas seperti biasa. Entahlah, sesuka hatimu saja. 

Berbulan-bulan rasanya aku mencoba menghilangkan rasa dan bayang bayang akan dirimu. Sedikit demi sedikit, aku mampu. Sedikit demi sedikit, hati ini terobati. Namun, sesekali juga aku terjatuh kembali, sesekali juga rasa rindu kembali menyelimuti hati yang sepi ini. 

Melihatmu bahagia? Alhamdulillah. Apa aku terlihat munafik saat mengatakan ini? Mungkin. Tapi tenang saja, rasa syukurku melihat kebahagiaanmu disertai dengan sedikit harapan nakalku yang mengharapkan engkau kembali ke dalam pelukanku. Walau aku tau, saat ini kau telah memiliki yang baru. 

Setiap kali aku berdoa, aku selalu memohon pada Yang Kuasa untuk membuat hatiku lebih tegar lagi setiap harinya. Bagaimana pun caranya. Hingga suatu saat aku merasa menemukan cara sendiri untuk membuatku melupakan dirimu. 

Semacam berlatih, mengulang kenangan pahit dalam bayangan agar rasa rindu ini kian berkurang, agar rasa sayang ini semakin menghilang. Awalnya memang terasa sakit, terasa pahit. Harus membayangkan kembali apa yang membuatku menangis berhari-hari. Namun aku tau, semakin lama, kenangan yang kuingat secara paksa itu semakin ingin lepas. Cerita dari ketidakmungkinan kita untuk bersama semakin mendorong semua tentangmu untuk pergi meninggalkan jiwaku. Walau sulit, namun tetap kucoba. 

Hingga aku yakin akan ada suatu hari dimana aku bisa merasa biasa saja ketika kembali mengulang segala kenangan yang pernah kita lewati bersama dan pada saat itulah aku mampu berkata selamat tinggal seutuhnya kepada dirimu yang telah membuatku merasakan pahitnya sebuah kenyataan dari sesuatu bernama CINTA.

Jakarta, Satu Sebelum Akhir

Jakarta, satu sebelum akhir
Kutemui dirimu untuk melabuhkan rinduku

Jakarta, satu sebelum akhir
Kutemui kelebihan dirimu yang baru

Jakarta, satu sebelum akhir
Kutemui rasa syukur karena dapat mengenalmu

Jakarta, satu sebelum akhir
Kulewati waktu hanya dengan dirimu

Jakarta, satu sebelum akhir
Kumiliki saat berharga bersamamu

Jakarta, satu sebelum akhir
Kuharap takkan habis waktu untuk bertemu denganmu

Jakarta, satu sebelum akhir
Ku akan kembali merindukanmu

Jakarta, satu sebelum akhir
Ketika jauh, jangan kau lupakan aku

Jakarta, satu sebelum akhir
Ku menyayangimu, si mata cokelat ku

Thursday, 30 July 2015

Semoga

Hari ini aku melihat sebuah peristiwa
Dimana seorang wanita menangis
Menangis tanpa ragu karena merasa tersakiti
Air matanya mengalir deras
Tanpa memberi kesempatan
Pada segaris senyuman
Yang menghiasi wajahnya sehari-hari

Tiba-tiba aku berpikir
Berpikir tentang si mata cokelat
Berkhayal tentang dirinya
Apakah dia sama?
Sama seperti laki-laki yang menyakiti wanita itu?
Apakah dia sama?
Akan membuatku meneteskan air mata untuknya?

Semoga tidak.. (aamiin)

Semoga dia tidak akan membuatku menangisi dirinya
Semoga dia yang akan menguatkanku disaat aku menangisi hal lain
Semoga dia tidak akan meninggalkanku dalam kesendirian
Semoga dia yang akan membantuku membenarkan yang salah dari diriku
Semoga dia tidak akan banyak menuntutku untuk melakukan ini-itu
Semoga dia yang mau menerima baik dan buruk dari diriku
Semoga dia adalah sosok yang kucari selama ini

Aamiin

Semoga mata cokelatmu akan selalu memancarkan kehangatan, keindahan, dan ketulusan dari sebuah perasaan, yang InshaaAllah akan terus menemani perjalanan, hingga sebuah penantian akan berujung sebuah kebahagiaan.

Aamiin


Sunday, 26 July 2015

Si Mata Cokelat

Si Mata Cokelat
Mungkin itu yang pantas menggambarkan sosokmu dimataku

Si Mata Cokelat
Mungkin itu yang bisa kuucap saat merindukan dirimu

Si Mata Cokelat
Mungkin itu yang menjadi julukanmu dari diriku

Awalnya biasa saja
Seperti tidak ada yang istimewa
Hingga kutemui sebuah magnet tersembunyi
Di balik kedua bola matamu

Setiap kita bertatap
Setiap kita bicara
Mataku merasakan gaya magnet
Yang terpancar dari sana

Dari dua bola kecil
Yang menari-nari dengan indahnya
Memancarkan sesuatu yang mampu menarik
Perhatian dan konsentrasiku
Membuatnya terpusat pada
Dirimu seorang

Seperti ada yang mengikat pandanganku
Untuk terus bertahan
Menatap kedua bola itu
Bola cokelat yang bersinar
Memancarkan ketulusan

Wahai priaku yang bermata indah
Maafkan aku yang tak mampu lepas
Maafkan aku yang tak mampu mengalihkan
Perhatianku pada kedua matamu

Warna cokelat yang indah itu
Terus menahanku, memaksaku
Untuk tetap meletakkan pandangku
Lekat-lekat dan dalam
Hanya kepada dirimu

Si Mata Cokelat
Kesayanganku


Wednesday, 15 July 2015

Aku Lelakimu

Siang ini gue liat video klip Virzha - Aku Lelakimu di youtube sebagai salah satu hiburan dari kerjaan yang membosankan. Kenapa gue liat video klip itu? Kenapa gue nggak liat video klip lain aja? Alasannya satu.. Kangen. Bukan, bukan kangen sama Virzha, tapi kangen sama orang yang suka banget sama Virzha, kangen sama orang yang merasa dirinya miripnya Virzha, kangen sama orang yang pengen banget gayanya mirip Virzha, kangen sama orang yang pernah nyanyiin lagu itu dengan usaha keras supaya mirip Virzha waktu lagi karaoke sama gue. Huhuhuhu kenapa masih bisa kangen sama orang itu ya Allah :(

Sebelumnya gue belum pernah liat video klip itu full sampai akhir, kalau nggak salah juga di tempat karaoke video klipnya dipotong gitu alias nggak full kayak yang di youtube, so this is my first time. Ternyata video klipnya itu sedih banget, nggak tau kenapa gue sampek merinding sendiri liat cerita di video klip itu. Walaupun gue rasa sedihnya kecampur campur sama rasa sedih kangen mantan sih HAHAHAHA tapi bener, ceritanya sedih banget :( si cewek buta dan dapet donor mata dari cowoknya sendiri tanpa si cewek tau. Wow banget.. emang masih ada gitu cowok macem itu saat ini? hahaha.

