SpongeBob SquarePants

Thursday, 3 November 2016

SEMANGAT!

Terimakasih sudah banyak membantu. 
Terimakasih sudah menemani.
Esok hari adalah giliranmu.
SEMANGAT!

Good luck my morph.

Wednesday, 2 November 2016

Selamatkan Jakarta

Saya hanya bisa menulis, saya tak berani bicara. Namun saya ingin berpendapat.
Maafkan jika ada pendapat saya yang kurang berkenan bagi kalian-kalian yang membacanya. 
Bukan kah di Republik ini, semua bebas berpendapat?

Akhir-akhir ini, kota tercinta saya yaitu DKI Jakarta tengah ramai oleh sebuah isu yang menimbulkan pro-kontra. Apalagi kalau bukan soal Pilkada 2017? Saya kira pilkada kali ini jauh berbeda dari pilkada sebelumnya. Ramai, penuh semangat, namun juga penuh emosi. Emosi? Kenapa ada unsur emosi di pilkada yang seharusnya 'seru' ini? Saya yakin isu yang sarat dengan emosi tersebut sudah diketahui oleh sebagian besar masyarakat Jakarta. 
     
Pak Ahok, alias Gubernur DKI Jakarta saat ini dituduh menistakan agama Islam, dan banyak umat muslim di Jakarta yang tidak terima akan hal itu. Tunggu.. tidak hanya umat muslim Jakarta, namun umat muslim Indonesia. Karena yang datang dan demo menuntut Pak Ahok tidak hanya datang dari Jakarta, namun juga dari kota-kota lain yang ada di Indonesia. Wah.. kompak ya umat muslim Indonesia. Tapi kok.. kompak demo?

Saya sendiri adalah seorang muslim, dan jujur saja pada awalnya saya merasa kecewa dengan Pak Ahok karena berbicara di depan masyarakat dengan menyinggung masalah agama. Saya tau banyak orang Islam yang tidak suka dengan Pak Ahok karena ras dan agamanya. Namun, apakah Islam mengajarkan umat nya untuk menjadi orang yang kental akan SARA? Islam hanya mengajarkan "Untuk mu agama mu dan untuk ku agamaku" dengan artian setiap manusia menjalankan keyakinan dan kewajiban beragamanya masing-masing tanpa saling menganggu. Apakah selama ini Pak Ahok mengganggu orang Islam? Saya rasa tidak. Saya memang kecewa karena Pak Ahok menyinggung tentang surat Al-Maidah dan mengatakan "Bapak-bapak dan Ibu-ibu dibohongi oleh surat Al-Maidah ayat 51" sesaat setelah melihat video itu di youtube, saya langsung mematikan ponsel saya dan bepikir "Wah, gila nih Ahok, kok gini sama Islam. Udah deh, gue nggak milih dia lagi". Karena memang, dulunya saya adalah pendukung beliau. Bahkan, pengagum beliau.

Saya sempat melakukan PKL atau kerja praktek di Pemda Jakarta yang gedungnya tepat bersebelahan dengan balai kota. Setiap pagi nya saya melihat Pak Ahok sudah berdiri di depan Balai Kota menemui orang-orang yang menunggu kehadirannya. Beliau tampak gagah setiap paginya, mendengarkan setiap orang yang berbicara kepadanya. Saya semakin kagum dengan beliau karena selama beliau menjabat, Jakarta menjadi kota yang lebih baik lagi. Saya merasakan banyak perubahan ke arah positif dengan kehadiran beliau. Saya seorang Sarjana dari ilmu perencanaan kota, sehingga sedikit demi sedikit saya paham akan isu perkotaan, dan menurut saya langkah-langkah yang beliau lakukan untuk memajukan kota Jakarta adalah tepat.

Namun sekarang, karena adanya video tersebut. Banyak orang yang mungkin kecewa, termasuk saya. Tapi saya salah, saya baru tau kalau video yang viral di youtube tersebut bukanlah video yang asli. Itu hanyalah sepenggal dari video yang sebenarnya. Dan dalam video asli, Pak Ahok tidak berbicara demikian. Saya semakin kecewa. Bukan dengan Pak Ahok, tapi dengan orang yang tega-teganya mengedit video tersebut dan membuat Pak Ahok menjadi terpojokan oleh berbagai pihak. Sengaja? Pasti. Tidak mungkin ada orang yang dengan 'tidak sengaja' mengedit sebuah video. Saya jadi berpikir, kenapa kesengajaan itu terjadi? Pasti ada maksud di balik semua itu. Saya mungkin hanya menerka, tapi pasti ada orang lain yang memiliki terkaan seperti saya. Video itu dibuat untuk menjatuhkan Pak Ahok, mungkin agar Pak Ahok dibenci dan tidak menjadi gubernur lagi. Karena video itu viral sesaat menuju Pilkada 2017. Saya ucapkan selamat kepada orang yang telah mengedit video itu, selamat karena Anda telah berhasil membuat Pak Ahok dihujat mati-matian. Dihujat oleh banyak orang yang menyebut diri mereka "pembela Islam". Terlalu jauh sebutan itu, sudah kah Anda membela kebenaran setiap harinya, wahai orang-orang pembela Islam? 