Sebenernya lagu ini tuh emang bagus dan liriknya juga cukup menyentuh, tapi semua jadi lebih menyentuh lagi alias bikin baper soalnya ada kenangan tersembunyi di balik lagu ini :( pertama nonton Virzha secara live itu karena nemenin mr.X yang ngefans banget dan kepengen banget liat langsung, itu juga kayaknya pertama kalinya gue nonton acara musik gitu bareng dia. Seneng banget soalnya gue pribadi juga suka nonton acara semacam itu, dan seneng karena dia juga mau nonton acara itu walaupun emang penyebabnya karena Virzha yang tampil. Dan.... pas hari itu juga dia nembak gue HAHAHA makin banyak deh tuh kenangannya. Udah gitu, dia bener-bener pake baju yang mirip kayak style nya Virzha, ditambah lagi rambutnya yang gondrong, cocok deh kalo jadi adeknya Virzha. Pokoknya kalau liat Virzha malah jadi keinget si mr.X

Mr.X juga suka banget beli barang-barang kayak semi jas dan syal supaya dia makin mirip kayak Virzha. Dia juga pernah nyanyiin lagu Virzha waktu lagi karaoke dengan gaya yang bener-bener kayak Virzha, dengan suara yang dimirip-miripin juga dan itu lucu bagi gue, seneng gitu gue ngeliatnya :') Yaah tapi gimana ya sekarang semuanya udah tinggal kenangan euy hehe walaupun gue kangen tapi yaudah biar aja kangen ini stop sampek disini dan semoga gak sampek ke telinga orangnya hahah cukup gue, Allah dan kalian yang baca ini aja yang boleh tau kalo gue kangen sama si mr.X hahaha

Dah cukup sekian dan terimakasih, bhaaaaaaay

Monday, 6 July 2015

22th



Usia 22 mungkin bukanlah usia yang dewasa. Labil masih senantiasa meliputi usia muda itu. Namun, ada beberapa hal yang harus mulai diperhatikan sejak usia itu datang menyapa. Soal karir, soal arah hidup selanjutnya, dan satu lagi yang tak boleh dilupakan, soal cinta. 

Cinta yang terjadi di usia 22 bukan lagi cinta remaja yang hanya berisi hal-hal manis tanpa berpikir ke mana arah selanjutnya. Namun, cinta pada usia itu juga masih terlalu dini jika ingin dilabuhkan pada sebuah bahtera rumah tangga. 

Jadi, apa yang harus dilakukan pribadi berusia 22 tahun ketika cinta mulai datang kepadanya?

Haruskah ia menanggapinya dengan bercanda? Dengan santai? Dengan gurauan? Atau justru, dengan sebuah keseriusan?

Ini merupakan pandangan pribadiku tentang cinta yang menyapa di usia 20 tahun.

1. Serius atau main-main?
    
    Menurut pandangan saya, cinta di usia 22 tahun bukan lagi cinta main-main yang hanya berisikan kegiatan yang sifatnya untuk membunuh waktu. Bukan lagi suatu hubungan yang hanya berisikan pembicaraan berbau rayuan sesaat. Cinta usia 22 sudah mulai mengenyampingkan itu semua dan menggantikannya dengan pembicaraan yang lebih serius, dengan pembicaraan yang berisi perkenalan mendalam satu sama lain, dengan pembicaraan yang erat kaitannya dengan masa depan. Memang, soal jodoh tak ada yang tau dan tak ada yang bisa memastikan. Cinta usia 22 memang belum tentu cinta yang terakhir, belum tentu berakhir bahagia di pelaminan. Namun, usaha untuk yang lebih baik dapat dimulai sejak saat itu. Pembicaraan terencana yang penuh akan harapan dan doa dapat mulai dilambungkan bersama. Jika memang sudah memiliki kenyamanan dan keyakinan satu sama lain, lalu apa lagi yang ingin dicari? Hanya kesenangan yang tanpa disadari menghabiskan masa mudamu? Hanya kesenangan berupa pendekatan yang tak kunjung usai? Mengapa tak segera dihalalkan saja hubungannya? Tapi tetap, halalkan lah kalau memang sudah sama-sama siap lahir dan batin dari kedua belah pihak ya hehehe

2. Masih lihat fisik?
    
      Memang, soal fisik tidak bisa munafik. Semua pasti ingin mendapatkan pasangan dengan fisik yang sempurna serta wajah yang menarik. Supaya apa? Supaya bisa dibanggakan di hadapan orang-orang, terlebih lagi bagi mereka yang merasa dirinya cantik atau tampan, pasti ingin pasangan yang secara fisik dan penampilan bisa turut mengimbangi. Namun, tidak mudah mencari pasangan yang baik dalam fisik dan mampu membahagiakan kita sekaligus. Beberapa kejadian di dunia nyata mengatakan bahwa yang memiliki kebanggaan secara fisik kadang malah menyakiti hati hehehe mungkin karena mereka terus mencari yang lebih dan lebih lagi sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki saat ini. Kemudian saya berpikir, apa betul yang baik dalam fisik itu bisa membuat bahagia jika sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mungkin bisa membahagiakan karena memberikan pemandangan yang indah di setiap harinya, namun jika tidak diimbangi sifat dan sikap yang baik juga, apakah masih mampu membahagiakan di setiap harinya? Misalnya saja, tampan tapi tidak bisa mencari nafkah, atau tampan tapi memiliki watak yang keras dan kasar, lalu apakah istri yang hidup bersama sosok seperti itu dapat merasakan kebahagiaan? Atau hanya merasa bahagia saat mampu membanggakannya di depan teman-temannya? Dari situ saya sadar, bahwa fisik bukanlah lagi merupakan hal penting yang harus dicari dalam hubungan di usia 22. Karena memang, masih banyak hal lain yang lebih penting dari sekadar kesempurnaan fisik.

3. Mapan

       Kalau mendengar kata "mapan" dalam suatu hubungan, mungkin identik dengan yang namanya "finansial" atau kemampuan ekonomi. lagi-lagi, tidak bisa munafik. Kemapanan seseorang dalam menjalani hubungan memang perlu diperhatikan, terutama bagi seorang pria. Apalagi di masa modern seperti saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatunya membutuhkan yang namanya uang. Tidak ada yang gratis hidup di dunia saat ini, kecuali cinta dan rindu, mungkin. Hehehe. Karena itu, bagi seorang wanita, menjalani hubungan di usia 22 juga harus sudah mulai memikirkan masalah kemapanan pasangannya, atau minimal melihat peluang kemapanan dari pasangannya. Tidak munafik, setiap wanita pasti ingin mendapatkan pasangan yang mapan agar kehidupan keluarga mereka kelak tidak kesusahan. Namun, bukan berarti wanita dapat bersantai dan tidak mempersiapkan diri. Mungkin kemapanan dari pihak wanita bukanlah dari segi finansial, namun lebih kepada segi kesiapan atau kemapanan mental. Kemapanan dalam kemampuan mengurus suami dan rumah tangga, kemapanan dalam kemampuan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga kelak, misalnya memasak atau menjahit. Dengan kata lain, baik pria maupun wanita harus memiliki kemapanan agar siap untuk melangkah ke tahap yang lebih serius dari sekadar pacaran remaja yang kebanyakan isinya hanya menghabiskan waktu saja.

4. Restu Orangtua

      Hal terakhir yang menurut saya penting untuk diperhatikan dalam hubungan di usia 22 tahun adalah restu orangtua. Sudah bukan waktunya lagi pacaran hanya memikirkan diri sendiri. Coba pikirkan juga pandangan dan pendapat kedua orangtua, karena restu orangtua lah yang turut memiliki andil besar dalam menentukan akhir perjalanan cinta. Jika memang tidak mendapat restu, usahakan. Terus berusaha hingga mendapat restu, tapi.. sebelum berusaha, yakini dulu diri masing-masing kalau pilihan saat ini adalah pilihan yang terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga restu yang diberikan tidak menjadi restu yang sia-sia. Jika memang tetap tidak mendapat restu, ya sudah, jangan melawan dan nekat, apalagi sampai kawin lari jangan yaaa. Mungkin mereka memiliki rencana yang lebih baik, Turuti saja kemauan mereka, toh sebelumnya sudah berusaha namun tidak berhasil. Jangan menentang orangtua, apalagi soal restu. Ingatlah, restu Tuhan diturunkan melalui restu orangtua. Jadi, di usia 22 tahun, mulailah menjalani hubungan yang memang telah mendapat restu dari kedua orangtua, agar tidak menjadi kendala yang menghalangi di akhir hubungan nanti.



Ya.. keempat poin di atas hanyalah pandangan saya sebagai penulis dan pribadi yang memang belum berumur 22 tahun, namun telah mendengar banyak kisah percintaan usia 20 tahun ke atas hehe
Kalau ada yang punya pandangan lain, boleh di share yaaaa ;) hehe comment aja nanti dilihat. Terimakasih

Kerinduan


Rasa ini berkecamuk dalam dada
Meminta wujud yang dicinta
Mengharap sosok untuk dipuja

Bukan, bukan menduakan Tuhan
Bukan, bukan melupakan utusanNya
Bukan, bukan mengenyampingkan orangtua

Sosok yang dipuja dalam sisi yang berbeda
Wujud yang dicinta untuk mensyukuri ciptaan Nya
Dirinya..

Tersadar ku di keheningan
Pada siapa sebenarnya aku berkata
Pada siapa sebenarnya aku meminta

Lagi lagi..
Syair tak bersajak
Puisi tak berima
Hanya rindu yang berteriak
Menyerukan satu nama

Kemana arahnya kerinduan ini
Hanya menyiksa batinku kini
Jauh disana, apa kau merasakan yang sama?
Jika iya, kenapa kita tak bertemu jua?

Kunantikan dengan sabar
Hingga kepulanganmu sayang
Kubuat hatiku semakin berlapang
Hingga nanti kapal kita siap berlayar

Untitled



Gundah gulana tak menentu
Namun bukan prahara rindu
Walau mungkin ini tentang dirimu

Konsentrasiku terganggu
Berisikan bayang-bayangmu
Padahal kan, kita belum bertemu

Syair tak bersajak
Puisi tak berima
Mengapa kau tak ku ajak
Melewati sisa hidup berdua

Tulisan tak berarti
Tulisan tak dapat dimengerti
Sebegini gundahkah isi hati?
Sayangnya, tak bisa kupahami

Untuk dirimu yang disana
Silakan habiskan waktumu saja
Silakan nikmati sibukmu saja

Hingga nanti yang tersisa
Hanya waktu untuk kita berdua

Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Thursday, 3 November 2016

SEMANGAT!

Terimakasih sudah banyak membantu. 
Terimakasih sudah menemani.
Esok hari adalah giliranmu.
SEMANGAT!

Good luck my morph.

Sunday, 14 August 2016

Untukmu

Untukmu, kasihku

Entah apa yang mengganggu pikiranmu saat ini
Entah apa yang berkecamuk dalam jiwamu saat ini
Semoga tak mengubah kasih dan sayang
Yang kau simpan dan kau jaga untukku

Untukmu, kasihku

Aku selalu berusaha untuk mengubah sendu menjadi tawa
Aku selalu bertekad untuk mengubah air mata menjadi bahagia
Aku tak mau kau terluka
Aku tak mau kau berduka
Sakit, sedih, kecewa
Karena keadaan yang ada
Karena kenyataan yang ada

Untukmu, kasihku

Aku ingin setia
Setia menemanimu, berada di sampingmu
Aku ingin setia
Menyertakan namamu dalam doa-doaku
Selalu

Untukmu, kasihku

Aku tau mungkin saat ini
Begitu banyak hal buruk yang mengganggu harimu
Namun aku yakin,
Kau kuat untuk melalui semua itu

Untukmu, kasihku

Kata-kata yang jauh dari puitis ini
Kutulis tulus dari dalam hati
Untuk menunjukkan rasa sayangku
Untuk menunjukkan kepedulianku
Untuk menunjukkan
Bahwa kau berarti bagiku

Untukmu, kasihku

Tersenyumlah (lagi)
Tertawalah (lagi)
Bahagialah (lagi)
Dan (tetaplah) bersamaku disini

Monday, 11 July 2016

Setahun Lalu #2

Setahun berlalu, ternyata bayangmu masih tersisa
Kisah ini sudah selesai, namun tidak dengan rasa ini
Rindu atau dendam
Keduanya hadir bergantian
Maafkan aku masih mengenangmu
Benci aku masih menangisi dirimu
Menangisi dirimu yang telah pergi setahun lalu
Pergi namun masih terlihat, pergi tapi tak menjauh
Hanya berpura saling tak mengenal
Pergi bukan sendiri tapi pergi mencari lagi
Aku tidak sendiri di sini, namun kenapa bayangmu masih samar terlihat?
Dia yang kini jelas di hadapanku pun kadang buram terhalang bayangmu
Maafkan aku
Malam ini aku menyadari bahwa rasa setahun lalu benar rasa yang tulus
Yang entah kau sia siakan atau aku yang mendapat jawaban
Air mata yang ku keluarkan dari dulu hingga sekarang tidak jauh berbeda
Seluruhnya mengandung ketulusan
Tak bisakah kau sungguh-sungguh enyah?
Agar aku tak memandangmu lagi,
Agar aku tak merindu lagi,
Agar aku tak mendendam lagi
Satu tahun aku memendam rasa ini, hanya diam
Karena alam sekitar tak mau lagi mendengar kisah kita
Sisi diriku yang tak mau menerimamu lagi seakan berbalik mengharapkanmu lagi
Padahal aku tau takkan lagi ada tempat untukku di hatimu
Begitu juga dengan diriku
Kau tidak ada di hatiku, tapi memenuhi pikiranku
Lebih baik membencimu daripada mencintaimu namun pilu
Lebih baik jenuh memandangmu daripada merindu
Setahun lalu