14 Oktober 2016, Balai Kota diramaikan oleh para pengunjuk rasa dengan balutan kain putih-putih. Ramai, penuh, sampai jalanan ditutup. Ya, pasukan "pembela Islam" tersebut menuntut agar Ahok meminta maaf terhadap seluruh umat muslim di Indonesia dan berharap agar masalah yang ada diselesaikan secara hukum. Dan akhirnya, Pak Ahok pun meminta maaf. Namun masalah belum selesai, tuntutan belum habis. Mungkin banyak yang berpikir kalau hukum tetap harus berjalan. 

Tidak sampai di situ saja. Demo "pembela Islam" akan berlanjut besok, Jumat tanggal 4 November 2016. Kalau sebelumnya Balai Kota yang "diserang", kali ini Istana Negara yang diserang. Kali ini Pak Jokowi selaku Presiden yang diminta untuk turun tangan dalam masalah Pak Ahok. Wah, seserius ini ya. Sekali lagi selamat bagi orang yang telah menyalakan korek dan membuat masalah ini terus berkobar. Ada 2 tuntutan yang dibawa oleh demonstran esok hari, pertama Pak Jokowi diminta untuk membantu agar masalah Pak Ahok diselesaikan secara hukum dan yang kedua untuk memasukkan Pak Ahok ke penjara. (sumber : Mata Najwa, 2 November 2016). Melihat 2 tuntutan tersebut, saya ingin tertawa. Kata panglima polri di Mata Najwa, tuntutan pertama masih mungkin untuk terjadi, tapi tuntutan kedua ...... (isi sendiri titik titiknya ha ha). Kalau saya pribadi sih jadi merasa lucu dan malu. Para "pembela Islam" ini kok kayak kurang belajar, ucuk-ucuk datang dari kota di luar Jakarta, minta tolong Pak Presiden untuk memenjarakan orang. Seperti ada yang menyuruh.... seperti ada yang memimpin.... Jangan-jangan, ada yang bayar. ups

Saya jadi bingung sendiri, kemana arah tulisan ini ya. Hm.. semakin nggak jelas. 

Intinya sih, saya hanya merasa para "pembela Islam" ini seperti tidak berpikir panjang. Kenapa bersikeras agar Pak Ahok dipenjara? Agar Islam, Jakarta dan Indonesia jadi damai? Atau agar pesaing Pak Ahok yang akhirnya menang dan jadi gubernur DKI? Tolong, buka mata kalian. Pak Ahok memang bukan seorang muslim, beliau memang nasrani, tapi beliau berhati baik. Yang dibutuhkan Jakarta saat ini adalah pemimpin yang terlihat hasil kerjanya, bukan hanya yang seagama. Jika memang ada calon pemimpin seorang muslim dan kinerjanya baik, boleh saja dipilih. Tapi sekarang.. coba lihat, apa ada? Biarlah kita kasih kesempatan sekali lagi untuk Pak Ahok agar Jakarta bisa lebih maksimal lagi. Kerja Pak Ahok sudah nyata, lihat banyak perubahan di Jakarta. Mungkin saja 5 tahun lagi Pak Ahok benar-benar bisa mewujudkan Jakarta yang lebih baik lagi. Aamiin.

Terimakasih Pak Ahok, 
dari pendukung setiamu. 





Monday, 31 October 2016

Iseng-Iseng

Hello everyone!

Semakin hari blog ini semakin nggak keurus nih huhu. Selain karena ada kegiatan lain yang dilakukan, aku juga mulai bingung karena konten blog ku bener-bener nggak terkonsep dengan baik. Jadi awur-awuran banget huhu

So, aku akan membuat blog baru dengan domain wordpress.com yang kali ini akan aku konsep supaya lebih bagus dan lebih mudah buat aku isi hehe.

setengahpelangi.wordpress.com

itu dia alamat blog ku yang baru. Isi nya seputar sastra, ada puisi, ada quotes, dan ada sastra lainnya yang super random hahaha. 

Tapi lumayan lah, setidaknya lebih terkonsep daripada blog yang ini.

Jadi, langsung main-main aja ya ke blog baru aku hehe. Thanks


XOXO

Sunday, 14 August 2016

Untukmu

Untukmu, kasihku

Entah apa yang mengganggu pikiranmu saat ini
Entah apa yang berkecamuk dalam jiwamu saat ini
Semoga tak mengubah kasih dan sayang
Yang kau simpan dan kau jaga untukku

Untukmu, kasihku

Aku selalu berusaha untuk mengubah sendu menjadi tawa
Aku selalu bertekad untuk mengubah air mata menjadi bahagia
Aku tak mau kau terluka
Aku tak mau kau berduka
Sakit, sedih, kecewa
Karena keadaan yang ada
Karena kenyataan yang ada

Untukmu, kasihku

Aku ingin setia
Setia menemanimu, berada di sampingmu
Aku ingin setia
Menyertakan namamu dalam doa-doaku
Selalu

Untukmu, kasihku

Aku tau mungkin saat ini
Begitu banyak hal buruk yang mengganggu harimu
Namun aku yakin,
Kau kuat untuk melalui semua itu

Untukmu, kasihku

Kata-kata yang jauh dari puitis ini
Kutulis tulus dari dalam hati
Untuk menunjukkan rasa sayangku
Untuk menunjukkan kepedulianku
Untuk menunjukkan
Bahwa kau berarti bagiku

Untukmu, kasihku

Tersenyumlah (lagi)
Tertawalah (lagi)
Bahagialah (lagi)
Dan (tetaplah) bersamaku disini

Saturday, 6 August 2016

Mama Tetaplah Mama

Cerita ini gue tulis berdasarkan pengalaman pribadi alias curhat. Dengan tujuan berbagi pengalaman atau bahkan mungkin mewakilkan orang-orang yang memiliki nasib yang sama hehe. Mari kita mulai..


Gue adalah anak terakhir dari 4 bersaudara, tapi karena kakak gue yang pertama meninggal beberapa tahun yang lalu, jadilah gue anak dengan posisi ketiga. Kakak gue yang pertama adalah anak yang paling pinter dari keempat anak nyokap gue, terbukti dengan kemampuan otaknya yang akhirnya membawa dia masuk kuliah di UI melalui UMPTN atau yang sekarang dikenal dengan nama SNMPTN tertulis. Dan sebelum dia meninggal, dia sempat meneruskan kuliah S2 nya dengan biaya sendiri tanpa diketahui nyokap gue, dan beberapa saat kemudian dia meninggal karena kanker. Kedua kakak gue yang lain emang nggak sepinter kakak gue yang pertama, 2-2nya kuliah di universitas swasta. Dan gue sebagai anak terakhir alhamdulillah dinilai sama pinternya kayak kakak gue yang pertama dan lebih pinter dari kedua kakak gue yang lain. Walaupun gue bukan anak yang selalu dapat ranking dari waktu ke waktu, tapi gue pernah dapet nilai 10 di UN Matematika pas SMP, dan itu murni tanpa contekan coy. Itu hasil gue les privat selama setahun sama guru gue yang super duper jago matematikanya, transfer ilmunya, dan prediksi soalnya. Semua soal yang keluar pas UN sama kayak semua soal yang dikasih guru les gue buat latihan, alhasil bisa deh gue menyelesaikan semua soalnya tanpa salah satu pun HAHA. najis gue congkak  Selain itu gue juga pernah dapet ranking di SMA dan masuk jurusan IPA dan nyokap gue bangga padahal menurut gue biasa aja. Dan yang berikutnya adalah yang paling dianggap membanggakan keluarga gue saat itu, yaitu keterimanya gue di salah satu PTN yang termasuk bagus di pulau Jawa melalui SNMPTN Tulis. Langsung lah keluarga gue berbangga dan berbahagia.

Sebenarnya, semua penjelasan yang panjang lebar di atas itu barulah INTRO guys wkwk karena inti yang mau gue ceritain justru pengalaman setelah semua itu. Pengalaman saat gue kuliah dan saat gue lulus kuliah...

Nyokap gue emang bidadari gue. Orang yang paling gue sayang, dan juga yang paling gue takutin. Takutin disini dalam segala hal ya haha soalnya nyokap gue emang super galak dan tegas, tapi kadang juga egois :( bisa dinilai egois dari kisah yang mau gue ceritain habis ini. Gue selalu pengen bahagiain dan banggain nyokap gue gimana pun caranya, dan salah satunya melalui bidang akademis. Kayak yang udah gue bilang sebelumnya, gue keterima kuliah di salah satu PTN dan tentunya gue harus mempertanggungjawabkan semua itu alias gue harus kuliah dengan baik sebaik-baiknya. 

Nyokap gue selalu berharap gue dapat nilai bagus, IP tinggi, pokoknya baik dalam hal akademis. Setiap akhir semester nyokap gue selalu nelfon buat nanyain hasilnya, dan alhamdulillah semester pertama bisa gue lewatin dengan baik dan IP gue kala itu 3,56. Tapi, nyokap gue tetap minta lebih alias "kenapa nggak 3,6?" Oke, gue belajar lebih giat lagi dan semester berikutnya gue dapat IP 3,65. Nyokap gue bersyukur? Iya. Seneng? Biasa aja. Nyokap gue bilang "kenapa nggak 3,7?" dan begitu seterusnya, berapa pun IP gue, sebagus apa pun IP gue tetep dituntut lebih dan lebih lagi. Gue tau setiap orang tua pasti mau anaknya jadi yang terbaik, tapi.. yang kuliah kan gue, yang mikir gue, yang capek gue, dan setiap semester pasti makin sulit dong? Apalagi kuliah gue termasuk kuliah subjektif dan bukan ilmu pasti, dan banyak kelompokannya, jadi yang namanya nilai itu tergantung dari dosen dan temen sekelompok lo. 

Sampai akhirnya gue pernah drop di 1 semester, dapet IP 3,30. Jujur emang gue sedih karena itu lumayan jatuh dari IP sebelumnya, tapi ya mau gimana lagi. Toh masih di atas 3, dan menurut gue masih oke. Tapi ya namanya juga nyokap gue, selalu menuntut lebih. Sampai akhirnya masuk lah gue di semester akhir.... dan balada mahasiswa akhir mulai menyerang. Buat kalian yang pernah melewati tingkat akhir pasti tau sendiri rasanya :") dan nyokap gue minta supaya gue lulus cumlaude. Dan gue sendiri nggak yakin sama kemampuan gue soalnya udah tinggal mata kuliah Tugas Akhir dan IPK gue nggak mendekati 3,50 alias agak susah buat cumlaude. Tapi yaudah, gue menjalani semua seperti biasa. Dan emang bener.. saat semua tahapan di tingkat akhir udah gue lewatin, IPK gue hanyalah 3,46 dan itu berarti gue nggak cumlaude. Dan hal pertama yang gue pikirkan adalah "Mama pasti sedih", dan gue laporan ke nyokap tentang nilai gue sambil bilang "Jangan marah ya Ma, aku nggak cumlaude" dan nyokap gue cuma bales "Nggak marah, cuma kecewa sedikit" Jedarrrrrrrrr langsung nangis gue pas baca balesan whatsapp nyokap gue kayak gitu.