Monday, 2 May 2016

Satu Tahun

Beberapa hari yang lalu
Merupakan hari dimana satu tahun lalu
Aku mengenal dirimu
Bukan bertemu, bukan menjalin kasih
Melainkan hanya perkenalan
Perkenalan yang berawal dari media sosial
"Secret"
Yap, dari situlah kita saling mengenal
Dengan status sederhana yang kutulis tengah malam
"Pengen punya temen anak Jakarta"
Dan kau pun menyambut dengan komen di bawahnya
Lalu pindah ke kolom chat
Dan pindah ke media lainnya
Menjadi temanmu mengobrol setiap malam
Walau hanya melalui chat
Cukup membuatku senang
Setidaknya, aku tidak merasa sendiri
Memberimu semangat sebagai seorang teman
Kala dirimu jenuh dan lelah menghadapi tugas akhir
Membuatku merasa memiliki seorang teman
Teman yang berharga
Berlanjut pada Line call yang diawali dari ketidaksengajaan
Sungguh, aku tidak sengaja menekan tombol call malam itu
Hingga tak lebih dari 3 detik kemudian
Kau menelepon ku kembali
Dari situlah pembicaraan kita
Tidak lagi berupa kata-kata
Namun berubah menjadi suara
Suara yang pada akhirnya
Rutin menemaniku beberapa hari
Di dalam seminggu
Dari hitungan detik, berubah menjadi menit
Dari hitungan menit, berubah menjadi jam
Ya, detik menit dan jam itu lah
Yang menjadi saksi bisu
Pada setiap perbincangan kita
Terimakasih
Sudah mau hadir di dalam hidupku
Terimakasih
Sudah mau memberiku kesempatan untuk merasa bahagia lagi
Terimakasih
Atas satu tahun yang berharga ini
Satu tahun yang dihiasi banyak warna
Satu tahun yang dihiasi banyak cerita
Semoga tahun ini berubah menjadi belasan
Belasan menjadi puluhan
Puluhan menjadi selamanya
Ini hanya lah harapan dan doa kita berdua
Yang senantiasa kita haturkan pada setiap sujud kita
Terimakasih
Senantiasa mendoakan segala kebaikan untukku
Dan kebaikan untuk kita
Semoga malaikat di sekeliling kita
Ikut mengamini segala doa dan harapan baik kita
Dan semoga Allah mendengar serta mengabulkannya
Aamiin ya Rabb

Saturday, 30 April 2016

Untukmu

Teruntuk dirimu,
Kuucapkan terima kasih atas kehadiranmu 
Di dalam kehidupanku
Yang dulu sempat kelabu
Terimakasih untukmu
Yang telah memberi warna baru
Dalam hari-hariku
Terimakasih untukmu
Yang telah memberi pengalaman baru
Pelajaran baru
Ilmu baru
Dan segala hal yang baru

Teruntuk dirimu,
Kuucapkan semangat menjalani hidupmu
Hidupmu yang akan memasuki babak baru
Memulai langkah untuk cita-citamu
Untuk menggapai semua harapanmu
Dan untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingmu

Semoga Allah selalu menjagamu
Sayangku.

Saturday, 22 August 2015

Syukur dan Bahagia

Apa yang kau ketahui tentang cinta?
Mungkin tidak ada
Apa yang kau pahami tentang wanita?
Mungkin tidak seberapa

Kau bilang itu menjadi alasan
Ketakutanmu untuk menjalin hubungan denganku
“Aku tak tau apa-apa tentang cinta, apalagi wanita”
Itu katamu dulu

Prinsip yang kau miliki
Membuatmu selalu menjaga jarak dengan kaum hawa
Membuatmu hanya terfokus pada karirmu saja
Membuatmu mampu berbicara soal masa depan saja

Kau bilang kau sangat bersyukur
Menemukanku di saat yang tepat
Mendapatkanku di tengah pencarian

Apa kau tidak tahu?
Aku jauh lebih bersyukur darimu
Menemukanmu di tengah rasa sakit
Mendapatkanmu di tengah rasa lelah
Lelah karena sakit
Sakit karena cinta

Aku berharap...
Rasa syukur kita tidak akan sia-sia
Doa dan impian yang kita gantungkan
Semoga didengar oleh Yang Maha Kuasa
Hingga bahagia menjadi ujungnya



Wednesday, 12 August 2015

Belajar Darimu

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana caranya menabung?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana supaya tidak boros?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana bisa jago bahasa inggris?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana bisa berani bermimpi?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana bisa produktif sepanjang waktu?

Aku ingin belajar darimu
Bagaimana bangkit setelah tepuruk?

Tapi.. 
Ada hal lain yang lebih ingin kupelajari dari dirimu

Bagaimana bisa kau selalu ingin banyak memberi dan sedikit menerima?

Lima dari keenam mimpimu adalah keinginanmu untuk memberi

Bagaimana bisa?

Begitu mulia nya niat mu memberi

Tanpa mengharapkan banyak menerima

Sedangkan aku? Hanya berusaha menerima 

Dan mengenyampingkan memberi

Aku ingin belajar darimu

Yang seperti itu

Kekasihku

Mimpi

Dulu, kupikir bermimpi itu mudah.
Dan memang benar, mudah..
Mudah bagi mereka yang tidak menyelipkan niat pada mimpi-mimpi itu
Mudah bagi mereka yang menuliskan mimpi tanpa harapan

Aku
Yang menginginkan mimpiku penuh harapan
Tak berani
Tak berani menggantung mimpiku tinggi-tinggi
Mungkin aku
Tak berani bermimpi

Hingga kutemukan dirimu
Yang melahirkan keberanian dalam diriku
Untuk menggantung tinggi setiap mimpiku

Bukan mimpi sekadar mimpi
Bukan harapan sebatas harapan
Ketika keduanya bertemu
Lahirlah yang ketiga dan keempat
Usaha dan keinginan

Aku menggantung mimpiku
Bukan tanpa usaha
Aku mencapai mimpiku
Tentu lebih berusaha

Tak pernah aku mempunyai mimpi-mimpi
Se-indah ini
Se-berani ini
Se-seru ini

Aku bermimpi beriringan dengan usaha
Aku bermimpi bertemankan perjuangan
Begitu ingin aku mewujudkan
Satu persatu mimpi yang kutuliskan
Bersamamu..
Aku yakin dapat mewujudkannya

Terimakasih untukmu
Pembuat keberanian dalam diriku

Tuesday, 11 August 2015

Rindu

Bukan pertama kali aku merindu
Terlebih lagi untuk dirimu
Sebelum kita bertemu
Kita pernah terpisah jauh

Kali ini pun,
Kita sedang terpisah jauh
Ya Allah..
Apakah dia tau bahwa aku tengah merindu?