Dari situ gue mikir, kenapa nyokap gue selalu menuntut lebih ke gue. Sempat ada pikiran "Mama nggak mikir apa ya, gue capek, gue juga udah berusaha susah payah buat cumlaude, tapi ya apa daya hasilnya tetep nggak bisa. Kenapa sih mama nggak pernah bersyukur?" gue nanya itu ke diri gue sendiri karena jelas aja gue takut buat nanya langsung ke nyokap. Gue nangis dan sedih karena gue udah ngecewain nyokap gue, tapi ya gue juga udah gak bisa ngapa-ngapain. Dan gue tau.. nyokap gue pasti ngebandingin gue dengan temen-temen gue yang bisa cumlaude, bandingin sama sepupu gue yang mungkin juga cumlaude *waktu itu gue belum tau hasilnya, tapi sekarang gue udah tau dan dia emang cumlaude hahahanjer* pokoknya gue udah takut aja.

Dan emang bener, nyokap gue nanyain nilainya sahabat-sahabat gue dan mereka emang cumlaude, gimana gue nggak makin kepikiran. Walaupun temen-temen dan kakak-kakak gue tetep menyemangati dan bilang kalau IP gue udah bagus, tetep aja gue kepikiran karena nyokap gue tetep kecewa. 

Itu baru masalah IP, belum lagi masalah kerjaan. Pasti kalo ada temen gue yang lebih dulu dapet kerja atau dapet kerja yang lebih enak, pasti gue bakal dibanding-bandingin lagi. Nyokap gue mah gitu. Susah buat bersyukur, susah buat mengerti yang namanya "rejeki udah diatur", "rejeki nggak bakal ketuker", "rejeki nggak kemana", nyokap gue selalu mau gue jadi yang terbaik nggak mau tau gimana caranya. Dan sebenarnya... gue agak tertekan dengan sifat nyokap gue itu. Gue mau ngapa-ngapain jadi takut salah, jadi takut dianggap kurang sama nyokap, karena gue tau apa yang gue lakuin bakal selalu diminta yang lebih sama nyokap gue. Tapi, mau gimana lagi? Se egois apa pun nyokap gue, dia tetep orang yang paling pengen gue banggain dan bahagiain. Sekeras apa pun sifat nyokap gue, dia tetep orang yang paling gue sayang. Setega apa pun nyokap gue menekan dan mendesak gue buat memberi yang lebih dari apa yang gue bisa, dia tetep orang yang di telapak kakinya terdapat surga buat gue. So, I'm sorry mom for all of my mistakes and I love you mom, no matter what. 

Friday, 5 August 2016

RETISHE NOTEBOOK


-RETISHE NOTEBOOK-

Mau notebook kece yang nggak pasaran?
Harga terjangkau?
Kualitas bagus?
Design sesuka hati?

Ayo order Custom Notebook di..

RETISHE NOTEBOOK

Hanya dengan 50.000 kamu sudah bisa punya notebook dengan design sesuai dengan keinginanmu. 

Selain itu, Retishe Notebook juga spesial loh, karena :
- Hardcover + laminating doff
- Ukuran A5 isi 80 lembar
- Jilid ring (3 Ring) bisa isi ulang

Jenis kertas nya juga bisa pilih :
- Bookpaper (krem garis / polos)
- HVS warna (pink, biru, kuning, hijau) garis / polos
- Kertas coklat polos

Isi kertas bisa dicampur dan pengerjaannya hanya 2 hari.

So, tunggu apalagi? Yuk order notebook di RETISHE NOTEBOOK sekarang juga :)

IG : retishenotebook
Line @ : @goj3553k




Monokrom

Salah satu lagu Tulus di album Monokrom yang liriknya luar biasa :)

Entah kenapa, banyak yang mengartikan lagu ini sebagai lagu dari Tulus untuk Teman Tulus hehe. Semoga memang benar begitu ya, Bang :)



Lembaran foto hitam putih / Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu /
Kali pertama di hidupku / Manusia lain memelukku /
Lembaran foto hitam putih / Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu /
Kue coklat balon warna warni / Pesta hari ulang tahunku /
Di mana pun kalian berada / Kukirimkan terima kasih /
Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah /
Kau melukis aku / Lembaran foto hitam putih /
Kembali teringat malam kuhitung bintang-bintang /
Saat mataku sulit tidur / Suaramu buatku lelap /
Kita tak pernah tau berapa lama kita / Diberi waktu /
Jika aku pergi lebih dulu jangan lupakan aku /
Ini lagu untukmu / Ungkapan terimakasihku /
Lembar monokrom hitam putih /
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku /
Tak akan kumengerti cinta / Bila bukan karena hati baikmu


Thursday, 3 November 2016

SEMANGAT!

Terimakasih sudah banyak membantu. 
Terimakasih sudah menemani.
Esok hari adalah giliranmu.
SEMANGAT!

Good luck my morph.

Wednesday, 2 November 2016

Selamatkan Jakarta

Saya hanya bisa menulis, saya tak berani bicara. Namun saya ingin berpendapat.
Maafkan jika ada pendapat saya yang kurang berkenan bagi kalian-kalian yang membacanya. 
Bukan kah di Republik ini, semua bebas berpendapat?

Akhir-akhir ini, kota tercinta saya yaitu DKI Jakarta tengah ramai oleh sebuah isu yang menimbulkan pro-kontra. Apalagi kalau bukan soal Pilkada 2017? Saya kira pilkada kali ini jauh berbeda dari pilkada sebelumnya. Ramai, penuh semangat, namun juga penuh emosi. Emosi? Kenapa ada unsur emosi di pilkada yang seharusnya 'seru' ini? Saya yakin isu yang sarat dengan emosi tersebut sudah diketahui oleh sebagian besar masyarakat Jakarta. 
     
Pak Ahok, alias Gubernur DKI Jakarta saat ini dituduh menistakan agama Islam, dan banyak umat muslim di Jakarta yang tidak terima akan hal itu. Tunggu.. tidak hanya umat muslim Jakarta, namun umat muslim Indonesia. Karena yang datang dan demo menuntut Pak Ahok tidak hanya datang dari Jakarta, namun juga dari kota-kota lain yang ada di Indonesia. Wah.. kompak ya umat muslim Indonesia. Tapi kok.. kompak demo?

Saya sendiri adalah seorang muslim, dan jujur saja pada awalnya saya merasa kecewa dengan Pak Ahok karena berbicara di depan masyarakat dengan menyinggung masalah agama. Saya tau banyak orang Islam yang tidak suka dengan Pak Ahok karena ras dan agamanya. Namun, apakah Islam mengajarkan umat nya untuk menjadi orang yang kental akan SARA? Islam hanya mengajarkan "Untuk mu agama mu dan untuk ku agamaku" dengan artian setiap manusia menjalankan keyakinan dan kewajiban beragamanya masing-masing tanpa saling menganggu. Apakah selama ini Pak Ahok mengganggu orang Islam? Saya rasa tidak. Saya memang kecewa karena Pak Ahok menyinggung tentang surat Al-Maidah dan mengatakan "Bapak-bapak dan Ibu-ibu dibohongi oleh surat Al-Maidah ayat 51" sesaat setelah melihat video itu di youtube, saya langsung mematikan ponsel saya dan bepikir "Wah, gila nih Ahok, kok gini sama Islam. Udah deh, gue nggak milih dia lagi". Karena memang, dulunya saya adalah pendukung beliau. Bahkan, pengagum beliau.

Saya sempat melakukan PKL atau kerja praktek di Pemda Jakarta yang gedungnya tepat bersebelahan dengan balai kota. Setiap pagi nya saya melihat Pak Ahok sudah berdiri di depan Balai Kota menemui orang-orang yang menunggu kehadirannya. Beliau tampak gagah setiap paginya, mendengarkan setiap orang yang berbicara kepadanya. Saya semakin kagum dengan beliau karena selama beliau menjabat, Jakarta menjadi kota yang lebih baik lagi. Saya merasakan banyak perubahan ke arah positif dengan kehadiran beliau. Saya seorang Sarjana dari ilmu perencanaan kota, sehingga sedikit demi sedikit saya paham akan isu perkotaan, dan menurut saya langkah-langkah yang beliau lakukan untuk memajukan kota Jakarta adalah tepat.

Namun sekarang, karena adanya video tersebut. Banyak orang yang mungkin kecewa, termasuk saya. Tapi saya salah, saya baru tau kalau video yang viral di youtube tersebut bukanlah video yang asli. Itu hanyalah sepenggal dari video yang sebenarnya. Dan dalam video asli, Pak Ahok tidak berbicara demikian. Saya semakin kecewa. Bukan dengan Pak Ahok, tapi dengan orang yang tega-teganya mengedit video tersebut dan membuat Pak Ahok menjadi terpojokan oleh berbagai pihak. Sengaja? Pasti. Tidak mungkin ada orang yang dengan 'tidak sengaja' mengedit sebuah video. Saya jadi berpikir, kenapa kesengajaan itu terjadi? Pasti ada maksud di balik semua itu. Saya mungkin hanya menerka, tapi pasti ada orang lain yang memiliki terkaan seperti saya. Video itu dibuat untuk menjatuhkan Pak Ahok, mungkin agar Pak Ahok dibenci dan tidak menjadi gubernur lagi. Karena video itu viral sesaat menuju Pilkada 2017. Saya ucapkan selamat kepada orang yang telah mengedit video itu, selamat karena Anda telah berhasil membuat Pak Ahok dihujat mati-matian. Dihujat oleh banyak orang yang menyebut diri mereka "pembela Islam". Terlalu jauh sebutan itu, sudah kah Anda membela kebenaran setiap harinya, wahai orang-orang pembela Islam? 