Aku tau ini memang jalannya
Aku tau ini memang kewajibannya
Sehingga aku harus sabar menantinya

Ya Allah..
Sebelumnya, aku tak pernah menangis karenanya
Sampai saat ini pun, tidak
Namun ternyata..
Kerinduanku padanya lah,
Yang membuatku meneteskan air mata

Membaca pesannya
Merasakan kehadirannya
Menambah perihnya hati ini
Menambah besarnya kerinduan ini

Perihal jarak tak sederhana
Perihal rindu pun sama
Kutitipkan sajalah ke dalam doa
Agar kau mampu merasa
Yang tengah berkecamuk dalam dada
Rindu untukmu, sang belahan jiwa

Monday, 10 August 2015

Tunggu Aku Disana

Pagi ini, kau pergi
Pergi meninggalkanku lebih dulu
Bukan, bukan untuk selamanya
Melainkan hanya untuk sementara

Pergimu untuk sesuatu di masa depan
Pergimu untuk meraih sebuah harapan
Pergimu untuk sebuah perjuangan
Pergimu untuk mendapat kebahagiaan

Kelak, aku akan menyusulmu
Aku tau ini hanya perihal waktu
Namun maafkan aku
Yang tak bisa menahan rindu

Doaku selalu besertamu, sayang
Tunggu aku disana
Menemani mu berjuang
Untuk meraih satu persatu
Mimpi mimpi indah kita

Tunggu aku disana
Sayang..

Reason

Ketika ada pepatah mengatakan 
"Everything happens for a reason" 
namun di sisi lain ada yang menyuarakan 
"Tak perlu satu alasan pun untukmu mencintai seseorang"

Lalu???

Tak perlu bingung. :) Keduanya memang benar. Segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Termasuk dengan hadirnya cinta di antara dua insan. 

Kehadiran cinta terjadi untuk suatu alasan tanpa membutuhkan alasan untuk menghadirkannya

22th



Usia 22 mungkin bukanlah usia yang dewasa. Labil masih senantiasa meliputi usia muda itu. Namun, ada beberapa hal yang harus mulai diperhatikan sejak usia itu datang menyapa. Soal karir, soal arah hidup selanjutnya, dan satu lagi yang tak boleh dilupakan, soal cinta. 

Cinta yang terjadi di usia 22 bukan lagi cinta remaja yang hanya berisi hal-hal manis tanpa berpikir ke mana arah selanjutnya. Namun, cinta pada usia itu juga masih terlalu dini jika ingin dilabuhkan pada sebuah bahtera rumah tangga. 

Jadi, apa yang harus dilakukan pribadi berusia 22 tahun ketika cinta mulai datang kepadanya?

Haruskah ia menanggapinya dengan bercanda? Dengan santai? Dengan gurauan? Atau justru, dengan sebuah keseriusan?

Ini merupakan pandangan pribadiku tentang cinta yang menyapa di usia 20 tahun.

1. Serius atau main-main?
    
    Menurut pandangan saya, cinta di usia 22 tahun bukan lagi cinta main-main yang hanya berisikan kegiatan yang sifatnya untuk membunuh waktu. Bukan lagi suatu hubungan yang hanya berisikan pembicaraan berbau rayuan sesaat. Cinta usia 22 sudah mulai mengenyampingkan itu semua dan menggantikannya dengan pembicaraan yang lebih serius, dengan pembicaraan yang berisi perkenalan mendalam satu sama lain, dengan pembicaraan yang erat kaitannya dengan masa depan. Memang, soal jodoh tak ada yang tau dan tak ada yang bisa memastikan. Cinta usia 22 memang belum tentu cinta yang terakhir, belum tentu berakhir bahagia di pelaminan. Namun, usaha untuk yang lebih baik dapat dimulai sejak saat itu. Pembicaraan terencana yang penuh akan harapan dan doa dapat mulai dilambungkan bersama. Jika memang sudah memiliki kenyamanan dan keyakinan satu sama lain, lalu apa lagi yang ingin dicari? Hanya kesenangan yang tanpa disadari menghabiskan masa mudamu? Hanya kesenangan berupa pendekatan yang tak kunjung usai? Mengapa tak segera dihalalkan saja hubungannya? Tapi tetap, halalkan lah kalau memang sudah sama-sama siap lahir dan batin dari kedua belah pihak ya hehehe

2. Masih lihat fisik?
    
      Memang, soal fisik tidak bisa munafik. Semua pasti ingin mendapatkan pasangan dengan fisik yang sempurna serta wajah yang menarik. Supaya apa? Supaya bisa dibanggakan di hadapan orang-orang, terlebih lagi bagi mereka yang merasa dirinya cantik atau tampan, pasti ingin pasangan yang secara fisik dan penampilan bisa turut mengimbangi. Namun, tidak mudah mencari pasangan yang baik dalam fisik dan mampu membahagiakan kita sekaligus. Beberapa kejadian di dunia nyata mengatakan bahwa yang memiliki kebanggaan secara fisik kadang malah menyakiti hati hehehe mungkin karena mereka terus mencari yang lebih dan lebih lagi sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki saat ini. Kemudian saya berpikir, apa betul yang baik dalam fisik itu bisa membuat bahagia jika sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mungkin bisa membahagiakan karena memberikan pemandangan yang indah di setiap harinya, namun jika tidak diimbangi sifat dan sikap yang baik juga, apakah masih mampu membahagiakan di setiap harinya? Misalnya saja, tampan tapi tidak bisa mencari nafkah, atau tampan tapi memiliki watak yang keras dan kasar, lalu apakah istri yang hidup bersama sosok seperti itu dapat merasakan kebahagiaan? Atau hanya merasa bahagia saat mampu membanggakannya di depan teman-temannya? Dari situ saya sadar, bahwa fisik bukanlah lagi merupakan hal penting yang harus dicari dalam hubungan di usia 22. Karena memang, masih banyak hal lain yang lebih penting dari sekadar kesempurnaan fisik.