14 Oktober 2016, Balai Kota diramaikan oleh para pengunjuk rasa dengan balutan kain putih-putih. Ramai, penuh, sampai jalanan ditutup. Ya, pasukan "pembela Islam" tersebut menuntut agar Ahok meminta maaf terhadap seluruh umat muslim di Indonesia dan berharap agar masalah yang ada diselesaikan secara hukum. Dan akhirnya, Pak Ahok pun meminta maaf. Namun masalah belum selesai, tuntutan belum habis. Mungkin banyak yang berpikir kalau hukum tetap harus berjalan. 

Tidak sampai di situ saja. Demo "pembela Islam" akan berlanjut besok, Jumat tanggal 4 November 2016. Kalau sebelumnya Balai Kota yang "diserang", kali ini Istana Negara yang diserang. Kali ini Pak Jokowi selaku Presiden yang diminta untuk turun tangan dalam masalah Pak Ahok. Wah, seserius ini ya. Sekali lagi selamat bagi orang yang telah menyalakan korek dan membuat masalah ini terus berkobar. Ada 2 tuntutan yang dibawa oleh demonstran esok hari, pertama Pak Jokowi diminta untuk membantu agar masalah Pak Ahok diselesaikan secara hukum dan yang kedua untuk memasukkan Pak Ahok ke penjara. (sumber : Mata Najwa, 2 November 2016). Melihat 2 tuntutan tersebut, saya ingin tertawa. Kata panglima polri di Mata Najwa, tuntutan pertama masih mungkin untuk terjadi, tapi tuntutan kedua ...... (isi sendiri titik titiknya ha ha). Kalau saya pribadi sih jadi merasa lucu dan malu. Para "pembela Islam" ini kok kayak kurang belajar, ucuk-ucuk datang dari kota di luar Jakarta, minta tolong Pak Presiden untuk memenjarakan orang. Seperti ada yang menyuruh.... seperti ada yang memimpin.... Jangan-jangan, ada yang bayar. ups

Saya jadi bingung sendiri, kemana arah tulisan ini ya. Hm.. semakin nggak jelas. 

Intinya sih, saya hanya merasa para "pembela Islam" ini seperti tidak berpikir panjang. Kenapa bersikeras agar Pak Ahok dipenjara? Agar Islam, Jakarta dan Indonesia jadi damai? Atau agar pesaing Pak Ahok yang akhirnya menang dan jadi gubernur DKI? Tolong, buka mata kalian. Pak Ahok memang bukan seorang muslim, beliau memang nasrani, tapi beliau berhati baik. Yang dibutuhkan Jakarta saat ini adalah pemimpin yang terlihat hasil kerjanya, bukan hanya yang seagama. Jika memang ada calon pemimpin seorang muslim dan kinerjanya baik, boleh saja dipilih. Tapi sekarang.. coba lihat, apa ada? Biarlah kita kasih kesempatan sekali lagi untuk Pak Ahok agar Jakarta bisa lebih maksimal lagi. Kerja Pak Ahok sudah nyata, lihat banyak perubahan di Jakarta. Mungkin saja 5 tahun lagi Pak Ahok benar-benar bisa mewujudkan Jakarta yang lebih baik lagi. Aamiin.

Terimakasih Pak Ahok, 
dari pendukung setiamu. 





Monday, 31 October 2016

Iseng-Iseng

Hello everyone!

Semakin hari blog ini semakin nggak keurus nih huhu. Selain karena ada kegiatan lain yang dilakukan, aku juga mulai bingung karena konten blog ku bener-bener nggak terkonsep dengan baik. Jadi awur-awuran banget huhu

So, aku akan membuat blog baru dengan domain wordpress.com yang kali ini akan aku konsep supaya lebih bagus dan lebih mudah buat aku isi hehe.

setengahpelangi.wordpress.com

itu dia alamat blog ku yang baru. Isi nya seputar sastra, ada puisi, ada quotes, dan ada sastra lainnya yang super random hahaha. 

Tapi lumayan lah, setidaknya lebih terkonsep daripada blog yang ini.

Jadi, langsung main-main aja ya ke blog baru aku hehe. Thanks


XOXO

Sunday, 14 August 2016

Untukmu

Untukmu, kasihku

Entah apa yang mengganggu pikiranmu saat ini
Entah apa yang berkecamuk dalam jiwamu saat ini
Semoga tak mengubah kasih dan sayang
Yang kau simpan dan kau jaga untukku

Untukmu, kasihku

Aku selalu berusaha untuk mengubah sendu menjadi tawa
Aku selalu bertekad untuk mengubah air mata menjadi bahagia
Aku tak mau kau terluka
Aku tak mau kau berduka
Sakit, sedih, kecewa
Karena keadaan yang ada
Karena kenyataan yang ada

Untukmu, kasihku

Aku ingin setia
Setia menemanimu, berada di sampingmu
Aku ingin setia
Menyertakan namamu dalam doa-doaku
Selalu

Untukmu, kasihku

Aku tau mungkin saat ini
Begitu banyak hal buruk yang mengganggu harimu
Namun aku yakin,
Kau kuat untuk melalui semua itu

Untukmu, kasihku

Kata-kata yang jauh dari puitis ini
Kutulis tulus dari dalam hati
Untuk menunjukkan rasa sayangku
Untuk menunjukkan kepedulianku
Untuk menunjukkan
Bahwa kau berarti bagiku

Untukmu, kasihku

Tersenyumlah (lagi)
Tertawalah (lagi)
Bahagialah (lagi)
Dan (tetaplah) bersamaku disini

Saturday, 6 August 2016

Mama Tetaplah Mama

Cerita ini gue tulis berdasarkan pengalaman pribadi alias curhat. Dengan tujuan berbagi pengalaman atau bahkan mungkin mewakilkan orang-orang yang memiliki nasib yang sama hehe. Mari kita mulai..


Gue adalah anak terakhir dari 4 bersaudara, tapi karena kakak gue yang pertama meninggal beberapa tahun yang lalu, jadilah gue anak dengan posisi ketiga. Kakak gue yang pertama adalah anak yang paling pinter dari keempat anak nyokap gue, terbukti dengan kemampuan otaknya yang akhirnya membawa dia masuk kuliah di UI melalui UMPTN atau yang sekarang dikenal dengan nama SNMPTN tertulis. Dan sebelum dia meninggal, dia sempat meneruskan kuliah S2 nya dengan biaya sendiri tanpa diketahui nyokap gue, dan beberapa saat kemudian dia meninggal karena kanker. Kedua kakak gue yang lain emang nggak sepinter kakak gue yang pertama, 2-2nya kuliah di universitas swasta. Dan gue sebagai anak terakhir alhamdulillah dinilai sama pinternya kayak kakak gue yang pertama dan lebih pinter dari kedua kakak gue yang lain. Walaupun gue bukan anak yang selalu dapat ranking dari waktu ke waktu, tapi gue pernah dapet nilai 10 di UN Matematika pas SMP, dan itu murni tanpa contekan coy. Itu hasil gue les privat selama setahun sama guru gue yang super duper jago matematikanya, transfer ilmunya, dan prediksi soalnya. Semua soal yang keluar pas UN sama kayak semua soal yang dikasih guru les gue buat latihan, alhasil bisa deh gue menyelesaikan semua soalnya tanpa salah satu pun HAHA. najis gue congkak  Selain itu gue juga pernah dapet ranking di SMA dan masuk jurusan IPA dan nyokap gue bangga padahal menurut gue biasa aja. Dan yang berikutnya adalah yang paling dianggap membanggakan keluarga gue saat itu, yaitu keterimanya gue di salah satu PTN yang termasuk bagus di pulau Jawa melalui SNMPTN Tulis. Langsung lah keluarga gue berbangga dan berbahagia.

Sebenarnya, semua penjelasan yang panjang lebar di atas itu barulah INTRO guys wkwk karena inti yang mau gue ceritain justru pengalaman setelah semua itu. Pengalaman saat gue kuliah dan saat gue lulus kuliah...

Nyokap gue emang bidadari gue. Orang yang paling gue sayang, dan juga yang paling gue takutin. Takutin disini dalam segala hal ya haha soalnya nyokap gue emang super galak dan tegas, tapi kadang juga egois :( bisa dinilai egois dari kisah yang mau gue ceritain habis ini. Gue selalu pengen bahagiain dan banggain nyokap gue gimana pun caranya, dan salah satunya melalui bidang akademis. Kayak yang udah gue bilang sebelumnya, gue keterima kuliah di salah satu PTN dan tentunya gue harus mempertanggungjawabkan semua itu alias gue harus kuliah dengan baik sebaik-baiknya. 

Nyokap gue selalu berharap gue dapat nilai bagus, IP tinggi, pokoknya baik dalam hal akademis. Setiap akhir semester nyokap gue selalu nelfon buat nanyain hasilnya, dan alhamdulillah semester pertama bisa gue lewatin dengan baik dan IP gue kala itu 3,56. Tapi, nyokap gue tetap minta lebih alias "kenapa nggak 3,6?" Oke, gue belajar lebih giat lagi dan semester berikutnya gue dapat IP 3,65. Nyokap gue bersyukur? Iya. Seneng? Biasa aja. Nyokap gue bilang "kenapa nggak 3,7?" dan begitu seterusnya, berapa pun IP gue, sebagus apa pun IP gue tetep dituntut lebih dan lebih lagi. Gue tau setiap orang tua pasti mau anaknya jadi yang terbaik, tapi.. yang kuliah kan gue, yang mikir gue, yang capek gue, dan setiap semester pasti makin sulit dong? Apalagi kuliah gue termasuk kuliah subjektif dan bukan ilmu pasti, dan banyak kelompokannya, jadi yang namanya nilai itu tergantung dari dosen dan temen sekelompok lo. 

Sampai akhirnya gue pernah drop di 1 semester, dapet IP 3,30. Jujur emang gue sedih karena itu lumayan jatuh dari IP sebelumnya, tapi ya mau gimana lagi. Toh masih di atas 3, dan menurut gue masih oke. Tapi ya namanya juga nyokap gue, selalu menuntut lebih. Sampai akhirnya masuk lah gue di semester akhir.... dan balada mahasiswa akhir mulai menyerang. Buat kalian yang pernah melewati tingkat akhir pasti tau sendiri rasanya :") dan nyokap gue minta supaya gue lulus cumlaude. Dan gue sendiri nggak yakin sama kemampuan gue soalnya udah tinggal mata kuliah Tugas Akhir dan IPK gue nggak mendekati 3,50 alias agak susah buat cumlaude. Tapi yaudah, gue menjalani semua seperti biasa. Dan emang bener.. saat semua tahapan di tingkat akhir udah gue lewatin, IPK gue hanyalah 3,46 dan itu berarti gue nggak cumlaude. Dan hal pertama yang gue pikirkan adalah "Mama pasti sedih", dan gue laporan ke nyokap tentang nilai gue sambil bilang "Jangan marah ya Ma, aku nggak cumlaude" dan nyokap gue cuma bales "Nggak marah, cuma kecewa sedikit" Jedarrrrrrrrr langsung nangis gue pas baca balesan whatsapp nyokap gue kayak gitu.