3. Mapan

       Kalau mendengar kata "mapan" dalam suatu hubungan, mungkin identik dengan yang namanya "finansial" atau kemampuan ekonomi. lagi-lagi, tidak bisa munafik. Kemapanan seseorang dalam menjalani hubungan memang perlu diperhatikan, terutama bagi seorang pria. Apalagi di masa modern seperti saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatunya membutuhkan yang namanya uang. Tidak ada yang gratis hidup di dunia saat ini, kecuali cinta dan rindu, mungkin. Hehehe. Karena itu, bagi seorang wanita, menjalani hubungan di usia 22 juga harus sudah mulai memikirkan masalah kemapanan pasangannya, atau minimal melihat peluang kemapanan dari pasangannya. Tidak munafik, setiap wanita pasti ingin mendapatkan pasangan yang mapan agar kehidupan keluarga mereka kelak tidak kesusahan. Namun, bukan berarti wanita dapat bersantai dan tidak mempersiapkan diri. Mungkin kemapanan dari pihak wanita bukanlah dari segi finansial, namun lebih kepada segi kesiapan atau kemapanan mental. Kemapanan dalam kemampuan mengurus suami dan rumah tangga, kemapanan dalam kemampuan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga kelak, misalnya memasak atau menjahit. Dengan kata lain, baik pria maupun wanita harus memiliki kemapanan agar siap untuk melangkah ke tahap yang lebih serius dari sekadar pacaran remaja yang kebanyakan isinya hanya menghabiskan waktu saja.

4. Restu Orangtua

      Hal terakhir yang menurut saya penting untuk diperhatikan dalam hubungan di usia 22 tahun adalah restu orangtua. Sudah bukan waktunya lagi pacaran hanya memikirkan diri sendiri. Coba pikirkan juga pandangan dan pendapat kedua orangtua, karena restu orangtua lah yang turut memiliki andil besar dalam menentukan akhir perjalanan cinta. Jika memang tidak mendapat restu, usahakan. Terus berusaha hingga mendapat restu, tapi.. sebelum berusaha, yakini dulu diri masing-masing kalau pilihan saat ini adalah pilihan yang terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga restu yang diberikan tidak menjadi restu yang sia-sia. Jika memang tetap tidak mendapat restu, ya sudah, jangan melawan dan nekat, apalagi sampai kawin lari jangan yaaa. Mungkin mereka memiliki rencana yang lebih baik, Turuti saja kemauan mereka, toh sebelumnya sudah berusaha namun tidak berhasil. Jangan menentang orangtua, apalagi soal restu. Ingatlah, restu Tuhan diturunkan melalui restu orangtua. Jadi, di usia 22 tahun, mulailah menjalani hubungan yang memang telah mendapat restu dari kedua orangtua, agar tidak menjadi kendala yang menghalangi di akhir hubungan nanti.



Ya.. keempat poin di atas hanyalah pandangan saya sebagai penulis dan pribadi yang memang belum berumur 22 tahun, namun telah mendengar banyak kisah percintaan usia 20 tahun ke atas hehe
Kalau ada yang punya pandangan lain, boleh di share yaaaa ;) hehe comment aja nanti dilihat. Terimakasih

Monday, 3 August 2015

Berlatih Melupakanmu

Rasa sakit masih sedikit membekas di hatiku, rasa kecewa masih cukup menemani bayangmu dalam pikiranku, sampai kapan aku harus mengingatmu?

Kulihat dari kejauhan, kau telah menemukan kebahagiaanmu. Entah kebahagiaan yang tulus, atau kebahagiaan sandiwara. Entah kebahagiaan yang mampu bertahan lama, atau kandas seperti biasa. Entahlah, sesuka hatimu saja. 

Berbulan-bulan rasanya aku mencoba menghilangkan rasa dan bayang bayang akan dirimu. Sedikit demi sedikit, aku mampu. Sedikit demi sedikit, hati ini terobati. Namun, sesekali juga aku terjatuh kembali, sesekali juga rasa rindu kembali menyelimuti hati yang sepi ini. 

Melihatmu bahagia? Alhamdulillah. Apa aku terlihat munafik saat mengatakan ini? Mungkin. Tapi tenang saja, rasa syukurku melihat kebahagiaanmu disertai dengan sedikit harapan nakalku yang mengharapkan engkau kembali ke dalam pelukanku. Walau aku tau, saat ini kau telah memiliki yang baru. 

Setiap kali aku berdoa, aku selalu memohon pada Yang Kuasa untuk membuat hatiku lebih tegar lagi setiap harinya. Bagaimana pun caranya. Hingga suatu saat aku merasa menemukan cara sendiri untuk membuatku melupakan dirimu. 

Semacam berlatih, mengulang kenangan pahit dalam bayangan agar rasa rindu ini kian berkurang, agar rasa sayang ini semakin menghilang. Awalnya memang terasa sakit, terasa pahit. Harus membayangkan kembali apa yang membuatku menangis berhari-hari. Namun aku tau, semakin lama, kenangan yang kuingat secara paksa itu semakin ingin lepas. Cerita dari ketidakmungkinan kita untuk bersama semakin mendorong semua tentangmu untuk pergi meninggalkan jiwaku. Walau sulit, namun tetap kucoba. 

Hingga aku yakin akan ada suatu hari dimana aku bisa merasa biasa saja ketika kembali mengulang segala kenangan yang pernah kita lewati bersama dan pada saat itulah aku mampu berkata selamat tinggal seutuhnya kepada dirimu yang telah membuatku merasakan pahitnya sebuah kenyataan dari sesuatu bernama CINTA.

Jakarta, Satu Sebelum Akhir

Jakarta, satu sebelum akhir
Kutemui dirimu untuk melabuhkan rinduku

Jakarta, satu sebelum akhir
Kutemui kelebihan dirimu yang baru

Jakarta, satu sebelum akhir
Kutemui rasa syukur karena dapat mengenalmu

Jakarta, satu sebelum akhir
Kulewati waktu hanya dengan dirimu

Jakarta, satu sebelum akhir
Kumiliki saat berharga bersamamu

Jakarta, satu sebelum akhir
Kuharap takkan habis waktu untuk bertemu denganmu

Jakarta, satu sebelum akhir
Ku akan kembali merindukanmu

Jakarta, satu sebelum akhir
Ketika jauh, jangan kau lupakan aku

Jakarta, satu sebelum akhir
Ku menyayangimu, si mata cokelat ku

Thursday, 30 July 2015

Semoga

Hari ini aku melihat sebuah peristiwa
Dimana seorang wanita menangis
Menangis tanpa ragu karena merasa tersakiti
Air matanya mengalir deras
Tanpa memberi kesempatan
Pada segaris senyuman
Yang menghiasi wajahnya sehari-hari

Tiba-tiba aku berpikir
Berpikir tentang si mata cokelat
Berkhayal tentang dirinya
Apakah dia sama?
Sama seperti laki-laki yang menyakiti wanita itu?
Apakah dia sama?
Akan membuatku meneteskan air mata untuknya?

Semoga tidak.. (aamiin)

Semoga dia tidak akan membuatku menangisi dirinya
Semoga dia yang akan menguatkanku disaat aku menangisi hal lain
Semoga dia tidak akan meninggalkanku dalam kesendirian
Semoga dia yang akan membantuku membenarkan yang salah dari diriku
Semoga dia tidak akan banyak menuntutku untuk melakukan ini-itu
Semoga dia yang mau menerima baik dan buruk dari diriku
Semoga dia adalah sosok yang kucari selama ini

Aamiin

Semoga mata cokelatmu akan selalu memancarkan kehangatan, keindahan, dan ketulusan dari sebuah perasaan, yang InshaaAllah akan terus menemani perjalanan, hingga sebuah penantian akan berujung sebuah kebahagiaan.