Dari situ gue mikir, kenapa nyokap gue selalu menuntut lebih ke gue. Sempat ada pikiran "Mama nggak mikir apa ya, gue capek, gue juga udah berusaha susah payah buat cumlaude, tapi ya apa daya hasilnya tetep nggak bisa. Kenapa sih mama nggak pernah bersyukur?" gue nanya itu ke diri gue sendiri karena jelas aja gue takut buat nanya langsung ke nyokap. Gue nangis dan sedih karena gue udah ngecewain nyokap gue, tapi ya gue juga udah gak bisa ngapa-ngapain. Dan gue tau.. nyokap gue pasti ngebandingin gue dengan temen-temen gue yang bisa cumlaude, bandingin sama sepupu gue yang mungkin juga cumlaude *waktu itu gue belum tau hasilnya, tapi sekarang gue udah tau dan dia emang cumlaude hahahanjer* pokoknya gue udah takut aja.

Dan emang bener, nyokap gue nanyain nilainya sahabat-sahabat gue dan mereka emang cumlaude, gimana gue nggak makin kepikiran. Walaupun temen-temen dan kakak-kakak gue tetep menyemangati dan bilang kalau IP gue udah bagus, tetep aja gue kepikiran karena nyokap gue tetep kecewa. 

Itu baru masalah IP, belum lagi masalah kerjaan. Pasti kalo ada temen gue yang lebih dulu dapet kerja atau dapet kerja yang lebih enak, pasti gue bakal dibanding-bandingin lagi. Nyokap gue mah gitu. Susah buat bersyukur, susah buat mengerti yang namanya "rejeki udah diatur", "rejeki nggak bakal ketuker", "rejeki nggak kemana", nyokap gue selalu mau gue jadi yang terbaik nggak mau tau gimana caranya. Dan sebenarnya... gue agak tertekan dengan sifat nyokap gue itu. Gue mau ngapa-ngapain jadi takut salah, jadi takut dianggap kurang sama nyokap, karena gue tau apa yang gue lakuin bakal selalu diminta yang lebih sama nyokap gue. Tapi, mau gimana lagi? Se egois apa pun nyokap gue, dia tetep orang yang paling pengen gue banggain dan bahagiain. Sekeras apa pun sifat nyokap gue, dia tetep orang yang paling gue sayang. Setega apa pun nyokap gue menekan dan mendesak gue buat memberi yang lebih dari apa yang gue bisa, dia tetep orang yang di telapak kakinya terdapat surga buat gue. So, I'm sorry mom for all of my mistakes and I love you mom, no matter what. 

Friday, 5 August 2016

RETISHE NOTEBOOK


-RETISHE NOTEBOOK-

Mau notebook kece yang nggak pasaran?
Harga terjangkau?
Kualitas bagus?
Design sesuka hati?

Ayo order Custom Notebook di..

RETISHE NOTEBOOK

Hanya dengan 50.000 kamu sudah bisa punya notebook dengan design sesuai dengan keinginanmu. 

Selain itu, Retishe Notebook juga spesial loh, karena :
- Hardcover + laminating doff
- Ukuran A5 isi 80 lembar
- Jilid ring (3 Ring) bisa isi ulang

Jenis kertas nya juga bisa pilih :
- Bookpaper (krem garis / polos)
- HVS warna (pink, biru, kuning, hijau) garis / polos
- Kertas coklat polos

Isi kertas bisa dicampur dan pengerjaannya hanya 2 hari.

So, tunggu apalagi? Yuk order notebook di RETISHE NOTEBOOK sekarang juga :)

IG : retishenotebook
Line @ : @goj3553k




Monokrom

Salah satu lagu Tulus di album Monokrom yang liriknya luar biasa :)

Entah kenapa, banyak yang mengartikan lagu ini sebagai lagu dari Tulus untuk Teman Tulus hehe. Semoga memang benar begitu ya, Bang :)



Lembaran foto hitam putih / Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu /
Kali pertama di hidupku / Manusia lain memelukku /
Lembaran foto hitam putih / Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu /
Kue coklat balon warna warni / Pesta hari ulang tahunku /
Di mana pun kalian berada / Kukirimkan terima kasih /
Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah /
Kau melukis aku / Lembaran foto hitam putih /
Kembali teringat malam kuhitung bintang-bintang /
Saat mataku sulit tidur / Suaramu buatku lelap /
Kita tak pernah tau berapa lama kita / Diberi waktu /
Jika aku pergi lebih dulu jangan lupakan aku /
Ini lagu untukmu / Ungkapan terimakasihku /
Lembar monokrom hitam putih /
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku /
Tak akan kumengerti cinta / Bila bukan karena hati baikmu