Aamiin


Sunday, 26 July 2015

Si Mata Cokelat

Si Mata Cokelat
Mungkin itu yang pantas menggambarkan sosokmu dimataku

Si Mata Cokelat
Mungkin itu yang bisa kuucap saat merindukan dirimu

Si Mata Cokelat
Mungkin itu yang menjadi julukanmu dari diriku

Awalnya biasa saja
Seperti tidak ada yang istimewa
Hingga kutemui sebuah magnet tersembunyi
Di balik kedua bola matamu

Setiap kita bertatap
Setiap kita bicara
Mataku merasakan gaya magnet
Yang terpancar dari sana

Dari dua bola kecil
Yang menari-nari dengan indahnya
Memancarkan sesuatu yang mampu menarik
Perhatian dan konsentrasiku
Membuatnya terpusat pada
Dirimu seorang

Seperti ada yang mengikat pandanganku
Untuk terus bertahan
Menatap kedua bola itu
Bola cokelat yang bersinar
Memancarkan ketulusan

Wahai priaku yang bermata indah
Maafkan aku yang tak mampu lepas
Maafkan aku yang tak mampu mengalihkan
Perhatianku pada kedua matamu

Warna cokelat yang indah itu
Terus menahanku, memaksaku
Untuk tetap meletakkan pandangku
Lekat-lekat dan dalam
Hanya kepada dirimu

Si Mata Cokelat
Kesayanganku


Wednesday, 15 July 2015

Aku Lelakimu

Siang ini gue liat video klip Virzha - Aku Lelakimu di youtube sebagai salah satu hiburan dari kerjaan yang membosankan. Kenapa gue liat video klip itu? Kenapa gue nggak liat video klip lain aja? Alasannya satu.. Kangen. Bukan, bukan kangen sama Virzha, tapi kangen sama orang yang suka banget sama Virzha, kangen sama orang yang merasa dirinya miripnya Virzha, kangen sama orang yang pengen banget gayanya mirip Virzha, kangen sama orang yang pernah nyanyiin lagu itu dengan usaha keras supaya mirip Virzha waktu lagi karaoke sama gue. Huhuhuhu kenapa masih bisa kangen sama orang itu ya Allah :(

Sebelumnya gue belum pernah liat video klip itu full sampai akhir, kalau nggak salah juga di tempat karaoke video klipnya dipotong gitu alias nggak full kayak yang di youtube, so this is my first time. Ternyata video klipnya itu sedih banget, nggak tau kenapa gue sampek merinding sendiri liat cerita di video klip itu. Walaupun gue rasa sedihnya kecampur campur sama rasa sedih kangen mantan sih HAHAHAHA tapi bener, ceritanya sedih banget :( si cewek buta dan dapet donor mata dari cowoknya sendiri tanpa si cewek tau. Wow banget.. emang masih ada gitu cowok macem itu saat ini? hahaha.

Sebenernya lagu ini tuh emang bagus dan liriknya juga cukup menyentuh, tapi semua jadi lebih menyentuh lagi alias bikin baper soalnya ada kenangan tersembunyi di balik lagu ini :( pertama nonton Virzha secara live itu karena nemenin mr.X yang ngefans banget dan kepengen banget liat langsung, itu juga kayaknya pertama kalinya gue nonton acara musik gitu bareng dia. Seneng banget soalnya gue pribadi juga suka nonton acara semacam itu, dan seneng karena dia juga mau nonton acara itu walaupun emang penyebabnya karena Virzha yang tampil. Dan.... pas hari itu juga dia nembak gue HAHAHA makin banyak deh tuh kenangannya. Udah gitu, dia bener-bener pake baju yang mirip kayak style nya Virzha, ditambah lagi rambutnya yang gondrong, cocok deh kalo jadi adeknya Virzha. Pokoknya kalau liat Virzha malah jadi keinget si mr.X

Mr.X juga suka banget beli barang-barang kayak semi jas dan syal supaya dia makin mirip kayak Virzha. Dia juga pernah nyanyiin lagu Virzha waktu lagi karaoke dengan gaya yang bener-bener kayak Virzha, dengan suara yang dimirip-miripin juga dan itu lucu bagi gue, seneng gitu gue ngeliatnya :') Yaah tapi gimana ya sekarang semuanya udah tinggal kenangan euy hehe walaupun gue kangen tapi yaudah biar aja kangen ini stop sampek disini dan semoga gak sampek ke telinga orangnya hahah cukup gue, Allah dan kalian yang baca ini aja yang boleh tau kalo gue kangen sama si mr.X hahaha

Dah cukup sekian dan terimakasih, bhaaaaaaay

Monday, 6 July 2015

22th



Usia 22 mungkin bukanlah usia yang dewasa. Labil masih senantiasa meliputi usia muda itu. Namun, ada beberapa hal yang harus mulai diperhatikan sejak usia itu datang menyapa. Soal karir, soal arah hidup selanjutnya, dan satu lagi yang tak boleh dilupakan, soal cinta. 

Cinta yang terjadi di usia 22 bukan lagi cinta remaja yang hanya berisi hal-hal manis tanpa berpikir ke mana arah selanjutnya. Namun, cinta pada usia itu juga masih terlalu dini jika ingin dilabuhkan pada sebuah bahtera rumah tangga. 

Jadi, apa yang harus dilakukan pribadi berusia 22 tahun ketika cinta mulai datang kepadanya?

Haruskah ia menanggapinya dengan bercanda? Dengan santai? Dengan gurauan? Atau justru, dengan sebuah keseriusan?

Ini merupakan pandangan pribadiku tentang cinta yang menyapa di usia 20 tahun.

1. Serius atau main-main?
    
    Menurut pandangan saya, cinta di usia 22 tahun bukan lagi cinta main-main yang hanya berisikan kegiatan yang sifatnya untuk membunuh waktu. Bukan lagi suatu hubungan yang hanya berisikan pembicaraan berbau rayuan sesaat. Cinta usia 22 sudah mulai mengenyampingkan itu semua dan menggantikannya dengan pembicaraan yang lebih serius, dengan pembicaraan yang berisi perkenalan mendalam satu sama lain, dengan pembicaraan yang erat kaitannya dengan masa depan. Memang, soal jodoh tak ada yang tau dan tak ada yang bisa memastikan. Cinta usia 22 memang belum tentu cinta yang terakhir, belum tentu berakhir bahagia di pelaminan. Namun, usaha untuk yang lebih baik dapat dimulai sejak saat itu. Pembicaraan terencana yang penuh akan harapan dan doa dapat mulai dilambungkan bersama. Jika memang sudah memiliki kenyamanan dan keyakinan satu sama lain, lalu apa lagi yang ingin dicari? Hanya kesenangan yang tanpa disadari menghabiskan masa mudamu? Hanya kesenangan berupa pendekatan yang tak kunjung usai? Mengapa tak segera dihalalkan saja hubungannya? Tapi tetap, halalkan lah kalau memang sudah sama-sama siap lahir dan batin dari kedua belah pihak ya hehehe

2. Masih lihat fisik?
    
      Memang, soal fisik tidak bisa munafik. Semua pasti ingin mendapatkan pasangan dengan fisik yang sempurna serta wajah yang menarik. Supaya apa? Supaya bisa dibanggakan di hadapan orang-orang, terlebih lagi bagi mereka yang merasa dirinya cantik atau tampan, pasti ingin pasangan yang secara fisik dan penampilan bisa turut mengimbangi. Namun, tidak mudah mencari pasangan yang baik dalam fisik dan mampu membahagiakan kita sekaligus. Beberapa kejadian di dunia nyata mengatakan bahwa yang memiliki kebanggaan secara fisik kadang malah menyakiti hati hehehe mungkin karena mereka terus mencari yang lebih dan lebih lagi sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki saat ini. Kemudian saya berpikir, apa betul yang baik dalam fisik itu bisa membuat bahagia jika sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mungkin bisa membahagiakan karena memberikan pemandangan yang indah di setiap harinya, namun jika tidak diimbangi sifat dan sikap yang baik juga, apakah masih mampu membahagiakan di setiap harinya? Misalnya saja, tampan tapi tidak bisa mencari nafkah, atau tampan tapi memiliki watak yang keras dan kasar, lalu apakah istri yang hidup bersama sosok seperti itu dapat merasakan kebahagiaan? Atau hanya merasa bahagia saat mampu membanggakannya di depan teman-temannya? Dari situ saya sadar, bahwa fisik bukanlah lagi merupakan hal penting yang harus dicari dalam hubungan di usia 22. Karena memang, masih banyak hal lain yang lebih penting dari sekadar kesempurnaan fisik.

3. Mapan

       Kalau mendengar kata "mapan" dalam suatu hubungan, mungkin identik dengan yang namanya "finansial" atau kemampuan ekonomi. lagi-lagi, tidak bisa munafik. Kemapanan seseorang dalam menjalani hubungan memang perlu diperhatikan, terutama bagi seorang pria. Apalagi di masa modern seperti saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatunya membutuhkan yang namanya uang. Tidak ada yang gratis hidup di dunia saat ini, kecuali cinta dan rindu, mungkin. Hehehe. Karena itu, bagi seorang wanita, menjalani hubungan di usia 22 juga harus sudah mulai memikirkan masalah kemapanan pasangannya, atau minimal melihat peluang kemapanan dari pasangannya. Tidak munafik, setiap wanita pasti ingin mendapatkan pasangan yang mapan agar kehidupan keluarga mereka kelak tidak kesusahan. Namun, bukan berarti wanita dapat bersantai dan tidak mempersiapkan diri. Mungkin kemapanan dari pihak wanita bukanlah dari segi finansial, namun lebih kepada segi kesiapan atau kemapanan mental. Kemapanan dalam kemampuan mengurus suami dan rumah tangga, kemapanan dalam kemampuan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga kelak, misalnya memasak atau menjahit. Dengan kata lain, baik pria maupun wanita harus memiliki kemapanan agar siap untuk melangkah ke tahap yang lebih serius dari sekadar pacaran remaja yang kebanyakan isinya hanya menghabiskan waktu saja.

4. Restu Orangtua

      Hal terakhir yang menurut saya penting untuk diperhatikan dalam hubungan di usia 22 tahun adalah restu orangtua. Sudah bukan waktunya lagi pacaran hanya memikirkan diri sendiri. Coba pikirkan juga pandangan dan pendapat kedua orangtua, karena restu orangtua lah yang turut memiliki andil besar dalam menentukan akhir perjalanan cinta. Jika memang tidak mendapat restu, usahakan. Terus berusaha hingga mendapat restu, tapi.. sebelum berusaha, yakini dulu diri masing-masing kalau pilihan saat ini adalah pilihan yang terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga restu yang diberikan tidak menjadi restu yang sia-sia. Jika memang tetap tidak mendapat restu, ya sudah, jangan melawan dan nekat, apalagi sampai kawin lari jangan yaaa. Mungkin mereka memiliki rencana yang lebih baik, Turuti saja kemauan mereka, toh sebelumnya sudah berusaha namun tidak berhasil. Jangan menentang orangtua, apalagi soal restu. Ingatlah, restu Tuhan diturunkan melalui restu orangtua. Jadi, di usia 22 tahun, mulailah menjalani hubungan yang memang telah mendapat restu dari kedua orangtua, agar tidak menjadi kendala yang menghalangi di akhir hubungan nanti.



Ya.. keempat poin di atas hanyalah pandangan saya sebagai penulis dan pribadi yang memang belum berumur 22 tahun, namun telah mendengar banyak kisah percintaan usia 20 tahun ke atas hehe
Kalau ada yang punya pandangan lain, boleh di share yaaaa ;) hehe comment aja nanti dilihat. Terimakasih

Kerinduan


Rasa ini berkecamuk dalam dada
Meminta wujud yang dicinta
Mengharap sosok untuk dipuja

Bukan, bukan menduakan Tuhan
Bukan, bukan melupakan utusanNya
Bukan, bukan mengenyampingkan orangtua

Sosok yang dipuja dalam sisi yang berbeda
Wujud yang dicinta untuk mensyukuri ciptaan Nya
Dirinya..

Tersadar ku di keheningan
Pada siapa sebenarnya aku berkata
Pada siapa sebenarnya aku meminta

Lagi lagi..
Syair tak bersajak
Puisi tak berima
Hanya rindu yang berteriak
Menyerukan satu nama

Kemana arahnya kerinduan ini
Hanya menyiksa batinku kini
Jauh disana, apa kau merasakan yang sama?
Jika iya, kenapa kita tak bertemu jua?

Kunantikan dengan sabar
Hingga kepulanganmu sayang
Kubuat hatiku semakin berlapang
Hingga nanti kapal kita siap berlayar

Untitled



Gundah gulana tak menentu
Namun bukan prahara rindu
Walau mungkin ini tentang dirimu

Konsentrasiku terganggu
Berisikan bayang-bayangmu
Padahal kan, kita belum bertemu

Syair tak bersajak
Puisi tak berima
Mengapa kau tak ku ajak
Melewati sisa hidup berdua

Tulisan tak berarti
Tulisan tak dapat dimengerti
Sebegini gundahkah isi hati?
Sayangnya, tak bisa kupahami

Untuk dirimu yang disana
Silakan habiskan waktumu saja
Silakan nikmati sibukmu saja

Hingga nanti yang tersisa
Hanya waktu untuk kita berdua